Chapter 13 : His jealousy

153K 10.7K 1.5K
                                        

Pagi membangunkan Irina. Tubuhnya meringkuk di kasur. Ia tidak tau apa semalam ia tertidur atau hanya melamun sepanjang malam. Maxime tidak mengganggunya setelah percintaan tiga jam kemarin berakhir. Ia keluar rumah, mengunci Irina di dalam kamar. Makanan yang pria itu hidangkan belum tersentuh sedikitpun. Tenaga Irina terkuras banyak beberapa hari ini, dan puncaknya adalah kemarin. Namun rasa lapar terabaikan begitu saja.

Siapa peduli dengan makanan saat kau mungkin akan segera mati?

Fisik dan batin Irina masih lemah sehingga ia hanya berguling pelan di kasur dengan mata menerawang pada nampan berisi roti bakar dan susu. Pria itu sudah mengganti makanan semalam. Irina tak menyadari kapan Maxime masuk.

Bicara soal mati, rasanya itu terlalu pengecut. Irina pernah bertanya pada Alexa apa yang ia lakukan setelah kejadian tragis yang menimpanya itu. Alexa saat itu masih berusia tujuh belas tahun. Ia hanyalah seorang gadis polos gila belajar. Kegiatan belajar terkadang memakan waktu hingga malam. Dan malam itu, ia pulang lewat dari jam sembilan, berjalan di dalam gang sempit untuk mengambil jalan pintas menuju rumahnya.

Kejadian nahas itu pun terjadi saat ia melewati sekelompok pria yang tengah mabuk. Alexa diperkosa oleh tiga orang pria malam itu. Tetangga bahkan keluarganya mengucilkan dirinya karena dianggap semua itu terjadi karena Alexa pulang larut malam. Alexa sempat depresi dan berencana mengakhiri hidupnya, terlebih saat ia menyadari dirinya hamil. Ia bahkan tidak tau siapa ayah dari anaknya. Setelah melahirkan, Alexa pun pindah ke Melbourne untuk memulai hidup baru. Ia kembali melanjutkan kuliah hukum dengan biaya dari tabungan serta kerja paruh waktunya. Yah, hidupnya sangat tragis tapi dia bisa bertahan karena punya mindset hidup belum berakhir jika belum bahagia dan kebahagiaan selalu ada di suatu tempat.

Hal itu membuat Alexa melupakan semuanya dan membuka lembaran baru, merobek segala hal yang menyakitkan di halaman sebelumnya, meremas dan membuangnya jauh-jauh. Tujuan hidupnya sekarang hanya satu, bahagia bersama anaknya.

Air mata Irina kembali menetes saat ia memejamkan mata. Ia akan mencoba berpikir jernih.

Jika Maxime sudah merenggut kesuciannya, Irina tak boleh ikut-ikutan merenggut kebahagiaannya sendiri bukan? Berlarut-larut dan berkabung hanya akan menghancurkanmu lebih parah. Sekarang terserah padamu, kau ingin hancur, atau kau ingin bangkit. Hidup selalu punya pilihan. Kau yang menentukannya. Korban pemerkosaan itu tidak salah, mereka berhak bahagia. Jika orang memandangmu rendah, jangan biarkan kau sendiri menganggap dirimu juga rendah. Ini hidupmu, kau yang menjalaninya, bukan orang lain.

Bicara memang gampang. Irina belum sekuat itu. Tak secepat itu untuk bangkit. Terkadang menangis diperlukan. Sehingga ia pun memilih untuk tidur lagi. Siapa tau ini hanya mimpi.

Namun saat ia memejamkan mata, bayang-bayang wajah Maxime kembali menghantamnya.

"Kau sudah bangun?"

Sontak mata Irina terbuka. Maxime duduk di tepi ranjang, sudah rapi dengan pakaiannya.

"Kenapa tidak makan? Semalam juga tidak makan."

Irina tak akan menjawab.

"Kau bisa sakit, sayang."

Irina tidak peduli jika harus sakit bahkan ia berharap pingsan berhari-hari.

Pria ini begitu menawan, menggoda, seksi dan sempurna. Tubuhnya terlihat begitu tegap dalam balutan kemeja berwarna biru gelap dan celana hitam. Raut wajah dingin dan tegas itu begitu karismatik. Namun siapa yang menduga bahwa pria ini punya jiwa yang begitu hitam?

"I want you to eat." Maxime mengusap pipi Irina yang basah."Sudah cukup acara menangisnya."

Berani sekali bajingan ini bicara seperti itu?

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang