Kerlap-kerlip lampu warna-warni menghiasi area sekitar jalan. Dentuman musik terdengar begitu nyaring seolah-olah ikut memeriahkan tempat ini. Deretan pedagang-pedagang terlihat sangat rapi. Berbagai macam wahana ada disini, pasar malam kota Jakarta.
Disinilah Arsya dan Alanka sekarang setelah mengunjungi pemakaman sang bunda. Sebelumnya, mereka berdua pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengistirahatkan lelahnya. Keduanya berniat untuk menghabiskan waktu seharian penuh untuk bersama. Menuntaskan segala kerinduan yang telah bertahun-tahun mereka pendam.
Arsya menarik pergelangan tangan Alanka, berlari pelan menuju area wahana kuda putar. Sudah Alanka duga, pasti wahana inilah yang pertama kali akan Arsya kunjungi. Alanka menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Arsya yang saat ini tengah merengek padanya untuk ikut menemaninya menaiki kuda putar.
"Ayoo Alanka naik ituu," tunjuk Arsya pada wahana permainan kuda putar yang mayoritas ditumpangi oleh anak-anak kecil.
"Yakin mau naik itu? Lihat noh anak kecil semua Sya. Naik bianglala aja ya sama aku?" tawar Alanka.
"Gak mau, mau kuda putar," kata Arsya sendu.
"Aku nunggu aja ya, kamu yang naik," ucap Alanka lembut, sesekali tangannya mengusap rambut hitam legat milik Arsya.
"Aku kesini sama siapa?" tanya Arsya.
"Akulah," balas Alanka singkat.
"Nah itu tau, pokoknya kamu temenin aku naik kuda putar titik!" putus Arsya, membuat Alanka mengangguk pasrah.
"Mau beli permen kapas dulu boleh?" pinta Arsya menunjuk ke arah pedagang permen kapas yang menyediakan berbagai warna.
"Boleh, tapi jangan banyak-banyak ya nanti kamu batuk." Arsya mengangguk gembira, keduanya kini melangkahkan kakinya ke tempat pedagang permen kapas yang ditunjuk Arsya.
*****
Matahari baru saja kembali keperaduannya saat Argen terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengedarkan pandangannya keseisi kamar, menyandarkan tubuh kekarnya pada sandaran kasur. Terlihat seorang pria paruh baya tengah berdiri membelakanginya.
"Papa pulang kapan? Kok udah ada disini?" tanya Argen. Pria paruh baya tadi adalah Raynald--papa Argen.
"Saat kamu masih tidur," balas Reynald.
"Kenapa gak sama bunda?"
Reynald membalikkan tubuhnya, kemudian melangkahkan kakinya mendekati Argen. Mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping Argen. Ia menatap lekat-lekat anak tunggalnya yang kini sudah tumbuh dewasa.
"Minggu kemarinkan bunda udah kesini, jadi sekarang giliran papa mau ketemu sama kamu," jelas Reynald, tak jarang ia selalu mengusap rambut hitam anaknya.
Argen tersenyum mendengar perkataan papa nya. Ia merasa sangat beruntung dapat hidup dan tumbuh dalam lingkaran keluarga yang terbilang harmonis. Papa dan bundanya selalu menyayanginya, meskipun kedua orang tuanya sibuk akan pekerjaannya masing-masing, Argen tak pernah mempermasalahkannya sama sekali.
Tok..Tok..Tok
Suara ketukan pintu terdengar jelas menyapa telinga keduanya, anak dan papa itu serempak berucap, "Masuk."
Pintu terbuka lebar, menampilkan bi Leli--asisten rumah tangganya membawakan nampan berisi segelas susu putih dan beberapa buah-buahan diatasnya.
Bi Leli berjalan pelan mendekati Argen dan papa nya. Setelah sampai, ia meletakkan nampan di atas nakas samping kasur.
"Ini mas dimakan dulu buah-buahannya, jangan lupa abisin juga susunya ya."
"Makasih ya bi," timbal Argen tulus memasang senyum manisnya. Bi Leli mengangguk, kemudian pamit kepada kedua majikannya untuk kembali ke dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in Childhood
Genç KurguLOVE IN CHILDHOOD || A SHORT STORY BY IBABAAY "Ketika separuh kenangan, kembali bersama pemilik hatinya." ***** Setitik kisah persahabatan masa kecil yang dipadukan dengan perasaan cinta antara Arsyakayla Alexander dan Alanka Alkana Lavoisier. Perpi...
