👑 Sadness

4.2K 363 142
                                        

"Bagaimana keadaan Johnny?" tanya Dimas pada Bima yang duduk di depan Unit Gawat Darurat dengan kedua tangan saling bertaut. Gurat sendu tergambar jelas di wajah pria tampan itu.

"Sebentar lagi Dokter akan memindahkannya ke ruang ICU. Ada gejala gegar otak ringan, Tuan. Maka dari itu tingkat kesadaran Johnny sangat rendah." jelas Bima kemudian mengusap wajah dengan tangannya.

Terdengar Dimas menghela napas panjang. Kemudian ia duduk di sebelah Bima. Perasaannya semakin kalut kala ia tahu keadaan Johnny juga cukup parah akibat kecelakaan beberapa jam lalu.

"Tuan dan Nyonya sudah berganti pakaian?" tanya Bima seraya merunut penampilan pria tampan bermata karamel di sebelahnya.

Dimas mengangguk. "Salah satu anak buah kamu datang membawa beberapa pakaian untuk saya dan Anne." katanya.

"Jangan sampai sakit, Tuan." Bima mengurai senyum tipis. Wajahnya kentara sekali kalau ia tengah bersedih. Sangat. "Tuan Muda Jeno membutuhkan Ayah dan Ibunya melewati semua ini." katanya.

"Maafkan saya, Bima, karena sudah membentak kamu tadi." tutur Dimas dengan tulus.

Bima mengangguk. "Bagaimana keadaan Tuan Muda Jeno?" tanyanya.

Senyum di wajah Dimas sirna seketika. Dibanding Johnny, keadaan Jeno jauh lebih mengkhawatirkan. Ketika Johnny masih memiliki harapan untuk siuman. Jeno justru tidak memiliki harapan itu. Benturan keras di kepalanya membuat seluruh organ tubuhnya seperti mati. Dokter juga mengatakan kalau keadaan Jeno benar-benar berada di antara hidup dan mati. Saat tiba di rumah sakit beberapa jam lalu, Jeno benar-benar sudah kehabisan darah. Untung saja golongan darahnya sama dengan Jeno. Jadi ia bisa memberikan darahnya pada Jeno. Kepala putranya itu bahkan terluka, tubuhnya juga memar di beberapa bagian. Namun anak itu tak merengek atau mengeluh sakit. Anak itu hanya diam saja dengan mata terpejam. Wajahnya bahkan terlihat damai meskipun rasa sakit pasti tengah menyiksanya saat ini.

Tanpa Dimas sadari ada bulir hangat yang mengalir di pipinya. Ia cepat-cepat mengusapnya. Dibanding dirinya, Anne justru jauh lebih syok usai mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Jeno. Wanita itu menangis meraung-raung seperti orang gila. Anne benar-benar terpukul dengan kejadian ini. Anne benar-benar menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Dan Anne benar-benar tak bisa menerima kenyataan kalau putranya koma dan tidak memiliki harapan untuk bangun. Dan yang Dimas bisa hanya ikut menangis bersama wanita itu sembari menenangkan. Keadaan Jeno berhasil meluluh-lantakkan dunia Dimas dan Anne. Tanpa sisa.

"Saya hanya berharap pada keajaiban, Bima. Jeno dinyatakan koma dan nggak memiliki harapan untuk sadar. Benturan di kepalanya cukup fatal dan membuat beberapa saraf di kepalanya mengalami kerusakan. Dokter masih terus menganalisa keadaan Jeno." jelas Dimas berusaha tetap tegar di depan Bima.

Bima tentu syok mendengar penjelasan Tuan-nya itu. Sejak tiba di rumah sakit, ia hanya terus menunggu Johnny bersama beberapa anak buahnya. Hingga ia lupa ada satu korban lainnya selain Johnny. Namun ia pikir keadaan Johnny adalah yang terburuk. Tapi ternyata keadaan putra Tuan-nya justru jauh lebih buruk.

"Maafkan saya, Tuan." Bima menunduk. Ia sungguh syok saat ini. Keadaan Tuan Mudanya sungguh memprihatinkan dari dugaannya.

Dimas menggeleng. "Johnny juga membutuhkan seorang penyemangat dan pendamping seperti kamu. Jangan beranjak dari sini untuk menemui Jeno. Tetaplah bersama Johnny disini." ia menepuk-nepuk bahu Bima berusaha memberi kekuatan.

Bima mengangguk. "Bagaimana penuturan polisi, Tuan, atas kejadian ini?" tanyanya kemudian.

"Polisi masih menyelidiki penyebab kecelakaan beberapa jam lalu. Polisi juga sudah melakukan pemeriksaan pada Johnny bersama tim medis. Karena biar bagaimanapun, Johnny-lah yang mengendarai mobil saat kecelakaan tersebut terjadi." jelas Dimas.

A LITTLE PRINCECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang