Sudah terhitung dua hari Michael mendekam di dalam bui akibat perbuatan kejinya yang menembak putra dari pewaris tunggal Wiratama Grup. Bahkan bukti-bukti kejahatan Michael juga satu persatu mulai terungkap. Bukti-bukti tersebut tentu berasal dari berbagai pihak. Keenan adalah salah satu sumber bukti terbanyak sejauh ini karena berhasil mengumpulkan bagian-bagian penting mengenai Michael. Dibantu Arvin dan Raefal, Keenan berhasil menyerahkan semua bukti tersebut pada pihak kepolisian.
Maya menatap pias pria yang duduk di hadapannya kini. Kedua tangan pria itu di borgol. Beberapa petugas bui pun berjaga di ruangan itu. Ruang temu narapidana.
"Aku benar-benar nggak melihat penyesalan di kedua mata kamu, Michael." ujar Maya pada pria yang pernah memberi ia segalanya itu.
"Aku memang nggak menyesali apapun." sahut Michael sembari tersenyum.
Maya ikut tersenyum. "Aku nggak tahu hati kamu itu terbuat dari apa, kenapa bisa-bisanya kamu berbuat sejauh ini." katanya.
"Manusia hanya hidup satu kali. Aku hanya mau melakukan apapun yang aku inginkan." celetuk Michael dengan senyum sinisnya.
"Termasuk menyakiti putra kamu sendiri?" tanya Maya tenang.
"Aku nggak menyakiti Rama." elak Michael. Tak terima dituding seperti itu.
Maya tersenyum lagi. "Insiden dua hari lalu benar-benar membuat Rama syok bukan main, Michael. Rama sakit dua hari ini karena kamu." katanya seraya melipat kedua tangan diantara dada dan perutnya.
"Rama sakit?" tanya Michael.
"Kalau saja aku nggak menemukan ini," ia mengeluarkan sesuatu dari dalam handbag-nya. Meletakkannya di meja. "Aku nggak akan sudi datang kesini dan melihat wajah kamu." lanjutnya.
"Apa itu?" tanya Michael seraya menatap lekat sesuatu yang baru saja diberikan mantan istrinya itu. Sebuah amplop berwarna sky blue.
"Sesuatu yang ditulis Rama. Aku nggak tahu kapan tepatnya dia menulis itu semua. Tapi aku rasa dia menulis semua yang dia rasakan disana." sahut Maya.
"Lantas kenapa kamu memberikannya ke aku?" tanya Michael.
"Aku mau kamu menyesal setelah membaca itu. Aku mau kamu menyesal karena terlalu sering menyakiti Rama. Aku juga mau kamu menyesal karena semua perbuatan kamu terhadap Jeno dan keluarganya. Semoga Tuhan masih bersedia menyadarkan kamu. Dan semoga Tuhan masih bersedia memaafkan semua kesalahan kamu." jawab Maya terdengar sinis.
Michael hanya mengulas senyum angkuh. "Aku nggak mau menerima itu." katanya.
"Aku akan meninggalkannya. Terserah mau kamu buang atau bagaimana. Aku nggak akan membawanya lagi." ketus Maya.
Michael manggut-manggut saja. Ia tatap lekat manik mata wanita di depannya. Dulu ia pikir Maya bukanlah wanita yang menyenangkan. Itulah alasan ia akhirnya berselingkuh dengan wanita lain. Ia pikir Maya bukanlah wanita yang kuat. Tapi ternyata wanita itu sungguh luar biasa. Maya bahkan tak menangis ketika tahu kalau ia menikahi wanita lain di belakangnya. Wanita itu justru mengulas senyum terbaiknya meskipun setelahnya pamit pergi dan akhirnya menggugat cerai dirinya.
"Harusnya aku nggak menceraikan kamu, Maya." celetuk Michael.
Kedua mata Maya membulat sempurna menatap pria di hadapannya. Tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa saja. "Kenapa justru hal itu yang kamu sesali?" decihnya.
"Karena memang aku menyesali. Sejak lama. Tanpa berani mengatakannya." Michael mengangkat bahunya.
Maya sama sekali tak tersentuh dengan pengakuan Michael. Baginya, pria itu sudah lama mati dalam hatinya. Pria itu sudah lama ia hapus dari hidup dan dunianya. Michael bukan lagi pria yang istimewa di matanya. Ia sudah mengatakan pada dirinya sendiri untuk melupakan segala rasa sakit yang pernah pria itu torehkan di dalam hatinya. Tidak akan lagi ia ingat apapun tentang Michael. Ia hanya akan mengingat kalau pria itu adalah Ayah dari Rama, putranya.

KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
General Fiction"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.