004. Seperti Senja

281 15 0
                                        

Hari sudah sepenuhnya sore, tapi langit masih sama birunya saat Dimas memutuskan membawa motornya ke pantai di Jakarta Utara sore itu. Sepanjang perjalanan, keduanya berbicara tentang banyak hal. Seolah pertengkaran tiba-tiba mereka di depan supermarket tadi sama sekali tak pernah terjadi. Entahlah, tapi baik Dimas maupun Lava, memutuskan untuk tidak memperpanjangnya lagi setelah satu permintaan maaf yang keluar dari mulut si gadis. Dibalas dengan permintaan maaf pula oleh yang laki-laki, sebagai bentuk kesadaran bahwa tak seharusnya dia membiarkan Lava pergi begitu saja. Ya pikirkan saja, jaman sekarang, di mana lagi Dimas bisa menemukan perempuan tahu diri yang mau minta maaf duluan seperti Lava? Sebenarnya ada banyak, hanya saja Dimas tak yakin mereka mau pada dirinya.

Tapi jauh dari pada alasan itu, Dimas sadar diri bahwa dirinya yang mengajak Lava keluar dan itu bukan untuk bertengkar. Dimas ingin membawa Lava menyegarkan pikiran karena setidaknya, dalam satu minggu ke belakang, Dimas tak tahu apa saja keramaian isi kepala gadisnya. Entah mungkin Lava masih saja overthingking tentang keluarganya, entah mungkin Lava mengkhawatirkan dirinya karena selama beberapa hari lalu Dimas sangat sibuk sampai tak sempat membuka ponsel, entah mungkin Lava takut nilainya turun karena gadis itu sedang sangat gemar menonton drama daripada belajar. Dimas tak tahu yang mana yang benar, namun yang pasti, Dimas tahu bahwa isi kepala Lava selalu saja berisik dan mengganggu.

Angin berhembus pelan menerbangkan rambut sebahu Lava. Dimas menaruh helm yang diangsurkan gadisnya di atas motor, dan baru saja akan membuka helmnya sendiri saat Lava tiba-tiba melompat riang membuat Dimas tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Lava memekik girang, terlihat sangat bersemangat saat menemukan pasir putih, seolah seumur hidup dia tak pernah pergi ke sana.

Sesaat, Dimas teralihkan saat ponsel dalam saku jaketnya yang bergetar. Sembari berjalan pelan mengikuti Lava, Dimas menunduk untuk mengetik beberapa pesan membalas bubble chat yang masuk. Laki-laki itu bahkan sampai tak sadar bahwa di depannya, Lava sudah bersenandung riang sambil menari berputar-putar. Dimas menyadari bahwa Lava tetap cantik seperti biasanya. Namun laki-laki itu tak pernah tahu bahwa dengan celana kain high waist putih dan blouse senada bertali di kedua sisi pinggangnya dan diikat rapi sampai mengikuti bentuk tubuhnya, Lava nampak sempurna. Tangan mungil gadis itu terangkat ke atas membentuk lengkungan tubuh yang sempurna. Padahal biasanya Dimas selalu suka adegan ini. Adegan di mana Lava menari seperti seorang balerina handal yang sedang menggelar konser solo di atas panggung yang megah. Namun kali ini, dia melewatkannya.

Terlalu lama tak ada reaksi dari kekasihnya, Lava berhenti. Gadis itu menoleh, pada Dimas yang masih berjalan lamban. "Kak!" Panggil yang perempuan, membuat Dimas spontan mendongak menatap Lava masih dengan sisa senyum yang dia punya.

"Ya?" Lalu Dimas berdeham, seakan tersadar. Laki-laki itu jadi berjalan cepat menghampiri Lava yang menatapnya lurus. "Kenapa?"

"Fotoin." Dan tiba-tiba, perasaan itu menguap entah kemana. Melihat Lava yang memejamkan mata dan mengembangkan pipi sampai membuat bibirnya maju, Dimas tersenyum lega begitu saja. Laki-laki itu tak berpikir lama untuk membuka kamera dan memotret gadisnya seperti yang dia inginkan.

"Kita ke sana, yuk? Nyari tempat yang lebih bagus." Dimas masih tak menurunkan kamera dan menangkap kamera dalam mode video saat Lava berjalan mendekat dan mengajaknya berpindah.

"Kamu udah makan?" Lava yang sudah berdiri di samping Dimas jadi mendongak, kemudian mengangguk.

"Kenapa? Kamu belum makan?" Sama seperti Lava, Dimas menunduk dan mengangguk.

"Yaudah, kalo gitu kita makan dulu aja, yuk!"

