Huhu, Happy 1k viewers🥺🎉
Seneng banget bisa nembus 1k viewers di cerita Antaris ini. Mungkin bagi kalian yang udah senior, angka ini kecil. Tapi, bagi aku ini udah Alhamdulillah banget🥺🎉
Terimakasih buat kalian para readers yang selalu setia buat baca cerita ini, karena jika gak ada kalian, cerita ini gak bisa sampai angka ini🥺🎉
Happy Reading 💞
* * *
Kini, Aurora sedang berada di sofa ruang tamu sedang duduk sambil melamun. Ia masih kepikiran dengan ucapan Bella tadi saat di wc.
Arnold yang baru saja dari dapur langsung mendudukkan dirinya di samping Aurora. "Jangan melamun mulu, nanti kesurupan tahu rasa lo."
Aurora menoleh dengan tatapan kesalnya. "Apaan sih, ganggu mulu lo."
Arnold menyandarkan punggungnya. "Kenapa, lo?"
Aurora menghembuskan nafasnya pelan. "Gue masih kepikiran sama ucapan Bella tadi di wc, Bang."
Arnold mengangkat satu alisnya bingung. "Emang Bella ngomong apa?"
"Jadi ..."
Flashback on
Aurora yang sedang membasuh mukanya di wc, terganggu dengan suara seseorang yang sepertinya sedang telponan. Awalnya ia acuh, tapi, saat nama Antaris disebut-sebut, ia langsung bergegas menempelkan telinganya di dinding agar lebih jelas.
Dan bodohnya, ia baru menyadari bahwa yang sedang telponan itu adalah Bella.
"Belum, Bang. Tapi, nanti pasti Bella akan terus mencari titik kelemahannya Antaris."
Hanya itu yang bisa Aurora dengar. Kemudian, ia bergumam pelan, takut ketahuan oleh Bella.
"Kelemahan Antaris?" Aurora bergumam pelan. Ia bingung. Untuk apa Bella mencari kelemahannya Antaris?
Flashback off
"Gue masih bingung Bang, untuk apa coba Bella mencari kelemahan Antaris?" tanya Aurora bingung.
Arnold mengangguk-anggukkan kepalanya, setelah mendengar cerita dari Aurora. Ia berfikir. Apakah Bella mendekati Antaris hanya untuk mencari kelemahan Antaris doang? Bisa jadi, 'kan? Tapi untuk apa?
Aurora menatap kesal Arnold yang sedari tadi melamun. "Bang, ih. Gue nanya, jawab napa! Jangan ngelamun terus!"
Arnold langsung tersadar dari lamunannya. Kemudian, ia menyampaikan pada Aurora yang sedari tadi ia pikirkan. "Apa Bella mendekati Antaris itu hanya untuk mencari kelemahannya doang?"
Aurora berfikir. Bisa jadi, sih. Kalau enggak, ngapain tadi di wc Bella ngomong akan terus mencari titik kelemahannya Antaris?
"Bisa jadi sih, Bang," balas Aurora.
Arnold menyeringai saat sebuah rencana muncul di otaknya. "Kita harus cari buktinya dulu. Kalau udah ada, kita kirim ke Antaris. Pasti, mereka bakalan berantem hebat, kemudian putus."
Aurora tertawa jahat. "Rencana lo bagus juga, Bang."
Arnold menepuk dadanya bangga. "Iyalah. Jangan sebut gue Arnold, kalau enggak bisa ngehancurin hubungan mereka berdua."
Aurora bertepuk tangan. "Kayaknya, kita harus selalu ngintai Bella deh, Bang."
Arnold mengangguk setuju. "Iya."
* * *
Bella menghembuskan nafasnya pelan. Kini, Bella sedang berdiam diri di kamarnya sambil memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang Bella pikirkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTARIS [LENGKAP]
Novela Juvenil[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA! JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENNYA JIKA KAMU MENIKMATI CERITA INI!] "Anda datang dengan damai kami menyambut dengan segan. Anda datang dengan kericuhan, tunggu kami datang dengan kesarkasan." -anggota geng Adler. Antaris Al...
![ANTARIS [LENGKAP]](https://img.wattpad.com/cover/249195387-64-k371431.jpg)