X

184 50 4
                                        

"Persiapkan segalanya. Kehancuran perlahan akan menghampirimu. Tak semua yang putih selamanya suci, dan tak semua yang hitam selamanya kotor. Musuh terdekat dalam dirimu bukanlah lawanmu, tetapi dirimu sendiri atau orang yang kau anggap dekat," ucap seseorang dibalik telepon.

"Bangsat! Siapa lu dan mau apa lu nelpon gue?" Emosi Argen mulai menaik, ia tak tau siapa orang yang meneleponnya ini, nomornya pun tak ia kenali.

"Tidak saya katakan kau juga tau. Revenge," balas pria dibalik telepon itu, belum sempat Argen bicara, pria itu langsung mematikan panggilannya.

"Revenge? Balas dendam?" gumam Argen.

****

"Heii!" teriak Daniel, tangannya menggebrak meja markas sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.

"Allahuakbar setan!!" ucap Raynald.
"Gak kaget gue haha," sambungnya lagi.

"Apaan si anjir lu Niel bikin orang jantungan aja," sewot Arka, salah satu anggota Barnet yang berotot kekar, dengan tubuhnya yang tinggi dan sedikit berisi.

Anggota geng Barnet saat ini sedang berkumpul di markas mereka. Setelah pulang sekolah tadi, Argen meminta seluruh anggotanya untuk berkumpul tanpa terkecuali.

Sebenarnya ini bukan kemauan Argen, melainkan Daniel. Sepertinya sangat penting, biasanya Daniel hanya akan membicarakan sesuatu hal langsung kepada Argen, tapi entah kenapa untuk persoalan yang ini Daniel ingin memberitahukan seluruh anggota geng Barnet tanpa memberitahu Argen terlebih dahulu.

"Apa yang mau lu omongin Niel?" tanya Argen to the point.

Sebelum menjawab pertanyaan Argen, Daniel mematikan puntung rokoknya lalu membuangnya asal. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya membuka ikon album dan menunjukkan foto seorang lelaki yang sedang menaiki motor dengan kepalanya dibaluti hadband.

"Nih," ucap Daniel. Terlebih dahulu ia menunjukkan foto itu kepada Argen selaku ketua lalu setelah itu kepada setiap anggota yang berada di dalam markas.

"Rico? Bukannya dia di penjara?" tanya salah satu anggota Barnet yang berambut ikal dengan fostur tubuhnya yang seperti balon.

Erico Axcelio, pria berusia 18 tahun yang sudah pastinya lebih tua dari anggota geng Barnet. Ia kerap dipanggil Rico, pimpinan geng Revender angkatan VII yang kejam dan sering keluar masuk penjara karena selalu melakukan tindakan kriminal. Pernah sekali, Rico dan geng nya mengkroyok salah satu anggota geng Barnet angkatan VII sampai kehilangan nyawanya. Hingga sampai saat ini geng Barnet dan geng Revender masih saling bermusuhan dan tak akan pernah ada kata perdamaian.

"Dapet darimana foto itu?" tanya Argen.

"Kemarin, gue disuruh nyokap gue nganter pesanan strawberry cake ke kafe Terserah, nah pas gue mau keluar dari kafe itu, gak sengaja gue liat tuh si Rico dipinggir jalan sendirian, jadi gue foto tuh dari jauh buat ngasih tau ke kalian," jelas Daniel.

Argen bangkit dari duduknya, kini ia berdiri dihadapan anggota geng barnet yang sedang berkumpul membentuk lingkaran. Kedua tangannya ia lipatkan di depan dada. Ia menghempaskan jaket kulit hitamnya asal, menyisakan kaos oblong putih dengan kalung hitam menggantung di lehernya.

"Tadi ada yang nelpon gue. Nomornya gak gue kenalin. Dia bilang revenge, tapi gue belum tau revengenya itu buat gue sendiri atau buat geng ini," jelas Argen.

"Revenge? Dalam hal apa? Kitakan gak kenal orang yang nelpon lu bos," ujar Raynald, jari tengah dan telunjuknya mencapit puntung rokong yang tersisa hanya sebagian.

"Kita emang gak kenal. Tapi orang itu kenal kita," sahut Argen jelas.

"Rico? Kenapa gue mikirnya yang nelpon lu itu Rico bos, bisa jadikan?" kata Titan. Semuanya diam, namun sebagian anggota ada yang mengangguk menyetujui ucapan Titan.

"Kita gak tau itu siapa, musuh perlahan menampakkan dirinya kembali. Kita harus lebih waspada dan hati hati," ucap Argen.

Keadaan markas seketika menjadi hening. Sibuk dengan pemikirannya masing masing. Apakah ini perbuatan Rico? Tetapi apa yang dikatakan orang yang dibalik telpon itu tak ada sangkut pautnya dengan Rico? Kata kunci nya hanya satu, "Musuh terdekat dalam dirimu bukan lah lawanmu, tetapi dirimu sendiri dan orang yang kamu anggap dekat,"

****

"Sya, tumben lu nyuruh kita dateng ke rumah lu, ada apaan dah?" tanya Azulla, tangannya sibuk merapihkan surau hitamnya yang tergerai panjang.

"Kalian harus anterin gue ke suatu tempat. Gue pengen beli sesuatu buat seseorang yang selama ini gue tunggu hadirnya. Mau ya?" Arsya memamerkan pupy eyes nya itu membuat wajahnya semakin menggemaskan.

"Bentar bentar, seseorang yang lu tunggu?" tanya Avika penasaran.

"Yang lu maksud itu Alanka Sya?" tanya Azulla.

"Dari dulu gue emang selalu yakin. Apapun yang gue tunggu dengan niat dan keyakinan, suatu saat nanti pasti bakalan hadir dengan sendirinya, semoga tuhan memang menakdirkan bukan hanya untuk dipertemukan, tetapi dipersatukan," bijak Arsya, kedua matanya terpejam mengingat masa masa kecilnya yang indah bersama Alanka, sahabat kecilnya.

"Beneran Sya, dia bakalan datang nemuin lu?" tanya Avika tak percaya.

"Minggu depan dia bakal ke Indonesia, dia bilang sendiri ke gue," balasnya.

"Lu percaya?" tanya Azulla meyakinkan.

"Kecil kemungkinan buat gue ga percaya sama dia, ada satu hal yang gak pernah orang lain tau dari gue. Dan dia mengucapkan satu hal itu saat pertama kali dia ngirimin pesan ke gue," jelas Arsya, ia bangkit dari duduknya dan berlalu menghampiri toilet yang ada didalam kamarnya.

"Gue mandi dulu. Kalian jangan kemana mana, 5 menit doang," teriak Arsya dari dalam kamar mandi.

"5 menit bengong, 5 menit boker, 5 menit cuci muka, 5 menit di sabun, 5 menit gosok gigi, gitu ya Sya maksudnya?" omel Azulla dengan nada sedikit keras.

"Pinter banget didikan gue hahaha," balasnya.

Love in ChildhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang