👑 Farewell

2.3K 296 39
                                    

"Kevin, are you ok?"

"I'm ok and sorry for yesterday."

Jeno menggeleng pelan. Saat ini ia tengah duduk entah dimana. Namun ia bisa mencium aroma obat-obatan yang cukup kuat. Johnny yang mengantarnya menemui Kevin saat tahu Kevin sudah siuman dan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Sepertinya saat ini ia berada dalam ruang rawat Kevin.

"Jefranno, you ok?" tanya Kevin yang duduk bersandar di ranjangnya. Jarum infus dan nassal canula masih terpasang rapi.

"I'm ok." Jeno mengulas senyum.

Kevin takjub melihat betapa sempurnanya senyuman milik anak laki-laki di hadapannya itu. Kedua matanya melengkung ke bawah ketika Jeno tersenyum. Menggemaskan sekali. Persis seperti senyum milik adiknya.

"Get well soon, Kevin." sambung Jeno setelahnya.

"You too." Kevin menarik sudut bibirnya membentuk senyum.

Ia ingin sekali mengaminkan doa Jeno barusan. Tapi nyatanya ia terlalu takut untuk berharap banyak. Jantungnya sudah diciptakan berbeda dari manusia lainnya. Sejak kecil ia sudah terbiasa keluar masuk rumah sakit hanya karena dadanya terasa sakit. Dokter lantas akan memberinya obat pereda nyeri, bukan untuk menyembuhkan, tapi hanya untuk memperpanjang sedikit napasnya. Ia terbiasa dengan itu. Ia terbiasa dengan puluhan bahkan ratusan atau mungkin ribuan obat-obatan. Semua ia telan demi bisa terus bernapas sedikit lebih lama. Dan ia tak pernah sampai kapan akan seperti itu.

"Let's play with me after you left from here. I want you come to my home. Ah, not my home, my parents home." Jeno tersenyum lagi.

"You wanna doing something?" tanya Kevin.

Jeno mengangguk. "Football? Basketball? Or something else. Anything, Kevin. I'm really bored since coming to Tokyo without Jeremy." katanya sedih.

Kevin tersenyum dan tangannya refleks terulur untuk mengacak pelan rambut remaja laki-laki di depannya. "Who's Jeremy?" tanyanya.

"My cousin." jawab Jeno.

Kevin manggut-manggut mengerti. "Jeno, I want to ask you. How old are you?" tanyanya.

"Seventeen years old. Why?" Jeno balik bertanya.

"Hey, I'm eighteen!" seru Kevin yang sukses membuat Jeno kaget karena teriakannya.

"So?" Jeno mengerjapkan kedua matanya. Jantungnya masih bedegub cepat karena kaget. Namun ia masih bisa mengukir senyum.

"I'm older than you. So, call me big brother." Kevin terkekeh.

"Just one year gap. Ah, you're so annoying!" Jeno berlagak kesal.

"In Japan, brother is Onii-san. Then, call me Onii-san, Jefranno." pinta Kevin memaksa.

"Onii-san?" gumam Jeno.

"Ya!" sahut Kevin bersemangat. "Try it!" ia benar-benar antusias.

"With your name?" tanya Jeno.

"No. Just Onii-san!" Kevin memfokuskan netranya pada Jeno. Menunggu anak itu memanggilnya secara benar.

"Onii-san, konichiwa!" Jeno membungkuk sedikit kemudian tersenyum lebar setelah mengucapkannya. Membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan.

Kevin lantas terbahak. Bukan karena lucu tapi karena ia gemas bukan main. Kenapa bisa Tuhan menciptakan makhluk semenggemaskan Jefranno lalu mempertemukan padanya? Benar-benar seperti mendapat berkah luar biasa. Bagi Kevin bertemu dengan Jeno adalah hal yang sangat luar biasa untuk hidupnya. Ia bahkan tak pernah menduga bisa bertemu dan mengenal seseorang seperti Jeno.

A LITTLE PRINCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang