Mungkin Lava memang sudah berkata selesai pada hubungan yang ia jalani bersama Dimas. Tapi dia tahu bahwa semua tidak berakhir begitu saja. Saat memberi jeda panjang supaya otaknya bisa kembali bekerja dengan benar, ia sepenuhnya sadar bahwa dirinya hanya memutuskan Dimas via suara. Tanpa penjelasan apa-apa, tanpa memberitahu apa yang salah dengan hubungan mereka. Anak itu sudah membaca mantra bahwa dia tidak akan terkejut saat mendapati Dimas berada di depan sekolah atau supermarket dekat perumahannya untuk menuntut penjelasan. Walau tidak yakin dirinya akan baik-baik saja atau tidak jika betulan bertemu Dimas, tapi Lava berusaha memantapkan diri. Bahkan Lava sudah bersiap untuk itu, menyiapkan berbagai macam kebohongan yang akan membuat Dimas benci dan tidak sudi melihat wajahnya lagi. Tapi sama sekali tidak ada dalam daftar rencana seandainya yang datang menemuinya bukan Dimas, melainkan salah satu sahabat mantan kekasihnya.
Di hadapan Jere, Lava tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak tahu kebohongan jenis apa yang bisa mengelabui lelaki itu supaya tidak banyak bertanya dan menyudutkan. Entah Jere tahu atau tidak tentang kelakuan sialan Dimas, tapi Lava tidak mau Jere tahu bahwa dia sudah tahu tentang hal itu. Sama seperti yang sudah ia sepakati dengan dirinya sendiri, Lava akan tetap pura-pura tidak tahu. Ia khawatir buntutnya akan mempengaruhi Sherly. Apa yang mungkin Jere lakukan jika lelaki itu tahu bahwa Sherly adalah Kakak Lava?
Sejauh Lava mengenal kakaknya, Sherly Arunika adalah sosok yang sulit untuk jatuh cinta. Sejak kecil ia adalah penggemar berat Mbak Nana. Alih-alih memikirkan sosok pangeran idaman dan merengek pada laki-laki hanya untuk hal-hal sepele, Sherly lebih suka berusaha semampu yang ia bisa. Jika dia tidak mampu, yasudah, dia akan merelakannya. Bukan karena ego tinggi atau kesombongan dan segala macamnya, tapi karena Sherly ingin menjadi salah satu bukti hidup bahwa perempuan juga bisa sehebat laki-laki. Jadi ketika Sherly sudah jatuh cinta, ia akan jatuh sejatuh-jatuhnya sampai tidak akan tahu bagaimana caranya bangkit. Jika Sherly sampai tahu Dimas adalah lelaki yang selama ini Lava bangga-banggakan, mungkin kakaknya akan jauh lebih kacau dari Lava.
Lava bukan sedang peduli pada Sherly, sungguh. Hanya saja ia belum siap jika semua itu terbongkar secepat ini. Tidak seru.
Masih sama sejak bermenit-menit lalu saat lelaki itu menyerahkan sebotol minuman stimulasi padanya, Lava masih saja menunduk menatap sepasang sepatunya yang menapaki teras putih pelataran Indomaret yang nyaris sepi tanpa pengunjung. Lagipula, manusia normal mana yang akan nongkrong di indomaret tengah hari di hari kerja begini? Sementara berbatasan meja dengannya, Jere tidak sedikit pun melepaskan tatapannya dari Lava. Dengan senyuman yang sama, senyum manis yang jika Ara melihatnya maka anak itu pasti akan berubah jadi reog detik ini juga.
Usia Lava memang masih belasan tahun, tapi gadis itu nampak lebih dewasa daripada pertemuan terakhir mereka. Rambutnya tergerai lebih panjang, menutupi sebagian leher jenjang gadis itu. Untuk ukuran remaja, pundaknya nampak begitu kokoh dan tegap, seakan dia bisa menantang dunia kapan saja. Bagian yang selalu menarik perhatian Jere. Padahal Jere tahu bagaimana Lava dibuat berantakan oleh semua yang dunia lakukan padanya.
"Kak Jere." Jengah dipandangi oleh cowok ganteng satu ini, Lava memutuskan membuka suara. "Mau ngomong apa?"
Detik di mana Lava mengangkat wajah menatapnya, Jere tertawa. "Gak usah tegang gitu kali, Lav, gue ke sini bukan mau nembak lo kok."
Lava mendecih, memasang wajah julid tanpa dibuat-buat. Dia betulan kesal dengan Jere sekarang.
"Gue cuma mau memastikan aja." Lelaki itu berkata dengan hati-hati. "Lo..., beneran putusin Dimas?"
Ada sudut dada yang terasa begitu nyeri saat mendengar pertanyaan Jere, tapi Lava tidak bisa melakukan apapun selain mengangguk membenarkan. Lagi pula memang benar, Lava putusin Dimas. Dia sudah putus dengan Dimas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lava dan Luka
Fiksi RemajaLava sadar bahwa dirinya selalu dinomorduakan. Tapi dia memilih menjalani hidup dengan bahagia daripada meratapi kesedihannya. Walaupun orang tuanya tidak pernah menganggapnya ada, toh Lava masih mempunyai saudara yang selalu ada untuknya, pacar yan...
