XXX

99 25 1
                                        

Arsya menepis kasar tangan pria yang membekapnya hingga membawanya ke tembok belakang sekolah. Nafasnya kini naik turun, jantungnya berdetak sangat cepat. Bukan karena pria yang membekapnya, melainkan ia takut karena ini terhitung ketiga kalinya telat sekolah.

Tembok setinggi kurang lebih dua meter itu ditatap Arsya lekat-lekat. Ia menelan salivanya, membayangkan bagaimana jadinya jika ia memanjat tembok tersebut lalu terjatuh di atas tanah kering yang dilapisi dengan bebatuan kecil di atasnya. Arsya menggosok-gosokkan kedua tangannya berniat untuk menghilangkan segala rasa ketakutannya.

"Argen! Lu ngapain sih bawa gue kesini?!" damprat Arsya. Setiap inci wajahnya kini semakin dipenuhi dengan keringat. Yap, orang yang membekap Arsya adalah Argen.

"Lu mau kena hukum?" tanya Argen santai sambil mengunyah permen karet kesukaannya.

Arsya menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian menggelengkannya pelan.

Masih dengan tatapan datarnya Argen berucap, "Yaudah mangkanya gue bantu."

"Hah?" Arsya mengeryit. Beberapa detik kemudian ia tersadar.

"Maksudnya lu mau bantu gue dengan cara manjat tembok setinggi ini?" Arsya kembali menatap tembok setinggi kurang lebih dua meter itu, sesaat ia bergidik ngeri.

Argen tersenyum. "Bukan tembok yang ketinggian tapi lu nya aja yang kependekan."

"Gue gak mau," singkat Arsya.

"Yakin? Yaudah siap-siap lu kena hukuman yang ketiga kalinya. Hukuman pertama keliling lapangan, hukuman kedua beli air mineral buat OSIS,dan yang ketiga pasti suruh bersihin toilet kelas 12 yang bau nya menyengat kaya badan lu sekarang." Argen terkekeh sejenak mengingat hukuman yang Arsya terima saat itu. Kemudian ia mengendus-ngendus tubuh Arsya layaknya kucing.

"Shitt! Kenapa Argen jadi kaya gini sih? Kemana Argen dulu yang cueknya minta ampun?" batin Arsya.

Argen melirik arloji hitam yang terpasang ditangan kanannya. "Buruan dugong! Bentar lagi guru BK keliling."

Bingung. Satu kata yang mewakili perasaan Arsya sekarang. Disisi lain ia tak ingin terkena hukuman lagi, tetapi disisi lain juga ia tak ingin memanjat tembok di depannya yang terbilang tinggi untuk dirinya.

Sejenak ia menimbang-nimbang kembali tawaran Argen sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berkata, "Lu aja sana, gue gak mau ambil resiko."

Argen memanggut pelan tak ingin terlalu memikirkan. Setelahnya ia berjalan pelan menuju tembok paling ujung untuk memanjat.

"Kepala batu," gumamnya pelan.

Dengan rasa penasarannya, Arsya memberanikan diri menarik kepalanya untuk mengintip dibalik lubang berukuran sedang yang terbentuk ditembok. Benar saja, Bu Tuti selaku guru BK yang super killer atau anak-anak lebih sering memanggilnya dengan sebutan BuTut itu sedang berkeliling dan kagetnya lagi sekarang ia tengah melirik ke arah tembok.

"Buset, gak mau mati sendirian gue." Arsya melotot sempurna. Dengan segera ia berlari menyusul Argen yang tak terlalu jauh darinya.

"Argen tunggu gue ikut!!" teriak Arsya dengan nafas ngos-ngossan.

Argen menghentikan langkahnya sejenak, kemudian ia berbalik badan menghadap Arsya. "Oke."

Matanya menatap sekeliling, menelitik secara seksama keadaan sekitar takut ada orang yang melihat mereka berdua. Dirasa tak ada orang, Argen memposisikan diri berjongkok di depan tembok. Kemudian beralih menatap gadis disampingnya yang tengah terdiam.

"Buruan naik." Argen menepuk satu pundaknya, menyuruh Arsya untuk naik.

Arsya mengangguk, setelahnya ia mengatur nafas terlebih dahulu untuk menaiki pundak Argen.

Love in ChildhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang