Chapter 25 : Crazy for her

120K 9.2K 2.1K
                                        

Sepanjang malam Irina memilih untuk mogok bicara dengan Maxime. Pria itu pun tak tau harus bagaimana. Ia menyesal karena sudah ceroboh. Harusnya ia mengunci kamar agar Irina tidak keluar untuk menyaksikan kejadian itu. Tapi apa boleh buat, semua sudah terlanjur terjadi. Maxime hanya dapat berdiam diri tanpa ingin membela dirinya. Jadi keduanya sama-sama diam di ranjang yang sama. Berkali-kali Irina menepis tangan Maxime yang memeluknya namun pria itu semakin mengeratkan dekapannya sehingga Irina memilih untuk pasrah.

Biasanya mereka akan bertarung jika sudah begini. Irina sedikit heran kenapa Maxime juga memilih untuk diam. Seperti bukan dirinya. Namun di sisi lain ia bersyukur karena tidak harus menjadi banteng malam ini. Tenaganya benar-benar terkuras semenjak ia bertemu dengan Maxime. Hidupnya dulu damai tanpa harus melihat seseorang ditenggelamkan ke dalam kolam berisi ikan piranha.

"Apa kau sangat marah?"

"Aku hanya sedang tak ingin bicara denganmu."

"Jangan lama-lama marah padaku, sayang. Aku berjanji tidak akan mengulanginya."

"Apa Pedro mati?" Tanya Irina dengan nada takutnya."Aku sudah bilang tidak mau seseorang mati karena aku."

"Jika dia mati, itu karena ulahnya sendiri."

Sejujurnya Irina ingin setuju, tapi tetap saja ia tidak mau terlibat dalam kematian Pedro. Jika dia mati, matilah di suatu tempat yang lain.

"Jadi dia mati?"

"Belum," jawab Maxime."Hanya saja wajahnya mungkin sedikit hancur."

"Apa aku boleh mengunjunginya?" Irina dapat merasakan tubuh Maxime sedikit menegang, pertanda bahwa ia tak suka dengan permintaan Irina."Aku takut dia menyimpan dendam padaku. Aku hanya ingin berdamai saja dengannya."

"Tidak perlu."

"Kau sudah ingkar janji dan membuatku malas mempercayaimu setidaknya kau mau menuruti keinginanku yang satu itu agar aku merasa tenang."

"Setelah malam ini dia tidak akan pernah mengganggumu lagi."

"Sebenarnya aku sedikit terhibur bicara dengan Pedro terlepas dia adalah seorang pengedar."

"Jadi kau merasa sedih karena tidak dapat berbicara lagi dengan laki-laki bodoh itu?"

Irina tidak menjawab. Yah, tidak di pungkiri bahwa Pedro remaja yang asik diajak bicara. Jika Maxime menyekapnya disini, hal yang Irina inginkan adalah memiliki seorang teman yang bisa diajak bicara.

Tapi yasudahlah.

Irina memilih untuk tidak melanjutkan percakapan itu hingga pagi pun datang dan ia terbangun sendirian. Setelah membasuh muka, ia turun ke bawah namun bukan Maxime yang ia temukan di dapur melainkan Dominic.

"Buenos días." Sapa Dominic sekenanya sambil mengoleskan selai pada roti tawar.

Irina menatap sekeliling, mencari pria psikopat itu namun tampaknya ia tak ada di rumah. Atau berada di suatu tempat di rumah ini. Sambil menarik kursi meja makan, Irina memandangi Dominic yang tampak santai. Apa dia tidak tau tentang adiknya yang nyaris mati oleh gerombolan piranha?

"Dia tidak ada di rumah." Dominic memberitahu seolah menjawab pertanyaan yang ada di kepala Irina sembari menarik kursi setelah menyerahkan roti tadi untuk Irina."Sekarang makanlah."

"Aku bisa membuat roti sendiri sebenarnya, kau tidak perlu repot-repot melakukannya."

"Aku dibayar untuk ini."

Irina lumayan terkejur namun tak mengatakan apa-apa. Detik berikutnya ia pun mengambil roti tersebut lalu menggigitnya jengkel. Entah bagaimana ia bisa dikelilingi oleh berbagai pria aneh.

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang