House Of Yuen Restaurant cukup ramai pengunjung malam itu. Cukup banyak orang yang memilih restaurant tersebut sebagai tempat untuk mengisi perut mereka. Termasuk Jeno beserta ayah dan ibunya. Padahal tadi ibunya sempat menolak saat ayahnya mengajaknya ke restaurant yang berada di bilangan Senayan, Jakarta Selatan itu. Restaurant yang menyajikan menu makanan khas China. Namun akhirnya ibunya itu menurut karena perutnya sudah merengek meminta segera di isi. Alhasil disinilah Jeno dan kedua orangtuanya menikmati makan malam. Ayahnya benar-benar datang menjemputnya tanpa Damian dan Johnny sesuai permintaan Jeno tadi di pesan obrolan mereka.
"Jadi Bunda sama Ayah sering kesini?" tanya Jeno saat menikmati Crown Brand Dried Abalone from Amidori, Japan pesanannya.
Dimas mengangguk. Ia juga tengah sibuk menikmati Braised Oxtail With Skin and Plains in Casserole yang di pesannya. "Bunda suka makanan disini. Tapi malem ini tumben banget tadi nggak mau di ajak kesini." katanya dengan mulut penuh makanan.
Jeno manggut-manggut saja. Mulutnya juga penuh dengan makanan. Ia melirik ibunya yang tengah asik menikmati makanannya. Makanan yang sama seperti ayahnya makan. Karena makanan yang dipesan ayahnya adalah porsi untuk dua sampai tiga orang.
"Bukan nggak mau. Tapi pengen menu makanan lain. Hampir tiap bulan ya aku makan disini sama kamu. Bosen dong, Sayang." Anne yang merasa di perhatikan oleh dua orang lelaki di depannya itu pun menyahut.
"Bosen tapi makannya lahap gitu. Sebentar deh, jangan bilang kamu lupa makan tadi karena sibuk pemotretan?" tuding Dimas penuh selidik pada istrinya itu.
"Tadi di beliin bigmac kok sama anak kamu." sahut Anne.
Dimas melirik Jeno yang mengangguk mengiyakan ucapan ibunya. "Tapi nggak dihabisin, Yah." ungkapnya dengan wajah lugu andalannya.
"Bunda habisin kok!" Anne tak terima dengan pernyataan Jeno kepada Dimas.
"Enggak. Bunda cuma makan separuhnya aja sama cola. Selebihnya Bunda buang." Jeno mengklarifikasi.
Anne mendelik. Tatapannya pada Jeno berarti adalah meminta Jeno untuk berhenti bicara jujur mengenai hal tersebut. Namun Jeno sama sekali tak peduli dan malah melontarkan senyuman polos andalannya. Sungguh menyebalkan. Siapa yang bisa menolak senyuman itu.
"Don't skip your meal, Hon. Kalau besok-besok begitu terus aku nggak mau kasih izin kamu terjun langsung sebagai model. Cari aja model lain." tandas Dimas yang sarat akan peringatan keras itu. Tak terbantahkan.
"I'm so sorry." Anne menatap Dimas sambil memanyunkan bibirnya.
Jeno malah terkikik geli melihat ibunya bertingkah seperti itu. Benar-benar menggemaskan. "Caution Announcement, Mom." komentarnya.
"Ok, next time Bunda pasti menang." sahut Anne yakin.
Jeno hanya mengulum senyum sambil mengangguk. "Oh ya, Yah, kapan Jeno boleh ke sekolah lagi?" ia lalu menatap ayahnya.
"Kapanpun Jeno siap untuk ke sekolah lagi," sahut Dimas seraya menyeruput sedikit minumannya.
"Besok?" Jeno bertanya penuh harap.
"Jeno sudah merasa lebih baik?" tanya Anne kemudian.
Jeno kemudian menoleh menatap ibunya. Kemudian mengangguk cepat sembari tersenyum. "Chandra bahkan siap banget pinjemin catetan ke Jeno." katanya.
Anne dan Dimas saling pandang. Tentu saja keduanya masih belum yakin kalau Jeno sudah lebih baik pasca kejadian tempo hari bersama Michael. Tak mudah menghilangkan syok dan trauma yang dialami Jeno. Untuk seseorang seperti Jeno mengontrol suasana hati bukanlah perkara mudah.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
General Fiction"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
