Jeno berjengit kaget ketika tangan hangat ayahnya menyentuh tangannya yang sedikit dingin malam itu. Ketahuan sekali kalau ia tengah melamun. Namun ia segera mengulas senyum tipis ketika sang ayah mengambil duduk di sisinya.
"Nggak dingin?" tanya Dimas seraya menarik tangannya dari tangan Jeno. Ia tak mau membuat anak itu tak nyaman.
Jeno menggeleng.
"Masuk yuk!" ajak Dimas. "Disini banyak nyamuk. Udah malem juga." katanya seraya mengusap lembut kepala belakang Jeno.
"Jeno baru duduk disini, Yah." sahut Jeno.
"Nggak sadar atau gimana? Jeno disini udah hampir setengah jam." Dimas terkekeh pelan.
"Bohong," Jeno tak percaya.
"Nggak percaya. Coba tanya aja sama Johnny dan Damian. Mereka sampai jenuh nunggu Jeno tuh di depan pintu." Dimas menoleh ke belakang demi menunjuk dua pria yang masih setia duduk di sofa yang ada di teras belakang. Menemani Jeno dari jauh.
Jeno ikut menoleh ke belakang sejenak kemudian menatap ayahnya. "Jeno nggak sadar." katanya.
"Jeno suka duduk disini?" tanya Dimas.
Jeno mengangguk. "Sepi. Nggak berisik. Pokoknya tenang. Kalau di kamar terus Jeno bosen juga." katanya.
Dimas mengerti sekali perasaan putranya itu. Jeno pasti benar-benar bosan hanya terus berada di dalam rumah. Terutama di dalam kamarnya. Tapi dokter-dokternya memang melarang Jeno melakukan aktivitas di luar rumah setelah kejadian satu minggu lalu. Ketika tiba-tiba anak itu tak sadarkan diri setelah mengeluh dadanya sakit.
"Jeno udah seminggu nggak sekolah, Yah. Baru masuk sebentar udah absen seminggu aja." Jeno menghela napas panjang.
"Harusnya Jeno nggak usah maksa pengen balik ke sekolah kalau akhirnya begini lagi." sesalnya.
"Jeno ngerepotin terus ya, Yah?" gumamnya.
"Enggaklah. Kalau Jeno ngerepotin, Ayah sama Bunda nggak akan sampai sejauh ini buat bikin Jeno kembali seperti semula." sahut Dimas. Ia sedikit tak terima dengan ucapan Jeno tentang merepotkan. Tak ada yang merepotkan disini.
"Kalau Jeno nggak lulus sekolah, Ayah nanti malu. Terus Bunda juga ikutan malu dan jadi omongan orang karena punya anak bodoh seperti Jeno." tukas Jeno.
"Kalau nggak lulus ya bisa di ulang sampai lulus. Nggak masalah. Itu bukan sesuatu yang memalukan, Jeno." sahut Dimas. Ia bukan mencoba menghibur. Ia hanya berusaha mengatakan realita yang ada.
"Dan jangan lagi menyebut diri Jeno bodoh. Nggak ada seorang manusia yang terlahir bodoh." timpalnya.
"Tapi Jeno pengen lulus bareng sama Jeremy, Chandra dan Juna." Jeno penuh harap.
"Bisa. Jeno pasti bisa kalau Jeno yakin bisa melakukannya." Dimas meletakkan tangannya di tengkuk Jeno yang sedikit lebih dingin. Memijatnya pelan.
Pandangan Jeno mengangkasa. Menatap langit malam yang dipenuhi bintang gemintang itu. "Sekarang Jeno tahu, untuk dikenang menjadi sang baik, Jeno harus hidup dengan baik juga." gumamnya.
"Seperti Bunda. Semua orang tahu, Bunda orang yang baik dan suka berbagi. Bunda orang yang ramah dan penuh cinta. Maka dari itu semua orang sayang sama Bunda." Jeno menambahkan dengan suara lebih terdengar jelas.
"Jeno bisa nggak ya hidup seperti Bunda?" Jeno menoleh dan menatap ayahnya.
Dimas menarik sudut bibirnya membentuk seulas senyum tipis. Cukup tergelitik dengan pertanyaan putranya. Bahkan semua orang tahu, Jeno telah hidup persis seperti Anne. Penuh cinta dan kasih. Layaknya malaikat tanpa sayap. Tapi anak itu benar-benar belum menyadarinya. Atau memang anak itu menyadarinya hanya saja masih selalu merasa belum pantas dikatakan seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
General Fiction"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