Dimas mengangguk, kemudian tersenyum membuat Lava ikutan tersenyum. Keduanya berjalan beruntun di pinggir pantai sore itu. Dimas memimpin jalan, berjalan santai dengan Lava yang mengekor agak merapat di belakangnya. Sementara Lava mencengkram ujung kiri kemeja Dimas, menganggurkan kedua tangan pacarnya yang bergerak bebas di kedua sisi tubuhnya. Lava bukannya tak mau menggandeng atau memeluk lengan Dimas, hanya saja dia lebih nyaman memegang ujung baju yang Dimas gunakan. Itu sudah menjadi kebiasaan bagi Lava. Yang membuat Dimas juga selalu memakai baju luar supaya Lava bisa leluasa berpegangan padanya.

Dari sisi yang lebih jauh, keduanya menjadi pemandangan yang begitu indah. Walau ada banyak orang yang berlalu lalang di sekitar mereka, tapi dalam bingkai yang direkam semesta hanya fokus pada keduanya. Bersama deburan ombak dan lukisan awan di atas sana, semuanya nampak begitu sempurna.

Usai menikmati makanan di salah satu restoran yang tersedia di sekitar pantai, keduanya memilih berdiam di sana sampai hari sepenuhnya petang. Lava hanya memesan makanan ringan dan minuman saja, sebab dia benar-benar sudah kenyang oleh makanan yang dibelikan Satria di supermarket tadi. Selain itu dia juga sempat makan beberapa potong bolu yang dibuat oleh Syahnaz -adik Satria.

Keduanya kembali menikmati perjalanan mereka dengan cara yang sama. Lava mengoceh panjang lebar tentang apa saja yang dia lalui seminggu ke belakang. Sesekali Dimas tertawa saat ada bagian yang lucu dari cerita Lava, kemudian kembali bertanya membuat Lava sangat antusias untuk bercerita. Lalu keduanya spontan berhenti dan bersandar di pembatasan jembatan yang ada di sana dan berdiri menghadap senja.

Sepanjang hari, selain kecantikan Lava, ada satu hal lagi yang lelaki itu mulai sadari. Ini bukan kali pertama mereka melihat senja bersama. Dan setiap kali melihat perubahan warna langit barat itu, Dimas selalu menemukan senyum lebar yang Lava pamerkan. Itu adalah senyum paling bahagia yang pernah Dimas lihat. Senyum yang bukan hanya terlukis di bibirnya, namun juga terbawa sampai mata. Damai. Jadi alih-alih melihat senja, Dimas lebih suka melihat wajah Lava.

"Kapan-kapan kita ke puncak, yuk?" Ajak Dimas tanpa mengalihkan wajahnya. "Senja di sana pasti lebih cantik."

Lava tertawa, menyadari arah pembicaraan Dimas. "Kamu tahu gak kenapa aku selalu suka sama senja?" Lalu saat Lava menoleh membalas tatapan Dimas, laki-laki itu sama sekali tidak berusaha mengalihkan wajahnya. Dia justru menikmati paras Lava dari jarak dekat.

"Kenapa?"

"Karena," lalu Lava kembali menoleh, menerawang jauh ke langit barat sana. "Senja itu ibarat spasi dan jeda. Dia adalah tempat bersandar, dia adalah sebaik-baiknya tempat untuk istirahat."

"Hmm?"

"Kamu tau, seharian ini bumi sangat kelelahan. Sepanjang hari matahari tak berhenti membuatnya kepanasan. Lalu saat matahari pulang ke peraduannya, itu adalah saat yang tepat bagi bumi beristirahat. Setidaknya, sejenak. Tapi walau begitu, pada senja, bumi menceritakan semuanya."

"Jadi maksud kamu, senja adalah tempat bumi pulang?"

"Iya, kurang lebih kayak gitu."

"Tapi kan senja cuma sebentar, Lava. Mungkin dia hanya sebagai persinggahan."

Lava tidak bisa menahan diri untuk tidak tergelak. "Kak, walaupun cuma sebentar, tapi senja selalu datang lagi. Setiap hari dia akan kembali dan mendengarkan semua cerita yang dimiliki bumi."

Kini gantian Dimas yang tergelak. Dan saat itu, Lava menoleh. Dia merekam wajah Dimas dalam gerak lambat dan menyimpannya di ruang khusus dalam hatinya. Suara Dimas akan selalu menjadi candu baginya.

"Kak Dimas kayak senja."

"Ya?" Dimas langsung menoleh dengan wajah heran tanpa dibuat-buat.

Lava kembali tersenyum. "Kak Dimas indah, dan hangat."

Laki-laki itu mengangkat alis. Untuk beberapa waktu dia tergagu. Tapi saat kesadarannya kembali terkumpul, Dimas tersenyum tipis mengangkat tangan untuk merengkuh pundak Lava. Dimas membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

Lalu angin yang saat itu berhembus kencang bukan hanya menerbangkan rambut Dimas yang sudah memanjang, tapi juga membawa seucap kata maaf dari hati tiba-tiba yang mencelos merasa bersalah.

































Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lava dan Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang