Acara amal yang diselenggarakan keluarga Wicaksana bersama dengan beberapa perusahaan ternama Indonesia sabtu malam itu berjalan sempurna. Jeremy, selaku salah satu pengisi acara pun berhasil membuat para tamu undangan terpukau dengan bakatnya bermain piano. Raefal dan Grace tentu saja mendapat banyak pujian dari kolega-kolega bisnisnya yang datang malam itu sebagai tamu undangan. Selain tampan, Jeremy juga anak yang baik dan memiliki sopan santun yang luar biasa sempurna. Tentu saja hal itu membuat orangtuanya merasa bangga memiliki putra seperti Jeremy. Tampan, berbakat dan juga good atittude.
Jeremy tampil di bagian pembuka dan penutup. Kelima sahabatnya bahkan setia bertahan sampai acara selesai demi melihat penampilannya malam itu. Ia takjub, kelima sahabatnya itu bisa bertahan di suasana kaku dan formal seperti ini. Biasanya mereka akan merengek acara formal selalu membosankan.
"Je, tahu nggak lu, semua anak gadis melongo liat penampilan loe tadi." ungkap Chandra saat Jeremy bergabung dengannya dan yang lain di meja khusus tamu VVIP.
"Wow!" Jeremy membuat ekspresi terkejut berlebihan.
"Nyesel gue menyampaikan apa yang gue liat," gerutu Chandra.
Jeremy tertawa melihat ekspresi sengit Chandra. "Gue liat kok. Nggak cuma anak gadis yang melongo, kalian juga pada melongo liat gue tampil tadi." ucapnya bangga.
"Najis!" gerutu Jeno pelan namun sukses membuat kelima sahabatnya menatap ke arahnnya. Dan hal itu membuat wajah Jeno tampak bingung.
"Sejak kapan Jeno bisa bicara kasar?" tanya Juna heran.
"Jen, loe sehat kan?" tanya Hina.
"Jen, loe barusan cursing?" Jeremy menatap Jeno tak percaya.
"Jeno mulai berani. Bahaya banget kalau begini." Chandra menggelengkan kepalanya.
"Ok, gue diem. Gue nggak akan komentar apa-apa." Jeno berlagak serius dengan mulut tertutup rapat.
Kelima sahabatnya itu tertawa melihat tingkah Jeno. Diantara mereka, Jeno adalah anak paling pendiam tak banyak bicara. Ia hanya akan bicara jika memang harus bicara. Jeno adalah pendengar paling baik diantara lingkar pertemanan tersebut. Tidak pernah mencari perkara dan banyak tingkah seperti Chandra. Tidak sering menghujat atau mengumpat seperti Juna. Tidak suka merayu dan tebar pesona seperti Jeremy. Tidak pernah berisik seperti Hina. Dan tidak pula seperti Lami yang tampak selalu ramah pada setiap orang. Jeno adalah manusia paling datar dan membosankan di muka bumi. Kelima sahabatnya mengakui hal itu. Namun di luar itu semua, Jeno adalah manusia paling berhati lembut diantara yang lainnya. Hatinya seperti malaikat. Bagaimana pun keadaannya anak itu akan tetap tersenyum seakan semuanya baik-baik saja. Jeno juga bukan anak yang suka mengeluh atau merengek. Ia selalu terlihat kuat di depan semua orang.
"Lami sama Hina mau balik bareng Jeno lagi?" tanya Juna mengubah topik pembicaraan. Ia juga mual melihat tingkah Jeremy yang selalu percaya diri level tinggi itu.
Yang lainnya langsung menatap ke arah Lami dan Hina yang tampak anggun malam ini dengan dress hitam masing-masing. Mereka menunggu jawaban dari dua gadis cantik itu.
"Gue naik taksi aja deh kayaknya, soalnya ada urusan." sahut Lami sembari tersenyum.
"Bareng gue aja, Lam. Nanti kasih tahu gue dimana lokasi urusan loe biar gue drop disana." tukas Jeno.
"Iya gitu aja, Lam." komentar Juna.
Lami menggeleng. "Lawan arah banget, Jen. Jadi gapapa kali gue naik taksi aja." katanya bersikeras.
"Serius nih?" tanya Jeno.
Lami mengangguk sembari tersenyum.
"Loe balik sama siapa, Hina?" tanya Chandra.
"Naik taksi barengan Lami," sahut Hina. "Kebetulan tujuan Lami searah sama rumah gue. Jadi sekalian aja. Daripada gue nebeng Jeno. Kasian nanti Om Johnny bolak-balik." celotehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
Ficción General"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
