"Gue perhatiin, IG lo sekarang isinya Satria semua dah."
"Hah? Masa, sih? Gak usah ngarang deh."
"Yeuuu, ngapain juga gue ngarang. Lu posting poto si Satria ampir 3 hari sekali."
"Loh masa? Aneh, ya? Aku hapusin deh."
"Nggak lah, gak aneh, justru bagus tau, hahahaha."
Bagaikan suara angin yang membelai raganya, perbincangan singkat yang diakhiri dengan tawa setan nan menyebalkan sang saudara tercinta Rezvan turut berbisik di antara ramainya suara kendaraan. Pada dasarnya Lava tidak peduli akan hal itu. Toh dirinya dan Satria sudah berteman untuk waktu yang sangat lama. Wajar saja, bukan, jika akun Instagram pribadinya dipenuhi oleh segala hal tentang sahabat? Mengingat saat ini memang hanya Satria yang tersisa di sampingnya.
Namun saat kalimat itu terdengar sekali lagi, Lava merasa ada yang tidak beres. Bukan pada hubungannya dengan Satria, melainkan dirinya sendiri. Ada yang tidak beres dalam diri Lava.
Lava pikir, dia dapat berpegang teguh pada pendiriannya. Bisa menjadi salah satu contoh bahwa laki-laki dan perempuan bisa benar-benar bersahabat tanpa melibatkan apapun. Namun ternyata dia salah, dia sudah kalah. Sebab Lava berharap ada sesuatu yang lebih di antara dirinya dan Satria.
Lava benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya sekarang. Saat menemukan dirinya berada di antara keramaian dan aroma asap kendaraan yang tak sedap, dia sangat menikmati itu. Sebab ada punggung tegap Satria yang dia jadikan sandaran dan aroma khas bocah itu yang dia hirup dalam-dalam. Lava tak peduli pada matahari yang mulai merangkak turun dari singgasananya, sebaliknya, dia mensyukuri setiap kehangatan yang diciptakannya.
Dulu, dulu sekali, sebelum Lava pacaran dengan Dimas, Satria pernah bilang, "Gue gak mau lo pacaran, Lav. Gue gak mau liat lo sakit hati. Manusia yang lagi ngomong sama lo ini cowok, dan sebagai cowok, gak semua hal tentang lo mampu gue terima."
"Tapi Kak Dimas itu beda, Sat. Lo liat sendiri gimana effort dia buat gue."
"Nggak, gue gak setuju pokoknya."
"Satria, please, kasih gue satu kesempatan buat buktiin kalo Kak Dimas gak sebrengsek itu."
"Kalo lo gagal, gimana?"
"Kalo gue gagal, gue janji cuma bakal jadi ekor lo."
Lantas, saat lampu hijau mulai berganti merah padahal motor mereka belum sempat menyebrang, ada kalimat lain yang Lava dengar. Sebuah perbincangan yang dipeluk marah saat Lava tak percaya bahwa Dimas selingkuh di belakangnya.
"Lo pikir lo sehina apa, sih, Lav? Lo sempurna, lo berharga! Banyak cowok lain di luar sana yang lebih pantes buat dapetin lo."
"Tapi di samping itu semua belum tentu mereka bisa nerima kekurangan gue!"
"Gue, Lav! Gue bisa nerima semua kekurangan lo. Kalo setelah putusin dia lo gak bisa nemuin cowok yang bisa nerima kekurangan lo, lo dateng ke gue! Gue ngabisin sepanjang hidup gue cuma sama lo! Gue tau lebih banyak tentang lo! Apa gue pernah ninggalin lo? Enggak!"
Macam kaset butut, satu persatu kalimat yang sempat Satria dan dirinya ucapkan untuk mereka kembali terdengar dengan jelas. Lava merasa dirinya berada mesin waktu dan sedang menjelajahi masa lalu, melihat sedikit demi sedikit masa yang sudah dia lalui bersama Satria.
Saat Lava menautkan jemarinya di dalam saku sweater yang dikenakan Satria, anak itu menyadari satu hal. Dia memang kalah karena tak mampu bertahan dalam status persahabatan dengan Satria, namun dia tak sepenuhnya salah. Sebab mau bagaimanapun juga, Satria turut andil di sana. Jika saja sikap sahabatnya tidak berubah, maka Lava tidak akan berpikiran macam-macam seperti sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lava dan Luka
Teen FictionLava sadar bahwa dirinya selalu dinomorduakan. Tapi dia memilih menjalani hidup dengan bahagia daripada meratapi kesedihannya. Walaupun orang tuanya tidak pernah menganggapnya ada, toh Lava masih mempunyai saudara yang selalu ada untuknya, pacar yan...
