"Jangan pernah lakukan itu lagi." Suara Irina sedikit tercekat dan marah.
Perasaannya berkecamuk. Antara marah, kesal, sedih dan takut. Maxime benar-benar beruntung berada di ranjang rumah sakit karena itu berhasil membuat Irina melupakan rasa kecewanya pada pria yang sudah ingkar janji. Lagipula memang itu kan rencana pria gila ini!
"Kau masih marah padaku?" Tanya Maxime pelan.
"Kau masih bisa mengkhawatirkan kemarahanku saat dirimu seperti ini?" Irina makin jengkel mendengar pertanyaan Maxime."Jangan lakukan hal bodoh ini lagi."
"Jika itu berhasil membuatmu memaafkan kesalahanku, aku akan melakukannya walaupun tidak enak rasanya berbaring disini karena itu membuatku kesusahan menyentuhmu."
Dia punya cara yang ekstrim dalam meminta maaf. Irina menghela napas. Lagipula Dominic benar tentang klan nya yang terlahir sebagai psikopat gila secara turun temurun. Mereka tidak hanya berani melukai orang lain namun diri sendiri juga. Seolah sudah berteman dengan yang namanya rasa sakit.
"Tadi pagi aku sedikit mengantuk saat menyetir." Maxime mengusap bibir Irina menggunakan ibu jarinya.
"Apa kau tidak tidur semalam?"
Maxime memilih diam sebagai responnya. Bola matanya terus menikmati wajah cantik Irina.
"Kenapa tidak tidur?"
"I have lot of things to think, amor."
"Kalau begitu tidurlah sekarang." Ujar Irina. Nadanya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Irina pun turun dari ranjang untuk duduk di sofa sebelum Maxime menarik tubuh wanita itu hingga terjerembab di dadanya kini. Irina terkesiap dengan mulut terkatup dan mata membelalak.
"Aku tidak ingin tidur sendiri." Dengan sebelah tangannya yang tidak diperban, Maxime mengangkat tubuh Irina ke ranjang hingga kini mereka tidur berdampingan. Maxime bergeser sedikit lebih ke bawah agar ia bisa meletakkan kepalanya di dada Irina.
Irina membiarkan Maxime memeluknya meskipun ia sedikit ngeri dengan kondisi tangan Maxime. Ia takut jika salah gerak, kondisinya jadi bertambah parah.
Mata Irina menerawang ke langit-langit. Detak jantungnya bergemuruh di dalam rongga dadanya dengan kepala Maxime tertidur disana. Ketakutannya semakin menjadi-jadi. Ia bagai berada di dalam sebuah labirin gelap tak tentu arah. Ia ingin keluar dari sana namun tak tau harus mengambil jalan yang mana. Setelah melihat kegilaan Maxime hari ini, Irina mulai memahami sesuatu. Dibesarkan tanpa seorang ibu mungkin adalah pemicu sifat Maxime tidak paham bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik.
Ia trauma dengan yang namanya kehilangan dan ditinggalkan.
"Jangan marah lagi padaku," gumam Maxime pelan."Maafkan aku jika sudah membuatmu kecewa. Aku tidak bisa membiarkan orang seperti Pedro merecokimu dengan obat-obatan terlarang."
"Tapi kau tidak perlu menyakiti dirimu sendiri hanya untuk mendapatkan maafku." Suara Irina terdengar pelan."Rasanya kemarahanku bertambah dua kali lipat saat ini."
"Then punish me." Bisikan sensual Maxime mengantarkan sengatan listrik yang menggelitik di sekujur tubuh Irina."I would like to feel your punishment."
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
RomanceThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
