👑 Be Conviced

2.7K 292 46
                                        

Jeremy mengulas senyum tipis ketika mendapati Jeno sedang duduk bersandar di ranjangnya. Padahal beberapa hari lalu sepupunya itu belum bisa duduk secara sempurna. Tapi hari ini Jeno terlihat nyaman dengan posisi duduknya itu.

"Jen, coba tebak gue bawa apa?" Jeremy menunjukkan kantong plastik putih berisi makanan yang baru saja ia beli sebelum datang ke rumah sakit. Meskipun Jeno tak bisa melihat, tapi Jeno pasti akan memberinya respons.

"Males ah," Jeno berdecak sebal.

"Dih nggak asik, buruan tebak nggak?!" Jeremy mengambil duduk di ranjang Jeno.

"Kalau tebakan gue bener, gue dapet apa?" tanya Jeno penuh tantangan.

Jeremy memutar bola matanya. "Tebak aja dulu," katanya.

"Dapet apa dulu?" Jeno tak mau kalah.

"Jalan-jalan deh keluar kamar. Boleh kan sama dokter?" tanya Jeremy.

"Gue lagi nggak mau keluar jalan-jalan." tolak Jeno.

"Ya terus apa dong?" Jeremy gemas.

"Gue ikut makan apa yang loe bawa. Gimana?" Jeno menyunggingkan senyum tipisnya.

Jeremy menelan salivanya susah payah. Permintaan macam apa itu? Bagaimana bisa ia mengajak Jeno ikut mengkonsumsi makanan yang dibawanya? Tubuh Jeno belum sepenuhnya pulih dan dilarang keras mengkonsumsi makanan macam-macam.

"Kalau diem gue anggep loe setuju ya, Je." celetuk Jeno yang sukses membuat Jeremy terperanjat kaget.

"Tebak dulu buruan!" sahut Jeremy.

"Tiga kali kesempatan kan?" tanya Jeno.

"Satu kali." sahut Jeremy cepat.

"Ya udah nggak jadi. Males gue nebak. Loe makan aja sana di ruang tunggu. Jangan disini." tandas Jeno galak.

"Anjing sensitif banget orang sakit." celetuk Jeremy dengan mulut mendumal tidak jelas.

"Jadi nggak?" tanya Jeno tak sabaran.

"Ya udah tiga kali kesempatan jawab. Apa jawabannya?" Jeremy mengalah akhirnya. Ia malas berdebat dengan Jeno. Bukan malas, hanya saja momentnya sedang tidak tepat.

"Ayam geprek level tujuh yang loe beli deket sekolah." jawab Jeno.

"Teng!" suara Jeremy nyaring memenuhi ruangan luas dan besar itu. "Salah!" katanya dengan seulas senyum penuh kemenangan.

Jeno memberengut. "Yang fair loe. Jangan mentang-mentang gue nggak bisa lihat jadi loe salah-salahin." omelnya.

"Ya Tuhan, Jeno. Beneran mood loe kayak cewek lagi datang bulan tahu nggak?" decih Jeremy. "Ya loe pikir gue sejahat itu?" katanya sengit.

"Ya kali aja." Jeno menggedikkan bahunya singkat.

"Bodo amat." Jeremy memutar bola matanya. "Loe emang salah ya!" katanya berusaha sabar.

Jeno tak menggubris celotehan Jeremy. Ia sibuk berpikir makanan apa yang dibawa sepupunya itu. Setidaknya ia harus menjawab benar agar bisa ikut menikmati makanan milik Jeremy.

"Chicken wings saos keju ditambah cola dua botol." tebak Jeno untuk kesempatan keduanya.

"Bukan. Udah nyerah ajalah, Jen. Capek banget gue nungguin loe nebak. Udah laper banget gue." rengek Jeremy.

"Bentar dulu ya anaknya Bapak Raefal. Nggak sabaran banget!" sengit Jeno.

Jeremy hanya bisa menghela napas panjang. Ia menyerah menghadapi Jeno hari ini. Benar-benar menyebalkan bukan main. "Ya udah cepetan!" katanya sengit.

A LITTLE PRINCECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang