Rama melempar ranselnya ke sofa ruang tengah rumahnya yang gelap gulita malam itu. Ia sengaja tak menyalakan lampunya. Kegelapan sudah menjadi hal yang biasa baginya. Entah sejak kapan ia tak tahu. Yang jelas ia selalu suka berada di tempat yang tak bisa di lihat orang lain.
Ia lalu mendudukkan dirinya di sofa yang terasa dingin itu. Berusaha membuat dirinya rileks sembari memejamkan kedua matanya. Baginya setiap hari terasa melelahkan. Tidak hanya hari ini.
Ketenangan Rama terusik ketika ia dengar sebuah suara berisik dari dapur. Ia lantas membuka matanya dan beranjak dari duduknya. Sesegera mungkin menuju dapur untuk mencari tahu suara berisik tersebut. Karena ia hanya sendirian di rumah.
"Mama?" gumam Rama saat ia dapati seorang wanita tengah sibuk membuat sesuatu di dapur. Apron merah jambu melekat apik di tubuh wanita yang ia panggil Mama itu.
"Hai, Sayang." wanita itu mengangkat wajahnya dan tersenyum menyapa Rama.
"Ngapain Mama disini?" tanya Rama dengan dahi berkerut.
"Mama tadi mampir swalayan, terus kepikiran buatin kamu makanan. Makanya Mama mampir kesini. Eh ternyata kamu belum pulang. Ya udah Mama masuk duluan. Kelamaan kalau nunggu kamu." celoteh wanita itu sembari sibuk memotong wortel.
Rama semakin mengerutkan keningnya. "Rama nggak mau makan apapun hasil buatan Mama. Rama pikir Mama nggak lupa soal itu." katanya.
Wanita itu menghentikan kegiatannya usai mendengar ucapan putranya. "Setidaknya Rama nggak perlu pesan makanan siap saji setiap hari. Itu nggak sehat. Mama rasa Rama tahu soal itu." katanya.
"Rama bisa makan apapun asal bukan buatan Mama. Rama bahkan lebih memilih nggak makan daripada harus makan sesuatu buatan Mama." komentar Rama ketus.
"Rama,"
"Rama nggak suka Mama seenaknya masuk rumah Rama. Apapun alasannya, Rama nggak suka." celetuk Rama dingin.
Wanita itu meletakkan pisaunya dengan kasar. Kemudian berkacak pinggang menatap setiap bahan masakan di meja yang baru saja di belinya. "Rama benar-benar membenci Mama sampai detik ini?" tanyanya seraya menatap putra tunggalnya itu.
"Mama tahu pasti jawaban dari pertanyaan itu." sahut Rama.
"Rama benar-benar siap hidup sendirian tanpa Mama?" tanya wanita itu.
Rama mengangguk. "Selama Mama masih mendukung Papa. Selama Mama masih mencintai Papa. Dan selama Mama masih bergantung sama Papa. Rama nggak akan pernah meminta Mama ada di sisi Rama." katanya.
Wanita itu terhenyak dengan ucapan putranya itu. Ia memilih diam.
"Rama lebih suka hidup sendiri. Bukankah Mama sama Papa selalu membiasakan Rama untuk hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain?" tukas Rama. "Rama udah biasa, Ma. Rama mampu menghadapi kesendirian. Sesuai yang Mama dan Papa inginkan." tutupnya.
"Rama tahu, setiap manusia akan selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Rama akan membutuhkan Mama dan Papa. Mungkin tidak saat ini. Tapi nanti." wanita itu memberi komentar.
Rama menggeleng kuat. "No. Rama memutuskan untuk nggak membutuhkan siapapun dalam hidup Rama. Termasuk Mama dan Papa yang selalu menjadikan Rama anak yang menyukai kesendirian." katanya penuh penekanan di setiap katanya.
"Bukan begitu maksud Mama," wanita itu berusaha membela diri lagi.
"Bukan begitu?!" Rama tak berhasil menahan dirinya. Ia meledak lagi. Ia selalu meledak tiap kali berhadapan dengan wanita yang sampai detik ini masih ia panggil Mama itu.
"Lantas bagaimana maksud Mama?!" seru Rama keras sampai suaranya memenuhi seluruh penjuru ruangan itu.
"Berhenti mengabaikan Mama." sahut wanita itu tenang. "Rama anak Mama. Sampai kapanpun Rama akan tetap jadi anak Mama. Rama nggak boleh bersikap seperti ini sama Mama. Rama lupa siapa yang sudah membesarkan dan mendidik Rama selama ini?" paparnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
General Fiction"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
