👑 Fantastic Four

4.4K 402 68
                                        

"Bunda?" anak laki-laki itu celingukan sambil menggumamkan kata Bunda di mulut kecilnya. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ia ketakutan. Wajahnya bahkan sudah memucat.

Tempat itu sangat luas dan ramai. Namun berapa kali pun anak itu menoleh dan celingukan, tak ia dapati orang yang ia panggil Bunda di antara banyaknya orang yang berlalu lalang. Perasaannya semakin gelisah.

"Bunda dimana sih, Jeno takut!" anak itu perlahan memberanikan diri untuk menepi agar tak sampai menghalangi jalan orang lain. Ia bahkan bingung berada di lantai berapa ia sekarang.

Anak kecil bernama Jeno itu berjongkok sambil memeluk lututnya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Hampir tumpah jika ia tak menahannya. "Bunda dimana?" gumamnya dengan suara hampir menangis.

"Jeno," suara itu sukses membuat anak kecil itu mendongakkan kepalanya. Namun yang ia dapati justru bukan ibu atau ayahnya. Malah seorang pria tinggi dan besar yang sama sekali tak ia kenali.

"Jeno cari Bunda?" tanya pria itu dengan ramahnya.

Jeno kecil mengangguk lugu. Kemudian kembali menunduk.

"Om bisa antar Jeno ke Bunda. Jeno mau?" tawar pria itu.

Jeno kembali mendongak. Ia pandangi wajah pria asing itu dengan sesama. Tentu saja ia mengingat ucapan ibunya untuk tak mudah menerima ajakan atau tawaran orang asing. "Bunda bilang Jeno nggak boleh bicara sama orang asing." katanya.

"Tentu saja Om bukan orang asing, Jeno. Om ini teman Ayah Jeno." sahut pria itu.

"Temen Ayah cuma Om Keenan, Om Raefal sama Om Arvin." sahut Jeno.

Pria itu menyunggingkan senyum sedikit kecewa. Tak menyangka anak kecil seperti Jeno mampu membuatnya kesal dengan jawaban jujurnya.
"Ayah nggak pernah cerita soal Om ke Jeno?" tanya pria itu.

"Hmm," Jeno bergumam mengiyakan.

"Kalau gitu sekarang Jeno benar-benar nggak mau bertemu Bunda dan Ayah?" tanya pria itu lagi. Tak menyerah.

Jeno lagi-lagi menatap manik mata pria di depannya. "Emang Om tahu dimana Bunda sama Ayah?" tanyanya.

"Tentu tahu, Jeno." jawab pria itu.
Jeno kecil tampak berpikir. Sambil memilin ujung celana pendeknya ia menatap lantai mall yang tampak mengkilap itu. "Dimana Ayah sama Bunda?" tanyanya kemudian.

"Di basement. Mereka menunggu Jeno disana." sahut pria itu.

Jeno kecil pun akhirnya mengangguk. "Anterin Jeno ke Bunda sama Ayah, Om." katanya.

Pria di hadapan Jeno itu tersenyum sumringah. Benar-benar seperti baru saja menang lotre. Sungguh ia sangat beruntung hari ini.

Jeno kecil mengulurkan tangannya pada pria itu. Dan sukses membuat pria tersebut menatapnya bingung. "Jeno mau dituntun, Om." katanya seakan mengerti tatapan tak mengerti pria di depannya.

Pria itu langsung menyambut uluran tangan mungil tersebut. Ia genggam erat tangan itu agar tak dapat terlepas lagi. Karena butuh waktu cukup lama baginya bisa menyentuh tangan mungil tersebut. Tangan mungil yang amat sangat di cintai Anne dan Dimas. Dan ia mendapatkannya hari ini.

👑👑👑

Jeno menatap langit-langit kamarnya yang di penuhi lampu kristal. Napasnya sedikit memburu. Tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya. Bahkan peluh sudah membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Padahal kamarnya cukup dingin dengan dua buah air conditioner yang menyala.

A LITTLE PRINCECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang