Johnny dan Damian dibuat khawatir dengan keadaan Jeno yang tampak berbeda dari biasanya saat pulang sekolah hari itu. Biasanya anak itu akan mengoceh panjang lebar mengenai banyak hal. Namun kali ini anak itu hanya duduk diam di kursi penumpang sambil menatap ke luar jendela mobil. Ponselnya yang sejak tadi berbunyi pun diabaikan begitu saja. Anak itu lebih fokus pada jalanan yang mereka lewati.
"Kenapa tuh piaraan lu?" Johnny penasaran dan akhirnya bertanya pada Damian yang duduk di sebelahnya.
Damian hanya melirik Jeno melalui spion. Kemudian ia menggedikkan bahunya. "Bang, jangan-jangan sakit?" katanya panik.
"Tadi pagi sehat, malah masih bisa bikin kesel. Nggak mungkin sakit." Johnny melirik Jeno dari spion.
Damian menoleh ke belakang dan menatap Jeno dengan seksama. "Jeno," panggilnya tanpa menggunakan embel-embel Tuan Muda.
Anak itu menoleh membalas tatapan Damian. "Kenapa, Kak?" tanyanya.
"Are you okay?" ujar Damian.
Jeno mengulas senyum tipis sembari mengangguk. "Cuma pusing sedikit," katanya.
"Astaga, kamu sakit? Kenapa nggak bilang sih?" tandas Damian.
"Jeno nggak sakit," sahut Jeno kalem.
"Itu mukanya pucet gitu!" tuding Damian yang mendapati perbedaan wajah Jeno dari biasanya.
Jeno tak menyahut. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan yang di lewatinya.
Hening. Damian juga memilih diam ketika Jeno kembali diam. Ia yakin anak itu pasti sedang tidak baik-baik saja. Biasanya anak itu selalu banyak bicara atau meminta banyak hal padanya. Tapi kali ini Jeno tampak tenang dan lebih banyak diam.
"Semangat dong, Jeno. Kan mau ketemu temen-temen. Nggak boleh mukanya nggak semangat gitu!" Johnny memecah hening yang mulai berkuasa.
Jeno menoleh menatap Johnny yang wajahnya terpantul di kaca spion. "Nanti kalau Nyonya Anne tanya Jeno kenapa nggak semangat, saya sama Damian harus jawab apa?" tanya Johnny.
"Jeno kalau nggak enak badan ngomong aja. Atau mau langsung pulang aja sekarang?" tanya Damian.
"Kan Bunda udah nungguin di sana. Nggak mungkin Jeno pulang padahal Bunda udah nunggu dari tadi." sahut Jeno.
"Kalau gitu semangat dong. Nanti Bunda khawatir kalau Jeno nggak semangat gitu." kata Damian yang disambut anggukan dari Johnny yang fokus mengendarai Porsche-nya. Tidak, lebih tepatnya Porsche milik Jeno. Hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas dari Tuan Dimas.
Jeno mengangguk. "Anterin Jeno dulu ke supermarket. Jeno mau beli sesuatu." katanya.
"Siap laksanakan!" sahut Damian.
"Meluncur boss!" itu Johnny sembari menambah kecepatan mobil yang di kendarainya. Menembus teriknya Jakarta siang itu.
Jeno hanya mengulum senyum tipis melihat tingkah laku Johnny dan Damian. Baginya, Damian dan Johnny bukan hanya sekadar asisten pribadi dan pengawal pribadi. Mereka adalah teman, sahabat, kakak dan penghibur untuk hidupnya yang sepi. Ia tak mau membayangkan hidupnya tanpa mereka. Tidak mau. Johnny dan Damian adalah miliknya. Dan mereka tak boleh pergi. Harus selalu ada disisinya.
👑👑👑
"Kak Jeno!" teriakan itu bersumber dari anak-anak panti asuhan yang Jeno dan Anne datangi hari itu. Panti asuhan yang menerima bantuan tetap dari keluarga Wiratama sejak lima tahun lalu. Maka dari itu setiap sebulan sekali, Anne akan mengajak Jeno berkunjung kesana. Terkadang jika senggang, Dimas juga ikut berkunjung. Namun hari ini pria itu masih berada di luar kota mengurus proyek barunya yang akan segera terealisasikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
Ficción General"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
