"Bunda, harusnya Ayah diskusi dulu sama Jeno," remaja laki-laki yang sudah rapi dengan kemeja putih dengan balutan vest rajut abu-abu tersebut kembali menggerutu sebal ketika sang ibu tengah sibuk memasangkan sebuah dasi kupu-kupu di kerah kemejanya.
"Kenapa harus? Ini tugas mulia loh, Sayang." Anne memberi komentar.
"Jeno nggak bisa," sahut Jeno seraya menghela napas lelah. Ya, anak itu sudah lelah merajuk sejak tadi malam. Sejak sang ayah tiba-tiba memintanya melakukan sesuatu di luar dugaannya untuk hari ini.
"Bunda tahu Jeno selalu bisa melakukan segala hal," Anne tersenyum usai menyelesaikan kegiatannya memasang dasi.
"No, I'm not." Jeno kembali mendesah. Kali ini terdengar kasar.
Anne lantas menyambar sebuah jas hitam dari salah satu merk ternama milik Jeno yang tersampir di atas ranjang. Ia yang membelikannya dua minggu lalu saat berkunjung ke Paris untuk urusan bisnis. Dan Mia yang menyiapkannya sejak pagi buta tadi untuk dikenakan Jeno hari ini. Lantas ia sematkan jas tersebut di tubuh Jeno yang semakin hari semakin terlihat membaik.
Jeno hanya bisa menurut dan mengenakan jas hitam tersebut dalam diam. Sesekali bibirnya mencebik sebal. Semalam, ayahnya mendatanginya di kamar dan mengatakan kalau hari ini ia akan melakukan sebuah tugas mulia. Namun sang ayah tak mengatakan dengan jelas jenis tugas mulia apa yang harus ia lakukan. Sepertinya bukanlah tugas mulia yang biasa saja, apalagi melihat seluruh hal yang ia kenakan benar-benar seperti sudah disiapkan secara baik dan detail oleh ibunya sendiri.
"Jeno sudah selesai," Anne tersenyum simpul menatap putranya yang sudah tampak rapi dan gagah dengan balutan Black Suit-nya berikut dasi kupu-kupu yang membuatnya semakin terlihat mempesona.
Jeno memaksakan seulas senyum. Lantas sibuk menyematkan arloji limited edition yang pernah ayahnya hadiahkan padanya. "Jeno perlu menata rambut. Dan Jeno butuh lima sampai sepuluh menit untuk melakukannya." katanya.
Anne mengangguk. "Jeno bisa langsung ke depan kalau sudah selesai. Sudah ditunggu Bima." katanya.
"Bunda sama Ayah nggak jadi ikut?" Jeno cukup meninggikan nada bicaranya. Apalagi ketika menyadari kalau ternyata ibunya masih dengan balutan dress biasa dan rambut hanya di ikat asal.
"Tentu saja Bunda dan Ayah harus ada disana, ini acara penting, Sayang." sahut Anne sebelum akhirnya meninggalkan kamar putranya itu.
Jeno kembali menghela napas kasar. Terus bertanya dalam hati kemana hari ini ayah dan ibunya akan membawanya pergi. Padahal hari ini ia berencana menghabiskan waktu di perpustakaan pribadinya yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi menjelang ujian tiba. Ada beberapa materi pelajaran yang harus ia ulas kembali. Tapi sepertinya ia tak akan bisa melakukannya hari ini.
👑👑👑
Remaja laki-laki dengan sebuah topi beret di kepalanya itu sungguh tak menyangka kalau orangtuanya akan membawanya ke sebuah gereja cukup besar dan megah di Minggu pagi tersebut. Pandangannya terus gelisah sejak tadi ketika gereja tersebut sudah hampir dipenuhi para jemaat lain. Mereka semua sungguh asing baginya yang memang jarang sekali berada di tengah publik seperti ini. Biasanya, ia dan orangtuanya tak pernah mengunjungi gereja dengan kapasitas jemaat sebanyak ini. Tentu saja hal ini terbilang sangat baru baginya.
"Everything will be ok," bisik Anne seraya menggenggam erat tangan dingin putranya yang ia tahu sedang sangat gugup saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
General Fiction"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
