"Gimana catetan loe, Jen?" itu Jeremy bertanya pada Jeno yang sedang di suapi Chandra sepotong roti gandum isi coklat siang itu di taman sekolah.
"Dikerjain Om Johnny sama Kak Damian setiap malem." sahut Jeno sembari melontarkan sebuah senyum khasnya.
"Om Bima loe suruh sekalian biar cepet beres." itu Juna yang sedang asik menikmati salad sayur buatan ibunya.
"Om Bima punya Ayah. Mana boleh di ganggu gugat." sahut Jeno.
"Iya juga sih," sahut Juna.
"Chan, gue makan sendiri aja," pinta Jeno untuk ke sekian kalinya pada Chandra.
"Gue suapin aja." sahut Chandra.
"Gue bisa sendiri, Chan." Jeno memasang wajah memelas andalannya.
"Nggak mempan muka memelas loe, Jen." celetuk Chandra.
"Lagian udah abis, Jen." ujar Jeremy yang mendapati lunch box milik Jeno yang tadinya berisi beberapa potong roti gandum isi coklat sudah kosong.
"Abis sama Chandra, Jen." celetuk Juna dengan wajah lugunya.
"Enak aja." Chandra tak terima.
"Itu tadi ada lima potong, sepengetahuan gue nih ya, Jeno cuma makan dua potong. Sisanya masuk mulut loe." cerca Juna tak mau kalah.
"Jen, gue minta satu potong doang!" bela Chandra pada Jeno. "I swear!" katanya seraya menatap wajah Jeno yang malah tertawa gembira itu. Dan hal itu sukses membuat Chandra melongo heran.
"Kalau loe satu, terus gue dua, terus yang dua lagi kemana, Chan?" tanya Jeno di sela tawanya. Berniat menjahili Chandra.
"Ya mana gue tahu," sengit Chandra yang merasa tertuduh hanya karena roti gandum isi coklat milik Jeno.
"Masuk mulut Chandra tanpa disadari, Jen." sahut Juna kemudian yang langsung mendapat tatapan membunuh dsri Chandra.
Jeremy yang melihat perdebatan sengit antara Chandra dan Juna hanya bisa menghela napas berat. Namun pandangannya tak lepas dari sosok Jeno yang duduk di sebelahnya. Anak itu tertawa seakan mampu melihat apa yang terjadi. Tawanya bahkan tak berubah. Tetap terdengar ceria dan menyenangkan seperti sebelumnya. Dan hal itu selalu membuat Jeremy terpukul. Sepupunya itu benar-benar berusaha tetap terlihat baik-baik saja di sela luka dan rasa sakit tanpa henti.
"Jen," panggil Jeremy.
"Hmm," sahut Jeno yang masih tersenyum. Meskipun tak mampu melihat apapun, ia tahu itu suara Jeremy.
"Gue mau ngomong sesuatu sama loe," ujar Jeremy.
"Soal Lami lagi?" tebak Jeno. Tentu saja ia tak asal menebak, semalam Jeremy berkunjung ke rumahnya, menceritakan banyak hal selama ia absen dari sekolah. Termasuk tentang Lami, salah satu sahabat mereka.
"Begitulah..." Jeremy menghela napas panjang.
"Kenapa?" tanya Jeno.
"Gue merasa dia kayak menghindari kita, Jen. Apalagi semenjak loe kecelakaan. Dia bahkan sama sekali nggak pernah datang menjenguk loe." papar Jeremy.
"Hmm, terus?" Jeno masih ingin mendengarkan penjelasan Jeremy.
"Kenapa dia begitu?" tanya Jeremy. "Maksud gue nih ya, gue nggak pernah merasa punya salah sama dia, Juna atau Chandra juga baik-baik aja kok." tutupnya.
"Mungkin Lami ada masalah yang nggak bisa di bagi ke kita, Je." komentar Jeno.
"Mungkin juga sih." sahut Jeremy.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
Ficción General"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
