👑 One Step Closer

2K 158 26
                                        

"Jefranno, jangan banyak gaya lo!" Juna mengejar sahabatnya yang sudah lebih dulu berlari meninggalkannya. Hampir saja tadi ia terjatuh ketika turun dari mobilnya demi menyeimbangi langkah sahabatnya itu. Sang supir bahkan sudah mengomel karena kecerobohannya yang terlalu terburu-buru. Namun ia tak lupa meminta maaf dan memperingatkan sang supir agar tak memberitahu insiden hari ini pada sang ibu dirumah.

"Cepet dong, Jun!" remaja yang di kejar Juna menoleh namun masih sambil terus berlari di koridor.

"Jefranno, lo mau berhenti sekarang juga atau gue laporan ke Bunda lo?!" teriakan Juna sukses membuat remaja bernama tag A. Jefranno W tersebut langsung menghentikan langkahnya dan hampir saja terjatuh kalau saja tak berhasil menyeimbangi tubuhnya.

"Jeno, bel masuk masih lima belas menit lagi, lo nggak bisa santai sedikit?" Juna tersengal menghampiri sahabatnya yang biasa dipanggil Jeno itu.

"Mau ngulang materi sekali lagi di kelas. Lumayan lima belas menit." sahut Jeno datar.

Juna menghela napas kasar. "Nggak cukup lo belajar semalaman? Udahlah pasrah aja sama Tuhan. Kita pasti lulus kok." Juna mendesis. Masih pagi namun tenaganya sudah terkuras habis karena aksi kejar-kejarannya dengan Jeno.

"Kita pasti lulus kok," Jeno mengulangi ucapan Juna dengan nada menyebalkan sembari memutar bola matanya.

"Guru mana lagi yang mau mengulang satu tahun buat membimbing murid seperti gue," Juna tersenyum pahit.

Jeno ikut tersenyum getir. Ada benarnya juga ucapan sahabatnya itu. Ia memang sudah yakin akan lulus bersama yang lainnya. Hanya saja ia tak yakin akan mendapatkan nilai sempurna seperti yang selalu ia targetkan untuk dirinya. Predikat lulus saja menurutnya tak cukup. Setidaknya, ia harus mendapat nilai sempurna atau setidaknya jauh dari kata buruk dan biasa saja. Ia hanya ingin mengganti banyaknya waktu yang terbuang sia-sia selama ini karena harus menjalani pengobatan di tengah pendidikannya yang sedang berjalan.

"Sudah cukup gue bisa masuk kesini lagi berkat power orangtua gue, Jun. Setidaknya sekarang gue pengen bisa menggunakan power gue sendiri sebagai murid sekolah menengah atas pada umumnya," Jeno akhirnya berkomentar.

Juna lantas merangkul Jeno sembari tersenyum. Ia sendiri selalu saja bangga terhadap salah satu sahabatnya itu. Yang tidak mudah menyerah dan tidak mudah putus asa. Dan buktinya ada pada hari ini. Sahabatnya itu berhasil berada disini bersamanya untuk menyelesaikan bagian akhir di bangku sekolah menengah atas: ujian akhir.

"Lo berhasil kok, Jen. Buktinya, sekarang lo bisa ada disini. Lo bisa ikut ujian akhir bareng gue, Jeremy dan Chandra. Seperti yang selalu lo semogakan, kan?" ujar Juna penuh semangat.

"Kalau dipikir-pikir keren juga ya gue?" Jeno terkekeh hingga kedua matanya tenggelam ditelan sabit.

"Jeno si paling keren sejagat raya nusantara," sahut Juna seraya mengangkat ibu jarinya ke udara.

"Kalau gitu lo nggak boleh ngomong macem-macem sama Bunda." Jeno berubah serius menatap Juna yang masih merangkulnya itu.

Juna segera melepaskan tangannya dari bahu Jeno. Lantas melontarkan cengiran yang tak Jeno mengerti. "Kalau itu gue nggak bisa janji," katanya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Romantisme macam apa yang sedang gue lihat di pagi hari yang indah ini?" suara tersebut membuat Jeno gagal mengomeli Juna. Terlihat Jeremy dan Chandra berjalan ke arah mereka berdua dengan ransel dengan merk ternama masih tersemat di bahu masing-masing.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 05, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A LITTLE PRINCECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang