Chapter 24 : Broke his promise

109K 9.7K 1.7K
                                        

"Que le diste?"

Suara itu mengagetkan Irina. Ia menoleh ke belakang, melihat kehadiran Maxime yang memasang ekspresi dingin. Entah mengapa ada sedikit perasaan senang saat menyadari bahwa pria itu kembali secepat ini.

Kedua tangan Maxime berada di saku celananya, dengan sorot sedingin es matanya tertuju pada serbuk putih yang berada di tangan Irina. Kemudian mata itu berpindah pada Pedro.

"Te pregunté que le diste." Nada Maxime kini lebih ditekankan.

"Puedes verlo por ti mismo."

"Give it to me, Irina." Geram Maxime. Irina menggigit bibirnya takut."I said give it to me."

Irina menuruti, dan Pedro diam saja.

"Bersyukurlah kau terlahir sebagai adik dari orang kepercayaanku karena itu kau masih hidup sampai detik ini." Kemarahan dalam bola mata Maxime semakin menyala."Tapi aku tidak tau dengan detik berikutnya karena kau benar-benar sudah menyulut emosiku."

Maxime bicara dengan nada datar, menandakan ia sangat amat murka. Seluruh emosinya menumpuk di satu titik. Saat pria itu masuk, Irina mengejarnya di belakang. Maxime berhenti di depan jendela, memunggungi Irina. Untuk beberapa saat keduanya saling diam sebelum Maxime bersuara.

"Apa kau tau apa yang diberikan Pedro untukmu?"

Irina tak berani menjawab.

"Jawab aku."

"Ya."

Jawaban Irina semakin membuat emosi Maxime memuncak. Ia berharap Irina tidak tau karena itu dapat dimaklumi. Tapi nyatanya, wanita itu bukan wanita bodoh yang tidak mengenal obat-obatan terlarang.

"Bermain di club malam, menari di atas meja bar dengan banyak pria, menyeret pria asing untuk tidur bersama, mabuk-mabukkan. Aku masih dapat memakluminya tapi narkotika..." Maxime menjeda kalimatnya.

"Aku tidak akan menggunakannya, aku masih bisa mengendalikan pikiranku." Irina membela diri.

Maxime tertawa geram namun ia tak dapat mengeluarkan kata-kata akibat amarah yang kian menumpuk. Irina dapat melihat kepalan tangan pria itu yang sudah sangat keras, sampai urat-uratnya tampak menyembul di balik kulitnya.

"Aku hanya penasaran dengan isinya, karena itu aku menerima apa yang diberikan oleh Pedro."

"Semua di awali oleh rasa penasaran."

"Yah, aku minta maaf. Tadi bukan diriku." Irina mengalah saja karena ia tau dirinya memang salah.

Mata Maxime terus memandangi wanita itu tanpa berkedip. Permintaan maaf Irina sama sekali tidak membantunya meredakan api yang terus membakar setiap sel yang ada di dalam tubuhnya.

Maxime merengkuh wajah Irina, menatapnya lebih dalam."Apa yang harus kulakukan, Irina? Aku sangat frustasi sekarang."

Irina menelan ludah susah payah sementara cengkraman Maxime terasa kuat di rahangnya. Ia dapat merasakan deru napas yang begitu panas membakar kulitnya.

"A-aku benar-benar minta maaf." Cicit Irina.

"Katakan sesuatu yang lain, sayang." Geram Maxime sambil memejamkan matanya."Katakan sesuatu yang bisa membuat amarahku reda."

Bibir Irina bergetar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya saat ia ketakutan.

"Irina..." geram Maxime.

"Aku tidak tau harus mengatakan apa selain maaf."

Maxime menghembuskan napasnya pelan. Ia membuka mata lalu menatap Irina dengan bola mata sendu."Apa jika aku melepasmu kau berjanji untuk tidak melakukan hal-hal liar lagi?"

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang