The Lion King tengah terputar di home theater milik keluarga Wiratama malam itu. Terhitung sudah dua kali film animasi itu terputar di layar besar tersebut. Tentu saja dengan suara cukup keras memenuhi ruangan bak studio bioskop. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Jefranno Wiratama, si penggemar film yang di rilis tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh empat itu. Dan sudah dikenal oleh seluruh penjuru dunia berkat ketenarannya.
Namun, si pemutar film justru sibuk sekali dengan beberapa tumpuk buku pelajaran di meja. Jeno tak benar-benar menikmati filmnya karena tengah sibuk dengan setumpuk tugas sekolah yang tiada habisnya menjelang ujian kelulusan beberapa bulan lagi. Tiga hari lalu ia baru saja di opname selama beberapa hari di rumah sakit karena kelelahan. Dan hari ini ia harus merelakan punggung tangan kirinya kembali ditancapkan sebuah jarum infus demi menunjang daya tahan tubuhnya yang tengah melemah. Lagi.
Ia melepaskan bolpoin dari genggamannya yang sejak tadi digunakan untuk menulis dan membiarkannya tergeletak begitu saja di atas buku Fisikanya. Tangannya mulai terasa kebas dan kram karena terlalu banyak menulis. Pun ditambah tangan kirinya yang terasa sedikit ngilu akibat jarum infus yang menancap disana.
Sungguh, rasanya ia ingin sekali merebahkan tubuhnya di sofa dan tertidur dengan damai tanpa memikirkan banyaknya pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai meski telah ia kerjakan sejak tadi. Ia bahkan sudah mengabaikan ratusan pesan di ruang obrolan grupnya bersama Jeremy, Juna dan Chandra. Tidak berminat ikut menimpali obrolan acak ketiga sahabatnya itu. Ia hanya ingin semua tugasnya lekas selesai dan ia bisa segera beristirahat karena ia cukup mengerti bagaimana kondisi fisiknya sekarang. Tidak sama lagi seperti sebelumnya.
"Jefranno, kenapa masih ada disini?!" suara agak memekik itu sukses membuat Jeno melonjak kaget dan refleks menoleh ke arah sumber suara.
"Kebiasaan," pemilik suara memekik tadi mendapat pukulan di kepala dari teman disebelahnya.
"Sorry, kaget ya." Damian, yang tadi sempat memekik kaget itu lantas meminta maaf setelah mendapat teguran kasar dari Johnny disebelahnya.
Jeno mengangguk pendek ketika Damian dan Johnny akhirnya masuk.
"Masih banyak tugasnya?" Johnny sudah mengambil duduk di sebelah Jeno yang sudah tampak kelelahan itu.
"Masih ada beberapa soal lagi untuk yang Fisika." jawab Jeno seraya kembali menggenggam bolpoinnya.
Sementara Damian sibuk memeriksa ampul infus milik Jeno yang ternyata masih cukup banyak. Dokter Leo memang sempat datang beberapa jam lalu. Setelahnya ia ikut mengambil duduk di sofa.
"Fisika aja atau masih ada yang lain?" tanya Damian sementara Johnny sudah sibuk dengan remote televisi, hendak mengganti filmnya.
"Masih ada Biologi." jawab Jeno yang sudah kembali fokus dengan tugasnya.
Damian manggut-manggut mengerti. Lantas menyambar cangkir di atas meja, memeriksa isinya. "Ini habis daritadi atau baru aja?" tanyanya pada Jeno ketika mendapati cangkir yang tadinya berisi air mineral itu kini sudah kosong.
"Dari tadi," sahut Jeno.
Damian lantas beranjak dari duduknya untuk menuju mini kitchen yang ada di dalam ruangan home theater tersebut. Hendak mengisi air mineral untuk cangkir milik Jeno.
"Mau dibantuin nggak?" tawar Johnny setelah berhasil mengganti The Lion King dengan animasi Pocahontas.
"Nanti jadi Om Johnny yang pinter bukan Jeno." sahut Jeno.
"Sorry, you say what?" sambar Johnny tak terima. "Saya memang pintar kok," katanya sombong.
"Ya udah kalau udah pintar jangan nambah pintar lagi. Nanti Jeno kalah. Jeno nggak mau kalah dari Om Johnny." sambut Jeno tenang.

KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
Fiction générale"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.