"Saya nggak menyangka dia tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan juga rupawan." seorang pria tersenyum dingin sembari menatap foto seorang anak laki-laki berkulit putih susu dan bermata bening di layar laptopnya.
"Siapa, Tuan?" tanya pria yang duduk di hadapan pria yang barusan bicara.
Pria dingin tadi memutar laptopnya agar dapat di lihat oleh pria di depannya yang sejak tadi menjadi lawan bicaranya. "Coba kamu tebak, siapa dia?" tanyanya penuh tantangan.
Pria itu menatap monitor laptop dengan seksama. "Dimas Wiratama?" gumamnya.
"Putranya," pria dingin tadi menyahut sembari tersenyum.
"Tuan Michael, Anda bercanda?"
Pria yang dipanggil Tuan Michael itu terbahak. "Kamu pikir ini semua lucu untuk menjadi bahan candaan?" katanya dingin.
"Mereka benar-benar mirip. Anak ini persis sekali Dimas Wiratama, Ayahnya." komentar pria tadi.
"Kalau saja tujuh tahun lalu saya berhasil membunuh anak itu. Dimas tidak akan pernah bisa melihat putranya itu tumbuh menjadi anak yang tampan dan juga rupawan kan?" pria bernama Michael itu menatap serius pria di depannya.
"Seharusnya Dimas berterima kasih karena saya tidak berhasil membunuh putranya itu," Michael terbahak. Suara tawanya memenuhi ruangan bernuansa gelap itu.
"Lalu apa rencana Tuan selanjutnya?" tanya pria yang akrab disapa Jo itu. Pria berusia sekitaran tiga sampai empat puluh tahunan. Pria yang setia menjadi pengikut Michael sejak lama. Tentu ia tahu baik buruk dan luar dalam seorang pria bernama Arnold Michael itu, boss besarnya sampai detik ini.
"Jeno masih mengenali saya, apa yang harus saya lakukan, Jo?" Michael bertanya balik pada pengawal setianya itu.
"Apa anak itu takut saat melihat Tuan?" tanya Jo.
"Tidak sama sekali. Anak itu malah mengejar saya seakan saya adalah orang yang patut ia tangkap," Michael terkekeh.
"Oh ya, tugas yang saya berikan beberapa hari lalu, sudah selesai?" tanya Michael.
"Ah, saya hampir lupa, Tuan." Jo terlihat merogoh kantung dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat yang sengaja ia lipat agar mudah masuk kantung. Kemudian ia serahkan pada pria di depannya.
"Semua tertulis lengkap disana. Kegiatan anak itu setiap harinya, kebiasaan yang sering anak itu lakukan sampai kelemahan yang anak itu miliki. Saya berhasil mendapatkannya dari orang terpercaya, Tuan." ujar Jo dengan bangganya.
Michael membuka isi amplop tersebut dan membacanya sekilas. Ada beberapa lembar foto terselip disana. Salah satunya potret Jeno yang sedang bermain basket dengan teman-temannya.
"Kamu hebat, Jo." pujinya pada Jo.
Pria bernama Jo itu hanya tersenyum penuh rasa bangga karena berhasil menyelesaikan perintah dari boss-nya itu dengan tepat waktu.
"Bagaimana dengan Dimas dan istrinya?" tanya Michael kemudian.
"Mereka sibuk seperti biasa." sahut Jo.
"Hanya itu?" tanya Michael dengan nada bicara tak puas dengan apa yang ia dengar.
"Satu lagi, Tuan. Dimas mempekerjakan seorang pengawal pribadi untuk putranya. Namanya Johnny dan keahlian menembaknya benar-benar luar biasa." terang Jo.
Michael takjub. "Wah, Dimas benar-benar menyayangi putranya itu." komentarnya.
"Dimas juga mempekerjakan seorang asisten pribadi untuk putranya dengan latar belakang sabuk hitam Taekwondo. Kemampuan bela dirinya tidak bisa dianggap remeh. Namanya Damian." Jo memberi informasi lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
General Fiction"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
