XI

171 50 1
                                        

"Balik yuk Sya, udah jam 8 malem ini, mami gue nelpon mulu dari tadi," rengek Avika kepada kedua temannya.

"Huuuuu anak mami huuuu," ledek Arsya dan Azulla bersamaan.

"Yaudah yu balik." Tanpa menunggu persetujuan kedua temannya, Avika sudah terlebih dahulu menarik tangan kedua temannya menuju parkiran mobil.

Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama di sebuah mall ternama di Jakarta. Dari mulai memilih hadiah untuk Alanka, melakukan photoshoot, ngefood bersama dengan menu makanan yang sama, membeli baju dengan merek dan model yang sama, dan jangan lupakan bermain timezone bersama.

Bagi mereka, seberapa lama mereka bersama, berpetualang bersama, mereka tak akan pernah merasa lelah jika dilakukan bersama sama, tetapi jika salah satu diantara mereka diharuskan untuk pulang, mau tak mau merekapun harus pulang.

"Lu yang nyetir La, ngantuk gue pengen tidur di mobil," titah Arsya. Ia melemparkan kunci mobilnya kepada Azulla dan mendapatkan respon tangkapan yang baik.

Azulla mengemudikan mobil dengan perlahan. Menembus keramaian kota Jakarta yang terlihat begitu indah jika dilihat di malam hari.

Mobil convertible merah mengkilap itu dengan otomatis membuka atapnya sehingga semakin terlihat dengan jelas bulan purnama bersinar begitu sempurna dihiasi dengan bintang-bintang kecil yang menemaninya. Sesekali mereka bertiga bersenandung ria, menikmati indahnya suasana malam kota Jakarta.

"Siapa tuh yang tadi bilangnya pengen tidur di mobil tapi pas udah di mobil sibuk mainin hp?" sindir Azulla, sesekali ia menengok ke arah tempat duduk belakang yang ditempati Arsya, sedangkan disamping pengemudi ditempati Avika.

"Males nyetir La, kalo ada temen kenapa harus gue yang nyetir hahah," balas Arsya enteng.

Lihat saja, Azulla yang sedari tadi fokus untuk menyetir sedangkan kedua temannya ini sedang bersantai. Arsya sibuk dengan hpnya dan Avika sibuk dengan camilan-camilan ringannya yang sempat ia beli tadi di mall.

"Ngemil doang banyak, tapi badan depan belakang tepos, kaya triplek berjalan," sindir Arsya yang sedari tadi memperhatikan Avika memakan camilan yang satu ke camilan yang lainnya.

"Lu lagi ngomong sama siapa Sya?" balas Avika, ia melemparkan satu buah camilan yang berukuran kecil ke arah Arsya.

"Lu," kata Arsya singkat.

"Oh... Gue kira lu lagi ngedeskripsiin diri lu sendiri Sya haha," ucap Avika membalas sindirian Arsya.

"Kalo gue berisi nih ya, mana ada yang mau ngasih job ke gue buat pemotretan ngab."

"Kasian, mana masih muda hahaha," kompak Avika dan Azulla.

"Jangan berisik deh, ini jalanannya kok tumben sepi banget ya?" tanya Arsya heran.

Setelah melewati jalan raya, kini mereka melewati jalanan yang sepi, tak ada seorangpun yang terlihat di jalanan ini. Hanya terdengar suara jangkrik yang sesekali bersuara.

"Buru La, naikin gas nya," perintah Avika.

Menuruti apa yang dikatakan Avika, Azullapun segera menancapkan gas nya lebih cepat. Tak ingin ada hal buruk yang terjadi. Namun semuanya nihil, saat mobil melaju dengan cepat, seketika sepuluh motor yang ditumpangi para lelaki menghadang mobil mereka dari depan, Azulla pun mengerem mobilnya secara mendadak tak ingin menabrak salah satu dari sepuluh motor itu.

"Gaess mereka siapa? Gimana ini?" panik Azulla.

"Ini kita dihadang gitu sama cowo? Ih ga elit banget ko ngehadangnya di jalanan yang sepi sih," ucap Arsya.

Love in ChildhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang