Chapter 29 : His world

106K 9K 1.4K
                                        

Irina merenung saat ia membuka mata dan tidak menemukan Maxime di sisinya. Ia terbangun sendirian di ranjang yang berantakan bekas percintaan mereka semalam. Saat matanya melirik ke arah jam, sudah pukul dua siang. Irina mengambil napas, kembali mengingat apa yang dikatakan Maxime sebelum ia menutup matanya akibat kantuk yang menyerang.

Everything i have done to you is my way of saying that i am in love with you.

Apakah itu adalah sebuah ungkapan cinta? Tapi kenapa tidak ada suka cita di dalam kalimat Maxime? Irina masih mengingat bagaimana nada pria itu saat mengucapkannya. Pelan, tertekan dan tulus di waktu yang sama. Irina juga masih dapat mengingat dengan jelas bola mata mengkilap Maxime dan raut wajah yang tersiksa disana.

Sekali lagi Irina menghela napas.

Satu hal yang ia sadari bahwa kata cinta Maxime tetap berhasil membuat jantungnya berdebar dan pipinya merona saat ini. Ia menarik selimut lebih ke atas, menikmati udara sejuk dan sisa-sisa kantuk yang masih membungkus sarafnya. Dari jendela, ia dapat melihat penampakan laut yang begitu biru dengan hamparan pasir indah berwarna coklat muda, nyaris pink. Terlalu indah disini. Irina baru menyadarinya.

Kemudian indera penciumannya menangkap bau yang begitu sedap dari arah luar. Pintu kamar ternyata tidak di tutup. Irina bangun dari baringannya, meregangkan otot sebentar sebelum mandi dan ergh... harus pakai lingerie lagi. Ia pun berjalan keluar kamar mengikuti arah bau tersebut. Ada rasa senang saat ia melihat sosok pria yang sedang memegang spatula di depan kompor. Maxime terlalu sempurna dengan dada bidang dan celana jeans biru tua yang membungkus kakinya.

"Maxime...?" Panggil Irina serak.

Maxime menoleh."Sudah bangun, sayang?" Ia meletakkan spatula lalu menghampiri Irina untuk merengkuh wajahnya, segera menyatukan bibir mereka berdua."Kita melewatkan sarapan."

Irina melirik ke belakang Maxime, ke arah wajan dengan daging panggang."Aku tidak mau makan sayur." Irina langsung menggeleng saat melihat tumpukan sayur di atas pantry.

"Kau harus." Maxime kembali ke kompor untuk mengangkat dagingnya.

"No!" Irina merebut piring yang baru saja diisi dengan potongan daging lezat tersebut."Aku ingin berhenti menjadi kambing. Lagipula aku kan sudah sembuh."

"Siapa bilang kau boleh berhenti makan sayur walaupun sudah sembuh?" Maxime mengangkat tubuh Irina ke pantry lalu masuk di antara pahanya sehingga sekarang wajahnya sejajar dengan wajah Irina ."Semuanya demi kesehatanmu. Aku tidak mau kau sakit karena aku yang akan menderita karena tidak mendapatkan jatah ranjangku."

"Ternyata kau memang punya tujuan untuk kepentinganmu sendiri saat memberikan perhatian padaku." Irina memutar matanya, lalu mencicipi daging tersebut, mengunyahnya pelan untuk menikmati rasanya yang begitu lezat. Ia sudah sangat kelaparan dan daging panggang ini sangat amat menggugah selera!

"Bagaimana rasanya? Kau suka?"

"Aku tidak percaya kau pandai memasak."

"Itu adalah salah satu keahlianku selain pandai memuaskanmu di ranjang." Goda Maxime di telinga Irina.

Dan pipi Irina selalu memerah saat mendengar perkataan yang menjurus ke arah sana dari bibir Maxime. Lama-lama ia terbiasa dan akan merindu jika tidak mendengarkannya.

"Ayahku terbiasa memasak akibat tidak memiliki istri sehingga aku pun jadi meniru segala hal yang ia lakukan." Maxime menyelipkan anak rambut Irina ke belakang telinga."Dan aku pernah bekerja paruh waktu sebagai kitchen crew di cafe tempat kita makan malam semalam."

"Benarkah?" Irina menatap wajah Maxime sedikit lebih lama. Ia tidak pernah tau pria tampan nan bergelimang harta ini membutuhkan pekerjaan paruh waktu.

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang