XXI

108 40 9
                                        

gimana nih penasaran gak sama kelanjutannya?

hehe maaf ya jadi gantungin kalian:>

udah nih buruan dibaca yap jangan sampai ketinggalan!!!

~happy reading readers❤️❤️~

"Apa yang terjadi Gen?" tanya Kayno memulai pembicaraan. Ia mendudukkan dirinya tepat di samping Argen.

Argen tak menoleh sedikitpun, bahkan meresponpun tidak. Sungguh, pikirannya sekarang sangat kacau. Otaknya kini harus dihadapi dengan teka teki yang sangat membingungkan. Bagaimana dia akan memecahkan teka teki yang sekarang selalu menghantuinya? Apa ia harus menyangkut pautkan anggotanya untuk urusan pribadinya? Ah, tidak mungkin. Tidak bisa, ia tidak bisa membiarkan teman-temannya terkena bahaya hanya karena masalah pribadinya.

"Apa yang terjadi boss?" pertanyaan yang sama kembali muncul dari mulut Titan.

"Gak usah sungkan Gen, kita bukan hanya sekedar geng motor. Kita itu satu keluarga. Kalau lu ada masalah kasih tau kita, jangan biarin masalah itu dipendem sendiri. Sehebat apapun lu, sekuat apapun lu, gue yakin lu gabakal bisa nyelesain masalah sendiri. Karena gue tau ini bukan masalah sepele," saran Kayno.

"Iya boss, di saat kita ada masalah, bahkan lu orang pertama yang nolongin kita. Orang pertama yang selalu ada buat kita, lu bahkan rela maju sendirian cuma buat kita boss. Jadi biarin kita semua buat bantu lu boss," sambung  Titan, semua anggota pun ikut mengangguk yakin.

"Thanks," singkat, padat, jelas Argen menimbalinya.

"Mau cerita?" tanya Raynald. Jujur ia sangat penasaran apa yang terjadi pada Argen.

"Telepon Azulla atau Avika, tanyain Arsya dimana," pinta Argen, diangguki oleh Raynald.

Raynald mengambil handphonenya yang ia taruh disaku celana. Membuka lockscreennya dan beralih membuka aplikasi WhatsApp. Raynald memencet profil Azulla mulai menelponnya dan menekan log spiker. Sambungan terhubung.

"Laa, Arsya dimana?" tanya Raynald memulai pembicaraan.

"Nih lagi sama gue. Dia sama Avika lagi kebingungan nyari handphonenya yang hilang," balas Azulla dibalik telepon dengan suara yang sedikit ngos ngossan.

"Gausah dicari," ucap Argen yang sedari tadi menyimak pembicaraan Raynald dan Azulla.

"Arsyaa kata Argen handphonenya gak usah dicarii," teriak Azulla, membuat semua anggota geng Barnet yang mendengarnya terlonjak kaget.

"Cempreng banget anjir," sahut Daniel.

"Handphonya ada di gue," kata Argen, ia sengaja meninggikan suaranya agar Azulla terdengar jelas.

"Lah gimana bisa? Lu nyo-" belum sempat Azulla melanjutkan ucapannya, Raynald sudah lebih dulu memutuskan panggilan.

"Kapan lu ngambil handphone Arsya bos?" tanya Daniel.

Argen bangkit dari duduknya. Melepaskan jaket hitamnya lalu melemparnya asal. Tangannya merogoh saku celana, mengambil handphone yang terbungkus dengan plastik yang dilumuri darah lalu melemparnya pelan ke atas meja.

"Handphone Arsya boss?" tanya Ganta, saudara kembar Genta. Perbedaan dari Ganta dan Genta sangat jelas. Jika Genta berbadan gemuk, berbeda dengan Ganta yang hanya berbadan sedang.

Argen mengangguk sebagai respon. Matanya menatap sekeliling anggotanya. Hati dan logikanya kini sedang berseteru. Hatinya berkata tak usah memberitahu anggotanya, karena pasti akan membahayakan bagi mereka. Sementara itu, logika menyuruhnya untuk memberitahu anggotanya agar masalah cepat selesai dan semakin ringan. Siall! Kenapa ia harus dihadapi masalah seperti ini?

Kayno menepuk pundak Argen pelan, mengangguk dan menatap Argen penuh harap. Besar harapan Kayno agar Argen mau membuka suara atas apa yang terjadi padanya.

