----- Happy Reading -----
Sebelum membaca jangan lupa difollow..
Terima kasih...
Setelah kejadian dua hari yang lalu saat Love yang melabrak Win dikantin, kini sementara waktu Win menjaga jarak dengan Bright. Ketika Win tengah sibuk membantu Gulf didapur, ponselnya berdering nada panggilan masuk, lalu dia segera melihatnya. Ternyata itu panggilan telpon dari si pria tampan yang sudah empat hari dia tak hiraukan. Win melakukan hal itu bukan karena dia yang ingin menjauh dari pria tampan itu seperti waktu lalu, atau lebih-lebih membencinya. Itu tidak mungkin, karena tanpa disadari dia sudah mencintainya. Semua itu dilakukannya karena Win sedang ingin menenangkan hati dan pikirannya sekaligus memikirkan langkah apa yang harus diambilnya. Dia sadar dekat dengan Bright membuat hubungan pria itu dengan kekasihnya diguncang masalah, bahkan membuat pria itu mengalami kecelakaan.
Ponselnya terus berbunyi, tapi Win tetap saja tak mau mengangkat panggilan telpon. Gulf yang merasa terganggu karena putranya yang tak kunjung menjawab dengan cepat dia mengambil ponsel Win yang tergeletak diatas meja. Win sontak langsung terkejut, ingin merebut ponselnya tetapi Gulf sudah lebih dulu menekan tombol hijau.
" Hallo " Ucap Gulf lembut.
" Hallo. Ini siapa ya? ."
" Ini tante Gulf. Bright ."
" Oh tante. Oh iya tante Win nya mana ya? ."
" Winnya ada kok Bright ."
" Boleh aku ngomong sebentar tante sama Win? ."
Sedangkan Win yang mendengar, langsung melambaikan tangan pada Gulf sebagai tanda bahwa dirinya tidak mau berbicara dengan Bright. Gulf yang tidak suka dengan sikap Win dia langsung menarik tangan Win dan menaruh ponsel ditelapak tangannya. Win pun mau tidak mau berbicara dengan Bright ditelpon.
Win yang mendengar suara Bright hatinya langsung menghangat, entah mengapa air matanya terasa ingin keluar, namun dia mencoba menahannya. Saat mendengar suara Win, Bright langsung menghujani Win dengan berbagai pertanyaan, sedangkan Win yang dihujani pertanyaan oleh Bright, dia langsung menjawab pertanyaan itu dengan sangat tenang dan tidak lupa juga kebohongan keluar dari mulut manis nya. Kakinya dia gerakkan melangkah menuju kamar dan meninggalkan Gulf seorang diri. Tubuhnya langsung dia baringkan diatas kasur, dan saat Bright mengucapkan kata 'kangen' seketika hatinya merasa perih, bahkan air mata yang sedari tadi ditahannya, akhirnya keluar juga membasahi pipi lembutnya. Bibir dempalnya pun ingin sekali mengucapkan kata yang sama seperti yang diucapkan oleh pria tampan tersebut. Tapi mengapa sangat sulit baginya untuk mengatakan hal yang sama, bibirnya seperti terkunci tak mampu untuk berbicara. Dia hanya bisa mampu memendam didalam hatinya saja.
" Win lo bisa gak kerumah sakit temenin gue disini?." Tanya Bright dari sebrang telpon.
Win terdiam, dirinya bingung apa yang harus ia katakan. Hatinya berkata ' Iya ', namun keadaan saat ini mengatakan ' Tidak '.
" Eu-m. Maaf Bright gue gak bisa ." Jawab Win pelan dan singkat.
" Kenapa Win?? ." Tanya Bright cepat.
" Gue lagi banyak tugas Bright. Sorry ya ."
" Win gue mohon sama lo. Pliss dateng kerumah sakit ya! Plissss Win! ."
Lagi-lagi Win harus terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Bright yang merasa tak ada jawaban akhirnya memanggil nama Win, dan menyadarkannya dalam diam.
" Duh! Gimana ya." Ucap Win dalam Hatinya. " Eum.. Liat nanti aja ya Bright, kalo gue bisa nanti gue kabarin lo lagi! ."
" Tapi gue harap lo bisa Win ."
KAMU SEDANG MEMBACA
Benci jadi Cinta (BrightWin)
RomanceWin Metawin Jurusan Ekonomi tahun pertama itu sangat membenci Bright Vachirawit Jurusan Hukum tahun ketiga. Entah Setiap bertemu mereka seringkali berdebat sehingga sahabat dari masing-masing mereka pusing atas kelakuan sahabatnya itu. Tapi waktu te...
