"Ampun, Om. Jangan pukul Jeno lagi. Jeno mau pulang. Jeno mau ketemu Ayah sama Bunda...."
Pria tinggi dengan setelan jas hitam dan topi fedora itu tak peduli. Tangannya terus mengayunkan sebuah pecut untuk menyiksa anak laki-laki berusia sepuluh tahun di depannya.
"Biar nanti om sampaikan ucapan selamat tinggal untuk Ayah dan Bunda. Jeno cukup diam saja disini sama om."
Anak kecil usia sepuluh tahun itu menangis tersedu-sedu. Seluruh tubuhnya sudah dipenuhi luka cambuk. Bagian wajahnya juga sudah memar disana sini. Bahkan anak itu sudah tak bisa lagi menangis saking lelahnya meminta ampun pada orang yang menyiksanya.
"Ucapkan selamat tinggal untuk anak kamu, Dimas!"
Jeno membuka matanya dengan napas memburu. Ia tatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi lampu kristal yang masih menyala. Ia diam beberapa detik lalu beringsut duduk dan mengusap wajahnya yang berkeringat. Mimpi itu lagi.
"Bunda," Jeno mendapati ibunya duduk di sisi ranjangnya, tanpa bicara apapun lagi ia langsung menghambur ke pelukan wanita itu. Entah sejak kapan beliau ada disana. Ia tak peduli. Sibuk mengatur napasnya.
"Mimpi itu lagi ya?" tanya Anne seraya mengelus punggung putranya itu.
Jeno mengangguk di pelukan Anne. "Serem banget, Bunda." gumamnya.
"Mau coba konsultasi lagi ke dokter Maura?" tanya Anne.
Jeno menggeleng. "Nggak mau, Jeno takut." tolaknya.
Anne tak menyahut lagi. Yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah memberi ketenangan pada Jeno yang baru saja diserang mimpi buruk lagi.
"Bunda kok ada disini?" tanya Jeno yang masih memeluk Anne.
"Bunda haus tadi, sekalian bawain air putih yang baru buat Jeno. Eh Bunda malah liat Jeno tidurnya agak gelisah. Ya udah Bunda temenin." jelas Anne.
Jam masih menunjukkan pukul dua dinihari. Anne memang sering terbangun tengah malam. Entah karena haus atau harus ke toilet. Dan setelahnya ia akan mendatangi kamar Jeno. Memeriksa apakah putranya itu tidur dengan tenang. Karena sejak kejadian itu, tidur Jeno tak pernah tenang dan damai.
"Kali ini Jeno ada dimana?" tanya Anne kemudian. Mencoba bertanya mengenai mimpi yang dialami Jeno malam ini.
"Di dalem lift tapi lampunya hampir padam, Bun. Setelah itu ada asap yang Jeno nggak tahu berasal darimana. Jeno takut banget, Bunda. Jeno nggak bisa napas." anak itu mempererat pelukannya pada Anne.
"Sekarang udah aman. Jeno ada sama Bunda di kamar yang luas dan nggak ada asap." Anne menepuk-nepuk punggung putranya itu.
Jeno mengangguk singkat. Anne benar-benar membenci kejadian itu. Kejadian yang akhirnya membuat putranya menjadi seperti ini. Bisa dikatakan kejadian itu adalah sejarah kelam untuk keluarganya. Benar-benar kelam dan ingin ia kubur dalam-dalam. Namun nyatanya tak bisa. Putranya belum bisa lepas dari bayangan mengenai kejadian tersebut. Itu yang membuat Anne merasa sangat gagal menjadi seorang ibu.
👑👑👑
Anne akhirnya bisa bernapas lega saat swalayan yang ia datangi kali ini tidak terlalu penuh pengunjung yang berakhir pekan. Ia benar-benar bersyukur akhirnya menemukan swalayan dengan intensitas pengunjung sangat sedikit. Sejak tadi ia sudah mengecek semua swalayan yang ada di Jakarta. Dan semuanya padat.
Ada alasan tersendiri kenapa Anne sangat selektif memilih swalayan yang akan ia datangi. Hari ini Jeno merengek ingin ikut serta dengannya yang hendak belanja bulanan. Niat awalnya ia hanya akan pergi bersama Dimas dan satu supir saja. Namun Jeno mengacaukan rencana indahnya. Anak itu memaksa ikut.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LITTLE PRINCE
Ficción General"Gue penasaran, kalau gue mati, gue bakal dikenang sebagai apa? Sebagai siapa? Gue merasa hidup gue gini-gini aja, nggak ada indah-indahnya. Yang ada monoton." - Jeno Wiratama, yang menyukai hujan, senja dan kesederhanaan.
