Keesokan paginya Irina terbangun oleh kenyataan bahwa Maxime tidak ada di sebelahnya. Mata Irina belum terbuka namun kesadarannya sudah kembali, dan tangannya meraba-raba. Ia menghela napas kecewa.
Di tinggalkan lagi?
Kemudian sekelebat ingatan tentang dirinya yang sedang hamil pun menyusup masuk. Ia masih tidak percaya itu. Ia masih tidak percaya ada kehidupan lain di dalam dirinya. Tidak hanya satu namun dua. Sebuah senyum terukir di bibirnya, namun rasa khawatir tidak sepenuhnya hilang walaupun reaksi Maxime kemarin itu sungguh menenangkan. Irina ingat, saat dirinya keluar dari ruangan dokter dan memberitahu Maxime tentang kehamilannya, pria itu langsung memeluknya erat dan tak berhenti mencium wajah Irina.
Seketika rasa khawatir Irina berubah menjadi tawa lucu. Malam sudah mulai larut saat mereka tiba di apartemen sehingga keduanya pun tertidur setelah bercakap-cakap sebentar. Dan sekarang, Maxime tidak ada disana. Irina kembali menghembuskan napas dan mengisi stok rasa sabar sebanyak-banyaknya dalam dadanya.
Mungkin ada pesta lainnya yang harus ia hadiri bersama Carla.
"Buenos días, mi amor."
Irina sontak membuka matanya saat mendengarkan suara bariton yang membuat tubuhnya mendesir begitu saja. Ia berbalik sehingga dapat melihat pria yang sedang membawakan sebuah nampan. Keringat tampak membasahi dahi dan dadanya yang telanjang, membuat kulit berwarna perunggu itu tampak mengkilap. Otot-ototnya begitu menggugah selera sehingga Irina tak berhenti mengagumi pahatan dewa yunani tersebut. Tampaknya pria itu baru selesai berolahraga.
"I thought you are still sleeping." Maxime mengusap rambut Irina sambil mendaratkan ciuman di bibir wanita itu, lalu turun ke bawah untuk memberi sapaan pada buah hatinya di dalam perut Irina.
"Aku pikir kau pergi lagi." Cicit Irina.
"Aku tidak mau melihat hadiah-hadiah lainnya dari Damien jika aku melakukannya lagi."
Benar, kan? Maxime akan terus mengungkit soal Damien. Irina mendengus pelan.
"Tapi kupastikan itu tidak akan terjadi lagi," sebuah seringai misterius tampak di wajah Maxime saat ia mengatakan kalimat itu."Sekarang saatnya sarapan dan minum vitamin."
Dengan tangannya Maxime membantu Irina bangun dari tidurnya. Shit, tali tank top Irina yang jatuh dari pundak, membuat gairah Maxime hidup. Di pagi hari, gairah seksualnya benar-benar tidak dapat di kontrol sama sekali.
"Kenapa semuanya sayur?" Irina mendengus ngeri melihat nampan yang berisi sayuran hijau, tomat, dan segala macamnya.
"Ini demi kesehatan bayi-bayi kita, dan juga calon ibu dari anak-anakku, sayang." Maxime menyumpalkan sayuran itu ke dalam mulut Irina.
"Aku tidak bisa mengunyah." Irina berkata jujur. Gelombang rasa mual menyerang lagi. Namun ia menahannya sekuat tenaga. Tidak boleh muntah! Bagaimanapun ia harus makan demi si kembar.
Tapi mendadak, Maxime segera memasukan jarinya ke mulut Irina lalu mengeluarkan kembali bayam yang ia sumpal.
Irina meneguk segelas air putih lalu mengambil buah tomat."Memang harus dimakan seperti ini? Mentah-mentah?"
"Sayuran segar lebih banyak nutrisinya."
Oh sepertinya selama sembilan bulan Irina akan menjadi hewan herbivora.
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
RomanceThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
