005. Obrolan di Makan Malam

265 14 0
                                        

Karena Boo -ah, maksudnya Blake, karena di rumah ini yang memanggilnya Boo hanya Lava saja- yang mengulet manja di pahanya, Sherly tidak bisa menganggurkan buntalan hitam berbulu itu. Gadis itu duduk bersila di ambalan, bersandar nyaman pada sofa di belakangnya. Tangan kirinya digunakan untuk mengelus Boo dengan penuh kasih sayang, sementara tangan kanannya bertumpu pada sofa di sebelah dan memegang ponsel yang bergantian meraih potongan buah di atas piring. Walau agak kerepotan, tapi gadis itu sama sekali tidak merasa terganggu.

"Sher." Sherly hanya berdeham. "Gue liat liat, makin sini anak lo makin gak tahu diri. Gak ada niat lo kasih ke orang atau ke jual aja gitu? Temen gue banyak noh yang suka adopsi kucing."

Lalu begitu saja, kilatan mata Sherly berubah tajam. Mendongak menatap seorang pemuda tampan yang setengah berbaring di sofa tempat Sherly menumpukan tangan juga menaruh piring buahnya -karena sebenarnya mereka memang berbagi makanan sejak tadi-.

"Enak aja!" Tak perlu berpikir banyak, Sherly mengamankan Blake dalam pelukannya. "Lo tau sendiri perjuangan gue besarin ni kucing kayak gimana. Sembarangan banget pas udah gede gini malah dikasih ke orang," protes yang lebih muda mengomel sebal membuat Rezvan hanya bisa menarik nafas panjang.

Tepat sekali, Rezvan tahu bagaimana perjuangan Sherly membesarkan Boo. Hanya saja dia tidak tega pada Lava yang hampir setiap hari harus berseteru dengan alerginya sendiri tiap kali dia berinteraksi dengan Boo. Kenapa, sih, manusia-manusia di rumah ini tak ada yang pernah satu suara dengan dirinya untuk membuang Boo?

Sementara Boo, sebenarnya dia sadar diri namun dia sama sekali tidak peduli. Biarkan saja Rezvan membencinya seperti itu, toh itu tak akan mengubah apapun. Lagipula Rezvan tak pernah sekalipun memberikan makanan untuknya. Bahkan Lava saja yang notabenenya menjadi alasan Rezvan tak suka padanya sama sekali tidak akan melakukan hal itu. Jadi walaupun Rezvan menatapnya mencibir, Boo hanya memejamkan mata dengan damai dan menikmati sentuhan penuh kasih yang Sherly berikan. Bersama Sherly, Boo memang akan menjadi kucing paling kalem di dunia. Sangat kontras dengan kebiasaannya saat bersama Lava.

"Oh ya, Res, kenal Al nggak?" Tanya Sherly seakan teringat. "Gila, gue baru inget dong kalo lo anak FK hahahaha."

Rezvan mendecak, sedikit tersinggung oleh penuturan sepupunya itu. Bisa-bisanya Sherly lupa jurusan yang diambil oleh Rezvan. Padahal Rezvan tahu hal-hal tentang Sherly. Ya memang tidak sebaik Rezvan mengetahui kehidupan Lava, tapi setidaknya Rezvan ingat tanggal ulang tahun Sherly.

"Ih, kenal nggak?"

"Al siapa sih? Anak FK banyak kali yang namanya Al."

"Ck, Al pacar gue."

"Lah, lo punya pacar?" Kali ini, gantian Sherly yang dibuat merengut. Gadis itu mendecak geram, tanpa permisi mencubit perut Rezvan.

"Jahat banget," keluh Sherly kesal.

"Ya gue gak tau, Sher. Lo gak pernah cerita." Rezvan betulan tidak tahu tentang hal itu. Dan ketidaktahuan Rezvan menyentil salah satu bagian dalam diri Sherly. Jujur saja, sedikitnya dia merasa cemburu pada Lava.

"Sana lo pulang, gak usah ke rumah gue lagi," usir yang perempuan, lalu kembali dibuat tak berdaya saat Rezvan bahkan sama sekali tidak penasaran dengan sosok Al yang tadi dia sebutkan.

Rezvan menghela nafas panjang. Bingung sendiri kesalahan apa yang dia perbuat sampai membuat Sherly marah seperti ini. Bukan maksud pilih kasih, hanya saja Rezvan tidak pernah memperhatikan Sherly sebanyak dia memperhatikan Lava. Dan Rezvan tak sadar bahwa Sherly cemburu dengan hal itu.

Ah, lupa. Ini adalah malam minggu. Jadi wajar jika Rezvan ada di rumah Sherly sekarang. Sebab sejak kecil, laki-laki itu memang akan selalu datang untuk menginap, dan menjadi kebiasaan yang masih terbawa sampai sekarang. Dia lebih suka menghabiskan sabtu malamnya bersama kedua sepupunya -khususnya Lava, daripada nongkrong di luar. Sekalipun dia pergi bersama teman-temannya dan pulang tengah malam, dia akan tetap pulang ke rumah Sherly. Katanya sih kasihan sepupu-sepupunya ini gak ada yang ngapelin. Rezvan baru tahu kalo ternyata Sherly punya pacar, dan Rezvan tahu kalo Lava dan Dimas menjalin hubungan diam-diam.

Lava dan Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang