Chapter 8 : His dark obsession

147K 11.3K 1.6K
                                        

Mata Irina buram oleh air mata ketika ia sedang mengetik sesuatu di laptopnya. Untung Maxime tidak menyita benda itu juga. Tidak, dia menyitanya. Untung Irina memiliki dua laptop.

Dengan punggung tangannya ia mengusap mata, menyedot ingus kemudian menghirup inhaler. Namun begitu, air mata masih tetap keluar seiring dengan rasa sedih di dalam dadanya yang belum berkurang juga. Pandangannya kembali buram tapi ia terus mengetik email untuk Alexa yang tak kunjung terbalas.

Irina memandangi pintu, takut jika Maxime tiba-tiba datang. Padahal ia sudah menguncinya dari dalam, tapi tetap harus waspada.

Sebuah email masuk mengejutkan Irina.

From : Alexa@lawfirm.com
Hei ada apa? Kenapa aku harus menghubungi polisi? Apa terjadi sesuatu? Kau dimana?

Ada yang menyusup ke dalam rumahku. Aku butuh bantuanmu. Dia menyita ponselku

From : Alexa@lawfirm.com
Tapi kau tidak terlihat seperti seseorang yang berada dalam bahaya.

Tolong hubungi polisi sekarang juga, Alexa. Nanti aku akan menceritakannya

From : Alexa@lawfirm.com
Sungguh, aku tidak mengerti sama sekali.

Please! Aku benar-benar butuh bantuanmu. Waktuku tidak banyak. Mungkin dia akan menyita laptop ini juga sebentar lagi

From : Alexa@lawfirm.com
Baiklah aku akan menghubungi polisi sekarang.

Thanks

Irina segera menutup laptop dan meletakkan benda itu di bawah ranjangnya. Ia melirik jam sekilas, sudah pukul sembilan malam. Sebelum Maxime kembali ke kamarnya, ia harus segera keluar. Pria itu tampak sedang duduk di sofa dengan kaki bersilang sambil merokok. Ada seorang pria lain yang berdiri sopan di belakangnya dan yang satunya lagi duduk berhadapan dengan Maxime.

Berani sekali pria itu membawa masuk temannya ke dalam rumah Irina tanpa izin? Tidak apa-apa, sebentar lagi polisi juga akan datang untuk mengangkut semua pengacau itu.

"Jadi bagaimana keputusan Anda?"

"Ikuti saja prosedur dari pengadilan. Tidak perlu menuntut balik sebelum mendapatkan bukti yang benar-benar akurat."

"Baiklah."

"Aku perlu istirahat, kita lanjutkan besok."

Liam mengangguk sambil membereskan dokumen yang ada di atas meja. Pria itu berdiri lalu membungkuk sedikit."Kalau begitu aku permisi."

Sepeninggal Liam, Maxime kembali memperhatikan gerak gerik Irina di dapur. Gadis itu sedang memunggunginya, mencari makanan. Dengan piyama satin berwarna putih gading, Irina tampak begitu sederhana.

Rasanya apapun yang dipakai gadis itu tetap saja menggairahkan di mata Maxime. Apalagi sampai sekarang ia masih tak bisa menyingkirkan bayang-bayang Irina basah di kamar mandi dalam balutan pakaian dalam. Payudaranya yang sintal dan kulitnya yang begitu bersih... ah Maxime tak sabar melucuti setiap helai benang yang menempel di tubuh Irina.

"Mana makan malamnya?" Suara lembut Irina membuyarkan lamunan seks Maxime.

Irina heran melihat meja makan yang kosong melompong. Bukannya berharap, tapi dari cara Maxime mengajaknya makan malam bersama, seolah semua makanan sudah terhidang saat Irina keluar dari kamar.

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang