Ballroom dengan luas 2.500 meter persegi itu hampir dipadati para tamu undangan pesta yang Keenan selenggarakan malam itu. Tepatnya minggu malam. Ruangan besar dengan nuansa ungu gelap dan kayu itu nampak megah denga puluhan meja yang sudah tertata rapi berikut hidangan mewahnya.
Sebut saja Keenan gila karena menyewa ballroom seluas itu. Yang mampu menampung sampai tiga ribu lima ratus orang. Padahal tamu undangannya tak sampai dua ribu orang. Namun bagi Keenan semua yang ia lakukan masih dalam batas wajar dan masuk akal. Mengingat betapa banyaknya peran penting dalam bisnis yang ia jalani. Ia hanya ingin mensyukurinya dengan cara berbahagia bersama orang-orang yang memiliki andil besar bagi hidupnya. Dan kalau dibandingkan dengan itu semua. Hal yang ia lakukan malam ini belum ada apa-apanya.
"Mami, benerin dasi Chandra dong. Nggak enak banget ini." Chandra mengeluh pada wanita bergaun merah maroon yang berdiri di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Hani, ibunya.
"Manja bener anaknya Bapak Keenan!" Hani merutuk sebal namun tangannya tetap sibuk membenarkan dasi putra bungsunya itu.
"Dih Mami, emang Chandra lahir darimana kalau bukan dari rahim Mami? Nggak mau lah jadi anak Papi doang." sahut Chandra.
Hani menyentil dahi putranya itu saking gemasnya. Chandra pun sukses mengaduh kesakitan. "Kak Felo kemana?" tanyanya.
"Ke toilet katanya," jawab Chandra.
"Ya ampun, lama banget dari tadi belum balik. Susulin coba, Chan!" titah Hani.
"Nanti juga balik, Mam. Ngapain sih segala di susulin?" sengit Chandra.
"Susulin nggak?!" Hani melotot.
"Ya udah iya Chandra susulin!" Chandra pilih mengalah. Daripada harus mendengar ibunya itu mengoceh.
"Malam ini cantik banget, Han." Keenan yang sejak tadi sibuk menerima tamu akhirnya berhasil mengajak bicara istrinya itu. "Kayak kamu," katanya dengan senyum penuh seringaian.
"Halah bokis. Aku wanita ke berapa yang kamu puji cantik malam ini?" tandas Hani.
"Pertama dong," sahut Keenan yang malam ini sangat tampan dan mempesona dengan setelan red suit dan dasi kupu-kupunya.
"Chandra bilang tadi kamu ganjen sama pelayan-pelayan cewek," Hani menatap Keenan jutek.
"Chandra bilang gitu?" Keenan syok bukan main.
"Felo juga tadi laporan kamu sok akrab gitu sama pelayan cewek!" Hani melipat kedua tangan di antara dada dan perutnya.
"Ya Tuhan punya anak mulutnya ember semua sih?" Keenan bergumam seraya mengusap tengkuknya. Salah tingkah dengan ucapan Hani.
"Baru tahu kamu kalau anak-anak kamu mulutnya ember bocor semua?" tukas Hani.
"Ya udah tahu sih sebenernya. Tapi aku diem aja." Keenan melirik Hani penuh seringaian.
Hani rasanya ingin mencubit pinggang pria di sebelahnya itu saking gemasnya. Namun harus ia tahan demi menjaga imejnya di depan banyak tamu undangannya malam ini. Mereka datang bukan untuk melihat drama pertikaian antara dirinya dan Keenan, suaminya.
"Anak-anak kemana, Hani?" tanya Keenan kemudian. Sadar tak mendapati Chandra dan Felo di antara dirinya dan Hani.
"Chandra nyusulin Felo yang ke toilet lama banget nggak balik-balik," sahut Hani.
"Jangan-jangan anak kamu nyasar?" Keenan menatap Hani dengan wajah dibuat serius bukan main.
"Ya udah kalau nyasar biar cari jalan sendiri. Mereka udah dewasa. Pasti bisa cari jalan pulang." sahut Hani cuek.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
General Fiction"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
