Chapter 34 : She is everything for him

100K 9.7K 2.9K
                                        

Manhattan, NYC, USA

Begitu mendarat kembali di Manhattan keesokan paginya, Maxime langsung melaju ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kemudian ia bertolak ke rumahnya di jam makan siang. Entah sudah berapa lama ia tak menginjakkan kaki di rumah bernuansa putih itu hingga saat melangkah ke dalam, ada aura yang tidak menyenangkan disana.

Sebelum Maxime meninggalkan Irina pagi-pagi buta, wanita itu tertidur pulas. Ia sudah mencoba membangunkannya tapi jangan lupa kalau wanita itu adalah kerbau betina. Jika mengingatnya, Maxime tersenyum sendiri. Bahkan ia sempat memotret Irina sebelum pergi. Ah belum apa-apa dia sudah ingin kembali ke Melbourne.

"Maxime?" Suara Carla menghentikan langkahnya yang sedang menaiki tangga. Wanita itu muncul dari dapur."Kemarin aku menghubungimu."

"Hm. Ada perlu apa?"

Carla meletakkan spatula kemudian melepas apron yang sedang ia pakai."Aku hanya ingin bertanya kabarmu. Sudah satu bulan lebih kau tidak pulang ke rumah ini."

Maxime merespon dengan ekspresi datarnya, tidak tertarik dengan perbincangan ini sama sekali.

"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?"

"Hm."

"Aku belum sempat minta maaf dengan benar tentang kejadian terakhir kali," Carla mengatakan dengan nada canggung."Aku benar-benar minta maaf sudah membawa Carlos ke rumahmu. Aku merasa sangat tidak enak padamu setelah hari itu. Kuakui aku keterlaluan. Seharusnya kita saling menjaga satu sama lain tapi aku malah mengacaukannya."

Maxime masih mendengarkan.

"Bisakah kau melupakan kejadian itu?"

"Aku tidak pernah mengingatnya sama sekali jadi tidak perlu membahasnya lagi."

"Kupikir aku sudah sangat gila hari itu."

"Hanya itu yang ingin kau katakan? Karena aku punya hal yang lebih penting yang harus kukerjakan sekarang." Suara berat Maxime terdengar begitu dingin di telinga Carla.

"Umm, kau tidak memberitahu siapapun tentang hari itu, kan?" Tanya Carla hati-hati."Atau kalau kau berniat memberitahu ayahku tentang hubunganku dengan Carlos, kumohon jangan lakukan itu, karena aku sudah berhenti berhubungan dengannya."

Maxime menuruni anak tangga lalu berhenti di depan wanita berambut pirang tersebut."Kenapa kau berhenti? Aku tidak pernah melarangmu untuk berpacaran dengan siapapun selama tidak hamil atau merugikanku."

"Aku tau, tapi aku juga tau perbuatanku salah, karena itu kupikir sebaiknya aku berhenti sebelum hal buruk terjadi." Carla menelan ludahnya.

Maxime dapat melihat ada ekspresi takut dan bimbang di wajah Carla. Maxime tidak peduli itu hingga ia pun memutuskan untuk kembali menaiki tangga.

"Max, ada satu hal lagi."

Maxime kembali berhenti.

"Kau sudah pergi cukup lama, keluargaku mulai curiga kalau kita punya masalah rumah tangga." Carla menghela napas."Aku tau hubungan kita sangat amat rumit. Tapi bagaimana pun kita harus bisa melaluinya sampai akhir, Max."

"Kita tidak perlu melaluinya sampai akhir. Kendali untuk bercerai sepenuhnya ada di tanganmu."

"Mungkin kau pikir itu mudah. Tapi kau tau walaupun kendalinya ada di tanganku, aku tidak serta merta mudah menceraikanmu." Carla menggeleng pelan."Nyawaku ada di tangan ayahku. Dia tidak peduli tentang hati bahkan hidupku selama bisnisnya lancar."

Maxime masih dalam ekspresi tenang dan santai, mendengarkan lanjutan dari tetek bengek percakapan tidak berguna ini.

"Kita benar-benar dituntut untuk melakukan pernikahan ini sampai kontrak berakhir."

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang