👑 Meet

2K 272 32
                                    

Jeno meminta Johnny untuk menemaninya duduk di taman belakang rumah sakit untuk menghirup udara segar usai melakukan terapi hari itu. Rasanya benar-benar melegakan usai melakukan terapi yang teramat berat baginya itu.

"Hari ini sejuk ya, Om." gumam Jeno saat Johnny baru saja menghentikan laju kursi roda miliknya.

"Sangat sejuk. Makanya tadi saya minta Jeno untuk pakai sweater." Johnny mengambil duduk di kursi taman tersebut. Sementara Jeno tetap di kursi rodanya.

"Om Johnny..."

"Hmm..."

"Om Johnny masih punya mimpi untuk keliling dunia kan?" tanya Jeno tiba-tiba. Ia teringat mimpi dan harapan Johnny di masa depan yang pernah diceritakannya beberapa tahun silam.

"Masih dong. Makanya sekarang saya kerja keras jagain kamu biar bisa keliling dunia tanpa beban suatu saat nanti." jawab Johnny antusias.

"Jeno masih boleh ikut kan, Om?" tanya Jeno yang pandangannya lurus ke depan.

"Of course. Asalkan Jeno nggak menyusahkan saya." sahut Johnny terkekeh.

Jeno memberengut sebal. "Kalau gitu darimana Om Johnny mau memulainya?" tanyanya kemudian.

"Perancis, maybe." sahut Johnny. "Saya pengen kesana sejak dulu.
Nggak tahu kenapa saya suka negara tersebut." jawab Johnny jujur.

"Not bad. Siapa tahu Om Johnny bisa dapet jodoh disana." Jeno terkekeh.

Johnny tertawa. "Jeno mau melihat saya menikah?" tanyanya.

"Ya jelas dong. Emang Om Johnny nggak mau nikah dan punya anak? Nggak mungkin dong Om Johnny seumur hidup mau mengurus Jeno terus?" Jeno ikut tertawa.

"Saya juga akan menolak keras kalau diberi tawaran mengurus Jeno seterusnya." sahut Johnny.

"Kenapa?" tanya Jeno.

"Ya suatu saat nanti Jeno pasti harus bisa dong berjalan sendiri. Melakukan semua sendiri. Tanpa saya atau Damian. Katanya Jeno bukan anak kecil lagi kan?" seringai Johnny.

Jeno mengerucutkan bibirnya. Ucapan Johnny ada benarnya. Kelak, ia memang harus bisa berlari dengan kakinya sendiri. Berjalan dengan kakinya sendiri. Dan melakukan semuanya sendiri. Bahkan mengambil keputusannya sendiri. Selama ini ia selalu bergantung pada Johnny dan Damian. Tapi kelak, seperti yang Johnny bilang, ia akan menjalani hidupnya sendiri tanpa dua malaikatnya, Johnny dan Damian. Ia harus bisa menggunakan sayapnya sendiri tanpa bantuan orang lain.

"Tapi Om Johnny dan Kak Damian nggak boleh kemana-mana. Meski kelak Jeno bisa berjalan dengan kaki Jeno sendiri, kalian nggak boleh meninggalkan Jeno." ujar Jeno seraya tersenyum.

Johnny mengacak pelan rambut Jeno. Bagaimana mungkin ia akan meninggalkan Jeno? Baginya, Jeno adalah harta paling berharga yang ia miliki. Ia tak akan membiarkan Jeno merasa kesepian dan sendirian. Ia akan terus memastikan kalau Jeno selalu merasa memiliki teman di dunia ini. Tak akan ia tinggalkan Jeno apapun yang terjadi. Itu janjinya dan Damian pada Anne dan Dimas tujuh belas tahun silam.

"Jeno juga nggak boleh kemana-mana. Tetap disini sama saya dan Damian meskipun kelak Jeno bisa menggunakan semua sayap Jeno sendiri tanpa bantuan orang lain." ujar Johnny.

Jeno lantas tersenyum. Lega rasanya memiliki Johnny dan Damian dalam hidupnya. Seperti dunianya tak pernah sepi dan hampa. Johnny dan Damian adalah teman, kakak, sahabat dan pendamping yang luar biasa baginya. Dan ia bersyukur atas hal itu.

👑👑👑

Johnny memicingkan kedua matanya saat mendapati remaja laki-laki tampak berlari kecil ke arahnya. Ia lantas melirik Jeno yang sedang menikmati permen jelly-nya tanpa suara di sebelahnya.

A LITTLE PRINCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang