Ada beberapa alasan yang membuat seseorang harus tetap berjalan walau kakinya terluka parah dan nyaris patah. Sebagian dari mereka percaya bahwa berhenti melangkah untuk merawat luka hanya akan membuat rasa sakit itu terasa semakin nyata, sebab dia tetap berada di tempat yang sama. Sementara sebagian lainnya tetap melangkah walaupun harus tertatih, terseok, atau kembali terjatuh, sebab mereka percaya bahwa luka yang dibiarkan akan sembuh dengan sendirinya.
Entah kapan tepatnya —mungkin hampir satu tahun yang lalu, di tempat yang sama, Lava seolah-olah melihat bayangan dirinya yang sedang bertengkar kecil dengan Satria. Biasa, mereka adu argumen hanya karena satu hal yang sebenarnya itu tidak penting tapi cukup membuat Lava emosi. Satria putus dengan pacarnya. Alasannya? Sederhana. Satria bilang, "Capek ah gue pacaran sama Anggis, tu anak hebring banget, heran. Terus gue juga gak suka cara dia mandang lo, ngerendahin banget. Ya gue lebih milih berhenti pacaran sama dia yang baru gue kenal lima bulan daripada harus berhenti sahabatan sama lo."
Itu adalah putus terakhir Satria dan Lava kesal bukan main. Sebab Anggis adalah adik kelas idaman yang diincar banyak kakak kelas bahkan sampai alumni, sementara Satria yang berhasil mendapatkannya dengan mudah memutuskan untuk putus dengan gadis itu hanya karena dia tidak suka cara Anggis menatap Lava. Demi apapun, dia merasa bersalah pada adik kelas cantik itu.
Tapi mungkin Lava lupa bahwa kesal mampu berubah menjadi hal yang dia syukuri. Seolah setiap perasaan memang hanya dipisahkan oleh dinding tipis yang tak terlihat. Hari itu dia boleh mengutarakan semua kata makian pada Satria, tapi tiga hari kemudian dia berterima kasih lantaran Satria menemaninya mengerjakan tugas sampai malam tanpa harus terlibat dengan Anggis yang pasti akan menyulitkan mereka berdua.
Hari itu dia boleh bilang, "Harusnya lo prioritasin pacar lo, lah, Sat, bukan gue. Bodoh banget." Tapi hari ini, dengan hati yang getir, dia hanya mampu berbisik, "Seandainya gue lebih berani buat bilang kalo gue gak mau ada cewek lain yang lo prioritasin. Apa lo bakal tetep milih gue kayak waktu itu?"
Kendati demikian, Lava tetap memutuskan untuk terus berjalan. Melangkah perlahan penuh kehatian-hatian. Walau sudah tidak mempunyai tujuan pasti, dirinya tersadar bahwa dia tidak boleh berhenti begitu saja. Bumi tetap berputar dan waktu akan terus berjalan. Biarlah, biarlah takdir bermain sesukanya, dia tidak akan menyerah begitu saja. Lava akan tetap mengarungi hari walau ditemani awan kelabu dan tawa yang terdengar pilu.
"Lava, kok belum berangkat?"
Itu suara Sherly. Terdengar terkejut, dan mungkin saja Sherly memang betulan terkejut karena menemukan Lava masih lesehan sambil bermain ponsel. Padahal beberapa saat lalu Sherly mendengar suara motor Satria berlalu di depan.
"Satria barusan udah berangkat, kamu gak bareng dia?"
Dalam gerak lambat, Lava memperhatikan kakaknya. Dia menyadari bahwa tatapan mata dan ekspresi wajahnya tak pernah berbohong. Walau samar, tapi selalu ada rasa khawatir di sana. Entah apa yang sebenarnya Sherly khawatirkan. Kontras sekali dengan penampilannya menjadi lebih elegan namun tetap terlihat sederhana seperti biasa.
"Tu anak mau jemput gebetannya," kata Lava, terdengar sedikit tidak rela. Padahal barusan saat Satria mengabari sudah tiba di depan rumah, Lava lah yang berbohong bilang sudah berangkat dan malah menyuruh anak itu menjemput Ara karena mobilnya tidak mau menyala.
"Eh, terus kamu berangkat gimana?" Sekali lagi, Sherly bertanya. Walau sempat kalah, nyatanya yang lebih tua tak sekalipun berpikir untuk menyerah. Setiap harinya dia selalu berusaha memangkas jarak yang Lava ciptakan. Terus berjalan mendekat walau berkali-kali dia dibuat terjatuh, sampai akhirnya dia tiba di sini. Di sebuah tempat yang semakin dekat dengan Lava, hanya ada sebuah jurang kecil saja yang memisahkan mereka sekarang. Sherly bisa saja melompat dan menyebrang untuk menggapai Lava seutuhnya, tapi dia memilih untuk diam di tempatnya. Sebab jika dirinya nekat, bisa saja dia kembali terjatuh dan berjarak semakin jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lava dan Luka
Roman pour AdolescentsLava sadar bahwa dirinya selalu dinomorduakan. Tapi dia memilih menjalani hidup dengan bahagia daripada meratapi kesedihannya. Walaupun orang tuanya tidak pernah menganggapnya ada, toh Lava masih mempunyai saudara yang selalu ada untuknya, pacar yan...
