Chapter 32 : His plan

94.7K 9.7K 2.4K
                                        

Mandarin Oriental Hotel, NYC, USA

Seorang wanita berdiri di depan pintu kamar sebuah hotel. Tubuh langsingnya di balut oleh gaun ketat berwarna baby blue. Rambut coklatnya diikat menyerupai ekor kuda yang cantik. Ia menunggu penghuni kamar membuka pintu sembari mendengus pelan. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Wanita itu langsung menyeruak masuk sambil menarik kerah kemeja pria yang membukakan pintu. Ia mendorong tubuh pria itu hingga punggungnya menempel di dinding. Pria itu terkekeh melihat gairah seksual yang menggebu-gebu.

"Kau sangat bersemangat."

Wanita itu membungkam bibir si pria sambil melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Kini pria tersebut bertelanjang dada. Dengan tatapannya yang sensual, wanita itu pun mengecup dada bidang si pria, terus turun hingga kini ia berjongkok di bagian tengah tubuh pria tersebut. Ia langsung mengeluarkan benda keras yang terkurung disana, menggenggam erat dengan jemarinya.

Pria itu mengerang sambil menjambak rambut wanita itu saat mulut si wanita mulai mengulum batangnya. Tak tahan lagi, si pria pun menggendong tubuh wanita itu ke ranjang, melucuti pakaiannya, lalu menghujamnya dengan keras hingga desahan demi desahan mulai menggema di ruangan.

"Kau tampaknya buru-buru sekali, Dominic. Aku tidak suka seks yang seperti ini."

"Lucas akan segera tiba di Manhattan. Kita lanjutkan setelah aku selesai dengannya." Dominic terus menghujam liar liang senggama licin tersebut sambil memejamkan mata, menikmati sensasi pelepasan yang harus segera ia keluarkan."Kau masih pakai kontrasepsi, Karin?"

"Tidak."

Dominic mengerang lalu mencabut batangnya dan meledakkan cairan spermanya di dalam mulut Karin. Pria itu terengah-engah sebelum merebahkan dirinya di sebelah Karin. Sementara Karin tersenyum nakal sambil mengusap bibirnya dari sisa-sisa cairan kental tersebut. Kemudian ia bergeser lebih dekat pada Dominic, meletakkan kepalanya di dada pria itu.

"Aku sangat merindukanmu." Dominic mengecup kening Karin.

"Sebenarnya apa yang sedang kalian kerjakan hingga kau tak punya waktu lagi untukku? Jangan bilang tambang minyak terbakar menyita waktumu hingga 24 jam dalam sehari. Aku tau masalah itu bisa diselesaikan oleh Liam."

Dominic menoleh pada Karin yang sedang menatapnya. Menghela napas kasar, kemudian menjawab."Semua ini gara-gara kau."

"Apa maksudmu?"

"Kau memperlihatkan foto Irina pada Maxime hingga dia sekarang tergila-gila pada adikmu."

Karin butuh waktu beberapa detik untuk dapat mencerna kalimat Dominic. Ia pun langsung bangun dari baringannya, duduk dengan wajah tak percaya.

"Ya," jawab Dominic."Sekarang mereka terlibat dalam sebuah hubungan yang rumit."

"Bagaimana bisa?"

Dominic pun bangun dari baringannya, lalu mengambil pakaian yang berceceran di lantai untuk berbenah diri.

"Dominic, kau tidak bercanda? Maxime dan Irina?"

"Gara-gara itu pekerjaanku bertambah banyak sehingga sulit bagiku untuk mencuri waktu bertemu denganmu." Dominic berkata dengan sebuah senyum tipisnya.

"Tapi bagaimana dengan Carla? Astaga, jangan buat adikku menjadi orang ketiga di dalam pernikahan mereka." Karin turun dari ranjang, berdiri di depan Dominic dengan wajah tidak suka.

"Maxime tidak mencintai Carla, dan Carla tidak mencintai Maxime."

"Tapi bagaimanapun mereka tetap suami istri. Aku tidak ingin kau ikut campur dalam masalah mereka, Dominic. Apalagi sekarang kau berusaha menyatukan Irina dan Maxime?" Karin menekan pelipisnya yang sakit."Apa kau sudah hilang akal sehatmu?"

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang