62. Harapan

8.2K 670 73
                                        


Vote terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca ✨

Happy Reading ❤️

Aileen memilih menjauh dari tempat ini, ia pergi ke toilet sungguh ia tak mau terjebak lagi ia tak mau harus memperbesar lukanya kembali.

"Gue ke toilet" ujar Aileen di angguki mereka.

Aileen sudah berada di toilet ia membasuh berulang kali wajahnya, ia tak mau mengingat masa-masa yang seharusnya memang tak pantas di ingat.

"Gue gak akan jatuh ke lubang yang sama" ujar nya menatap cermin yang ada di toilet.

"Gue udah sejauh ini berusaha biar lebih kuat dari sebelumnya, yang artinya gue gak boleh lemah hanya karena orang yang udah buat gue gak bernilai" gumam Aileen.

"Ai" panggil seseorang, Aileen dapat pastikan jika itu suara Agha.

"Gue mau ngobrol sama Lo" ujar Agha, Aileen belum menjawab.

"Bahkan untuk ngobrol sama Lo harus sesusah ini ya?" ujar Agha dengan terkekeh miris.

"Kita gak bisa balik kayak dulu?" tanya Agha ia mendekati Aileen.

"Apa gak ada kesempatan?" tanyanya, Aileen menoleh ke pemuda di hadapannya ini.

"Gue bukan tipe orang yang akan ngasih kesempatan ke orang yang udah buat gue merasa gak berharga" ujar Aileen ia menatap Agha dingin.

"Apa udah gak ada rasa sayang?" tanya Agha ia memberanikan diri untuk menyentuh pundak Aileen.

"Manusia punya banyak rasa termasuk rasa sayang, gue juga tipe orang yang kalo udah sayang gak akan gue lepas, tapi kalo gue lepas artinya gue udah gak ada rasa" ujar Aileen ia menghempas kasar tangan Agha, Pemuda itu memejamkan matanya.

"Kalo gue bilang gue masih sayang Lo?" ujar Agha menatap Aileen sendu.

"Itu hak Lo, gue bukan tuhan yang bisa nempatin setiap rasa, kalo iya gue bisa gak mungkin gue nempatin rasa gue ke Lo, orang yang seharusnya gak pernah gue izinin masuk ke kehidupan gue" ujar Aileen ia tak menggubris Agha yang memohon padanya.

"Sebenci itu Lo sama gue?" ujar Agha menggenggam erat tangan Aileen.

"Lo yang paling tau jawabannya" ujar Aileen ia menyentak tangan Agha.

"Apa ini karena Ghavril?" tanya Agha.

"Gak usah bawa-bawa orang lain" ujar Aileen ia keluar dari toilet itu, Agha masih mengikutinya bahkan Aileen memilih keluar dari kafe tak ingin ikut nimbrung lagi.

"Ai, gue tau Lo marah sama gue, gue tau Lo pasti kecewa juga tapi Ai gue janji gue gak akan ngulang kesalahan yang sama" ujar Agha ia mencoba meraih tangan Aileen.

"Lo gampang Gha, tinggal ngomong maaf seolah semua kembali seperti dulu lagi" ujar Aileen.

"Lo gak tau Gha rasanya nahan sakit setiap kali Lo mengabaikan gue,  gue yang Lo janjiin dia yang lo ajak jalan, gue di suruh nunggu dia yang di bawa pergi, Lo gak tau Gha karena Lo gak ngerasain. Lo tau? Saat itu gue bingung kenapa gak memilih pergi? Padahal udah jelas lo gak menginginkan gue lagi, tapi gue bersyukur karena banyaknya kejadian yang bikin gue sadar kalo Lo emang gak harus bersanding sama gue" ujar Aileen ia menahan sesaknya kembali.

"Ai gue minta ma-

"Maaf? Apa maaf Lo bisa ngerasain sakitnya tamparan keras yang melayang di pipi gue gitu aja? apa maaf Lo bisa ngerasain sakitnya pipi gue? pusingnya kepala gue dan sakitnya hati gue Gha? GAK KAN? KARENA APA? KARENA LO GAK PUNYA HATI" sentak Aileen ia menatap nyalang Agha, sedangkan pemuda itu hanya bisa memaki dirinya sendiri yang bodoh melakukan itu pada Aileen. Ternyata tak jauh dari sana teman-teman mereka mengepalkan tangannya mereka menatap tajam Agha. Ternyata mereka tak mengetahui tersiksanya Aileen saat menjalani hubungan dengan Agha, bahkan pemuda itu main kasar.

"AGHA ANJING LO" seru Raymond dkk mereka menghampiri Agha dengan langkah lebar. Tanpa banyak kata mereka langsung menyerang Agha tanpa ampun, Aileen menatap Ghavril yang tengah menatapnya dengan senyum manis ia baru melihat senyum pemuda itu, namun senyuman Ghavril membuat nya menangis Ghavril mendekati Aileen membuat gadis itu langsung memeluknya erat.

"Jangan pergi" ujar Aileen di pelukan Ghavril, Ghavril? Pemuda itu tersenyum ia membalas pelukan Aileen.

"Gak akan, gue gak akan pergi" ujar Ghavril.

"Gue butuh Lo hiks gue mau Lo ada di samping gue hiks" ujar Aileen, Ghavril tersenyum tulus ia mencium kepala Aileen lama menghirup dalam-dalam aroma khas rambut Aileen.

"Gue gak bisa janji" ujar Ghavril, Aileen melepas pelukan itu ia menatap lekat wajah Ghavril dengan wajahnya yang sembab akibat menangis.

"K-kenapa?" tanya Aileen.

"Karena yang gue bisa tunjukkin cuma bukti" ujar Ghavril ia mencium kening Aileen, Aileen memejamkan matanya merasakan kehangatan menjalar di hatinya.

"Berhenti" ujar Ghavril, Raymond dkk pun menghentikan aksinya ia menatap Ghavril bertanya?.

"Nanti mati, bukan apa-apa cuma gue gak mau aja geng kita tercemar jelek" lanjutnya. Ghavril menatap sekeliling ia bisa melihat aksi pengeroyokan ini di tonton banyak orang.

"Kita pulang" ujar Ghavril. Ia kembali tersenyum pada Aileen.

"Jangan keluarin air mata dari bola mata indah Lo lagi" ujar Ghavril ia menggandeng tangan Aileen membawanya ke motor begitupun yang lainnya, kecuali Devano dkk ia masih punya hati untuk menolong Agha.

"Sorry Gha gue gak bisa berbuat apa-apa, karena ini emang balasan yang harus Lo terima atas perlakuan Lo yang buruk itu" ujar Zakka, di angguki Evan dan Iqbal. Agha?  tanpa sadar air matanya mengalir saat ia melihat Aileen memeluk Ghavril sangat erat seolah tak mau kehilangan pemuda itu, Agha tak menyangka jika Aileen akan sangat membencinya ternyata sudah tak ada lagi harapan baginya untuk kembali bersama Aileen yang ternyata sangat berarti baginya karena gadis itu adalahal cinta pertamanya. Rizka? Iya ini semua karena Rizka ia akan membuat gadis itu merasakan apa yang ia rasakan bahkan ia juga harus merasakan seperti yang saat itu Aileen rasakan.















TBC ❤️

AIGHA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang