"Loe mau ngomong apa?" tanya Rama pada Jeno yang duduk disebelahnya sore itu.
"Eh bukannya hari ini ada latihan basket?" tanya Jeno seakan tak mengindahkan pertanyaan Rama.
"Gue cabut ajalah," Rama beranjak dari duduknya. Sengit dengan sikap Jeno yang teramat santai itu. Padahal sejak pagi tadi ia benar-benar hampir mati penasaran menunggu jam pulang tiba untuk bertemu dengan Jeno. Anak itu bilang ingin mengatakan sesuatu. Tapi sekarang anak itu seakan ingin bermain-main dengannya.
"Gue mau berhenti sekolah, Ram." ujar Jeno dengan tatapan kosongnya ke arah Rama.
Rama membulatkan kedua matanya yang agak sipit itu. Ia tatap Jeno lekat. Berusaha mencari kebohongan di sorot mata bening itu. Namun ia tak menemukannya. Padahal ia berharap Jeno berbohong atas ucapannya. "Bercanda loe?" celetuknya.
"Besok hari terakhir," sahut Jeno sembari mengulum senyum tipis.
"Jeno, gue cabut beneran kalau loe masih terus bercanda!" tandas Rama.
"Lusa gue udah nggak akan ke sekolah dan mulai home schooling." Jeno menambahkan tanpa mengindahkan ucapan Rama.
Rama menutup wajah dengan kedua tangannya selama beberapa detik. Lalu ia kembali duduk disebelah Jeno. "Kenapa?" tanyanya.
"Kenapa apanya?" Jeno balik tanya.
"Kenapa berhenti sekolah umum dan malah home schooling?" Rama menatap serius wajah Jeno.
"Ya emang loe pikir sekolah bakal seterusnya bisa menerima gue?" sahut Jeno. "Sekolah umum juga punya aturan yang loe sendiri juga tahu apa aturan mutlaknya." timpalnya.
Rama menunduk dalam. Tentu ia tahu keadaan Jeno yang sekarang pasti menyulitkan banyak pihak. Ia juga tahu tentang peraturan di sekolahnya itu. Kelak, Jeno akan dibuang. Jeno akan dikucilkan. Dan Jeno akan diminta menjauh. Caranya memang cukup halus. Namun tentu saja tetap menyakitkan.
"Jangan nangis. Kepala gue udah cukup pusing karena Chandra nangis juga tadi di kelas pas gue kasih tahu gue mau home schooling." celetuk Jeno penuh seringaian saat ia tahu Rama hanya diam saja.
"Nangis?" Rama menyunggingkan senyum sinis. "Ya enggaklah. Gue bukan manusia bodoh yang harus menangisi loe." katanya dingin.
"Kirain nangis. Loe diem aja sih." Jeno terkekeh.
Rama berdecih. Separuh hatinya terasa hangat karena Jeno seperti mulai membuka diri untuknya, contohnya seperti saat ini, anak itu memberitahunya juga kalau hendak berhenti sekolah. Namun separuh hati lainnya ia merasa takut bukan main. Takut kalau saat ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Jeno. Dengan Jeno memilih home schooling, tentu Jeno tak akan mudah untuk ditemui. Karena baginya sekolah adalah tempat paling aman untuk menemui Jeno.
"Rama," gumam Jeno.
"Apa?"
"Padahal gue pengen ngerasain acara pentas seni sekolah. Gue juga pengen ngerasain study tour satu angkatan. Gue juga pengen ngerasain dateng ke promnight sama Hina atau Lami sebagai pasangan gue. Selama sekolah yang gue cari cuma moment-moment khusus aja. Nggak lebih. Setidaknya hidup gue nggak monoton karena sekolah dan ketemu banyak orang." celoteh Jeno.
Rama seperti tersambar petir sore hari yang cerah itu usai mendengar celotehan Jeno. Rasa sesalnya kembali muncul ke permukaan.
"Kalau home schooling otomatis gue cuma bisa dirumah aja. Belajar di rumah sendiri. Ngerjain tugas sendiri tanpa ada teman buat diskusi. Pokoknya semua serba sendiri. Basi banget pasti." Jeno tersenyum kecut.
"Gue nggak bisa ngerasain lari-larian lagi di koridor kalau telat. Gue nggak bisa lagi jadi penonton kejahilan Chandra di kelas. Gue juga nggak bisa lagi ngerjain Chandra di kelas. Gue nggak bisa lagi duduk di kantin sama Juna, Jeremy dan Chandra. Nggak bisa lagi latihan basket. Nggak bisa lagi duduk lama-lama di perpustakaan bareng Lami sama Hina." timpal Jeno dengan nada sarat dengan penyesalan luar biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
Ficção Geral"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
