Pagi-pagi sekali Lava sudah terjaga, duduk rapi di meja belajarnya bersama dengan beberapa buku tebal dan pena bertinta warna-warni yang dia gunakan bergantian untuk menandai rumus dalam lembar jawaban yang sedang dia pelajari. Hari ini ujian akhir semester akan dimulai. Lava tidak mau nilai yang selama ini dia usahakan dengan susah payah berakhir rusak hanya karena perkara patah hati. Walau sangat berat baginya untuk mampu fokus kembali, tapi sedikit demi sedikit anak itu mampu belajar berdamai dengan diri sendiri.
Sungguh, sampai saat ini Lava masih tidak tahu apa itu sembuh. Rasa sakit itu masih ada di tempat yang sama. Bahkan semua luka itu masih berdarah-darah tepat seperti saat pertama kali dia mendapatkannya. Namun dalam setiap goresan tinta merah dan angka-angka di buku belajarnya, Lava teringat kembali pada tubuh Satria yang terbaring tak berdaya di rumah sakit minggu lalu. Lantas ingatan itu berjalan pada keputusan paling gila yang pernah dia ambil dalam hidupnya.
Pertanyaan yang Lava kerjakan berikutnya turut membawa anak itu pada ingatan tentang Ara. Suara cempreng si sahabat gila yang berteriak bagai orang kesetanan itu kembali terdengar di telinganya, membuat sebuah senyum terlukis di wajah Lava. Itu memang bukan senyuman indah yang pernah gadis itu berikan, bukan pula senyum lebar seolah dia menyambut dunia dengan semangat hari ini. Melainkan sebuah senyum sederhana yang nampak begitu tulus namun juga menyakitkan. Ada sebuah harapan yang perlahan dia lepaskan melaluinya, juga sebuah ikhlas yang dengan susah payah berusaha dia genggam.
"LAVA! AAAAAAA DASAR LO ORANG GILA!"
Hari itu, kamar Lava yang biasanya hanya dipenuhi oleh alunan lagu cinta dan segala bentuk kalahnya, untuk pertama kalinya dipenuhi oleh suara Ara. Lebih dari itu, tanpa tahu malu, Ara melompat ke ranjang dan berputar-putar di sana. Menutupi bagian atas tubuhnya dengan selimut, melemparkan bantal, mengacak rambutnya sendiri, bahkan sampai membalikkan badan dan berteriak keras di permukaan ranjang. Sementara si pemilik kamar hanya tertawa sumbang menyadari betapa merahnya wajah Ara kali ini.
"AAAAAA GUE MALU!" Ara masih saja berteriak. "LAVA EMANG UDAH GILA!" Pekik Ara, kali ini melemparkan bantal terakhir yang ada di sebelahnya pada si pemilik kamar.
"ELO YANG UDAH GILA!" Balas Lava tak kalah melengking. Kurang ajar emang si Ara ini. Orang lagi enak-enak ketawa malah ditimpuk. Kan, Lava jadi kaget. Tawanya yang khidmat terganggu sudah.
"Sumpah ya, Lav, lo -argh!" Dengan geram Ara meremas udara, membayangkan wajah cantik Lava lah yang berada dalam genggamannya.
"Apa lagi, sih? Udah ketemu camer juga," ledek Lava sebal. "Cie abis ketemu camer, cieeee." Berikutnya anak itu malah menggoda Ara sampai wajahnya yang merah kembali parah. Dan tak ada yang tahu bahwa hati Lava juga ikut memerah, kembali berdarah.
"BACOT1"
"Alah bacot bacot aslinya lo seneng, hapal gue."
"Eh, tapi Lav." Dengan semangat, Ara memperbaiki posisi. Dia duduk bersila di ranjang, memandangi Lava dengan wajah berbinar. "Keluarga Satria tuh emang sebaik itu, ya? Gila! Mana good looking semua lagi anjir. Liat adeknya aja gue sampe insecure."
"Kan, gue udah bilang. Ayah sama bunda emang baik banget. Mau anak tetangga, anak orang, temen anaknya, atau anak yang baru pertama kali ketemu aja pasti disayang," jelas Lava. "Dan Syahnaz, ya itu adalah hasil dari sehari-hari sarapan omelan Satria yang selalu ngatain dia buluk padahal aslinya udah cakep, jadi lah anak itu mulai mau pake skincare sama belajar make up."
"Wah, gila emang si Satria."
"Cowok lu emang gila," sahut Lava tanpa dosa. "Eh tapi gila gila gitu juga, itu cara Satria menunjukkan kasih sayangnya. Tu anak kan gengsinya gede banget kayak bukit Himalaya. Satria gak bisa bilang sayang ke Syahnaz, makanya dia bakal terus-terusan gangguin Syahnaz cuma buat mastiin, kalo adeknya bales marah berarti dia baik-baik aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lava dan Luka
Ficção AdolescenteLava sadar bahwa dirinya selalu dinomorduakan. Tapi dia memilih menjalani hidup dengan bahagia daripada meratapi kesedihannya. Walaupun orang tuanya tidak pernah menganggapnya ada, toh Lava masih mempunyai saudara yang selalu ada untuknya, pacar yan...