Argen menoleh menatap Kayno sekejap. Argh sangat sulit bagi dirinya untuk menceritakan semuanya. Ia kembali menatap sekeliling anggotanya, pandangan penuh harap tersirat dari raut wajah mereka semua. Apa ia harus menceritakannya? Shitt!

Argen menghela napas pelan. "Gue dijebak," singkatnya.

"Dijebak? Lebih jelasnya?"

Argen melempar handphone miliknya ke atas meja, menampilkan foto Arsya yang sepertinya sedang disekap. Pelipisnya dibanjiri dengan darah merah yang begitu segar, baju seragam bagian pundaknya sedikit terekspos, mulutnya disumpal dengan selotip hitam, dan tubuhnya yang diikat dengan tali.

Semua pasang mata melihatnya kaget bukan main. Bagaimana bisa foto itu menunjukkan Arsya sedang disekap? Bukankah tadi Raynald baru saja menelpon Azulla dan mengatakan Arsya sedang bersamanya? Ada apa sebenarnya?

"Ini Arsya? Bukannya tadi Arsya sama Azulla?" tanya Raynald, memecahkan keheningan.

"Gue rasa ada yang gak beres disini," yakin Kayno.

"Tadi lu habis kemana boss? Kok ga balik lagi ke markas?" tanya Daniel, kedua tangannya ia lipat didepan dada.

Ibob, salah satu anggota geng Barnet yang berambut ikal dan berkulit hitam menyenggol tangan Daniel yang ada disampingnya.

"Btw Arsya itu siapanya si boss Niel?" bisiknya. Yap, anggota geng Barnet memang belum ada yang tau kalau Argen saat ini mempunyai kekasih kecuali Raynald, Titan dan Daniel.

Daniel menoleh. "Ceweknya si boss," bisiknya tepat di telinga Ibob.

"Gue sengaja pasang GPS di handphone Arsya biar terhubung ke handphone gue. GPS itu ngebawa gue ke rumah tua. Tapi pas gue udah disana, gak ada satupun orang disana. Kalian taukan kalo setiap penyekapan pasti bakal banyak yang ngejaga di depan pintu bahkan sampai di setiap bagian rumah. Terus gue masuk ke rumah itu sampai ke belakang. Dan alhasil gue nemuin ini," jelas Argen detail. Tangannya kembali mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja lalu menunjukkan foto lagi.

Semuanya kembali menegang dan suasana menjadi hening setelah melihat foto yang baru saja Argen tunjukkan. Terlihat dengan jelas, foto itu menunjukkan ember hitam yang di dalamnya berisi setengah darah segar yang sangat kental. Dan satu buah pisau tajam tergeletak juga di dalam ember. Serta botol kosong yang berisi gulungan kertas.

"Gen, lu dapet handphone Arsya, terus tuh handphone kenapa bisa dibungkus plastik?" tanya Keyno.

"Gue nemuin tuh handphone didalem ember itu bang. Gue sempet nelpon Arsya, eh malah kederangan nada dering handphone di dalam ember itu yang ternyata handphone Arsya. Yaudah gue langsung ambil tuh handphone," jelas Argen.

"Pantesan tangan lu satunya berdarah satunya engga, dikira gue lu abis ngebunuh orang bos hahaha," celetuk Daniel, mendapat toyoran pelan dari Titan.

"Lu sempet buka tuh botol yang dalemnya kertas ga?" selidik Kayno.

Argen mengangguk, dan kembali menunjukkan satu foto yang berisi tulisan dari gulungan kertas.

"Awal dari segala kehancuranmu."

Kayno membacanya pelan, tapi mampu terdengar oleh anggota geng Barnet. Seluruh pasang mata kini saling pandang. Begitu pula dengan Argen yang kini masih bergulat dengan pikirannya.

"Ini bukan masalah sepele, kita bakal bantuin lu Gen," tekad Kayno, tangan kanannya merangkul bahu Argen.

"Tapi kita gak boleh salah langkah. Jangan sampai apa yang kita lakuin jadi boomerang buat kita semua," sambung Kayno lagi.

"Thanks buat kalian semua," timbal Argen.

"Boss, send foto Arsya yang disekap, gue ngerasa ada yang janggal disitu," pinta Titan yang langsung diangguki oleh Argen.

Love in ChildhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang