The Patlers #3 ( Maxime & Irina )
Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah satu jam Irina menunggu di kamar. Bahkan ia sudah selesai mandi dan kembali memakai kemeja Maxime tapi pria itu belum kelihatan batang hidungnya. Dia mengatakan pada Irina akan pergi membeli pakaian dalam. Sebenarnya Irina risih jika pria itu yang membelinya tapi ia sedang tidak berada dalam kondisi ingin berdebat karena perutnya juga sedang lapar.
Memberanikan diri, ia pun keluar dari kamar. Rumah ini sepi. Entah kemana perginya pria itu. Ia pun melangkahkan kakinya ke dapur untuk mencari sesuatu yang dapat di makan. Saat dirinya mengunyah roti, mendadak ia punya pikiran untuk melarikan diri. Pintu halaman belakang terbuka lebar. Irina mengusap bibirnya kemudian berjalan ke sana. Seperti halaman pada umumnya, disana hanya ada beberapa tanaman dan sebuah kolam.
Tapi itu bukan kolam biasa sepertinya. Air nya tidak biru. Ia pun berdiri di tepi kolam, menatap ke dalam air gelap. Pergerakan air menandakan adanya kehidupan lain di dalamnya. Irina pun berjongkok untuk melihat lebih jelas hewan macam apa yang ada di dalam sana.
Ah paling hanya ikan lele.
Tepat saat Irina kembali bangun, jantungnya mendadak seperti akan copot karena kakinya terpeleset lantai yang licin. Ia nyaris jatuh ke dalam kolam andai tidak ada tangan lain yang menariknya.
Irina butuh waktu untuk menenangkan jantungnya yang masih menggebu-gebu karena kaget. Pedro melepaskan tangannya dari lengan Irina lalu mendekat ke tepi kolam. Pria itu membawa satu ember berisi... ayam yang sudah mati.
"Apa itu?" Tanya Irina.
"Makanan piranha."
"Piranha?"
Pedro melemparkan ayam yang sudah mati ke dalam kolam tersebut sehingga Irina bisa melihat banyak ikan yang berebutan. Darah dan air keruh bercampur menjadi satu. Konon katanya ayahnya juga pernah memelihara piranha namun karena ibunya tak suka, Abraham pun berhenti memelihara hewan itu.
"No tienes miedo?" Tanya Pedro sambil mendongak untuk menatap Irina."Apa kau bisa berbahasa Spanyol?"
"Ya," jawab Irina."Ibuku punya darah Spanyol."
"Tapi kau tidak terlihat seperti orang Spanyol." Pedro memindai wajah Irina kemudian ia berdiri setelah melemparkan ayam terakhir ke dalam kolam.
Irina melirik ke dalam kolam sekilas sebelum ia memandangi wajah Pedro."Sudah lama kau bekerja di rumah ini?"
"Aku tidak bekerja disini. Hanya sering datang untuk membantu ayahku melakukan pekerjaannya."
"Sepertinya ayahmu sudah lama bekerja disini?"
"Sekitar tiga puluh tahun lebih. Sebelum aku lahir." Pedro duduk di kursi dekat dengan kolam sambil menghidupkan rokoknya.
"Kalau begitu kau pasti sudah sangat mengenal Maxime."
"Por supuesto, cariño." Pedro menghembuskan asap rokoknya."Dia bahkan tidak pernah membawa istrinya ke rumah ini. Apa jangan-jangan kau hanya seorang pelacur?"