61. Extra Part (III)

5.7K 257 25
                                        

Baru buka wattpad, pas liat votenya udah 2k lebih. Aaa makasih yaa buat kalian yang selalu senantiasa mem-vote cerita Antaris ini 🥺❤️

Jangan lupa vote, ya, bantu sampe 3k vote. Jangan pada sider, ya🥺❤️

Terimakasih ❤️

Happy Reading 💞

* * *

Kini, perut Bella sudah terlihat besar, karena usia kandungannya yang bertambah. Kira-kira, usia kandungan Bella sekarang sudah berusia enam bulan, membuat Antaris harus menjaga Bella lebih ketat lagi, takut istrinya itu kenapa-napa.

Antaris berjalan menghampiri Bella yang sedang bercermin sambil bersenandung kecil. Ia memeluk Bella dari belakang, sambil mengecup lembut pucuk kepala Bella.

"Aku lihat-lihat, hari ini kok kamu keliatan cantik banget, Bel?" tanya Antaris, sambil menatap Bella yang sedang tersipu melalui cermin.

Bella tersenyum malu, kemudian ia membalikkan badannya menghadap ke arah Antaris. Ia menatap Antaris, lalu mencubit pinggang Antaris pelan. "Setiap hari juga 'kan, aku mah selalu keliatan cantik, cuman kamunya aja yang baru nyadar."

Antaris terkekeh, kemudian ia mengacak rambut istrinya dengan gemas. "Pede banget, Bel."

Bella ikut terkekeh, kemudian ia memeluk pinggang suaminya dengan erat. "Aris, aku mau minta sesuatu sama kamu. Boleh?"

Antaris membalas pelukan Bella tak kalah erat. "Boleh. Kamu mau minta apa?"

Bella melepaskan pelukannya, kemudian ia mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya, seolah-olah sedang berfikir. Kemudian ia menjentikkan jarinya dengan matanya yang berbinar-binar.

"Aku mau bakso yang pedaaaasss bangettt," ujar Bella sambil menatap Antaris dengan mata yang berbinar.

Antaris menggeleng tak setuju. "Gak boleh. Kamu 'kan lagi hamil Bel, masa mau makan makanan yang pedas-pedas?"

Senyum di wajah Bella langsung pudar setelah mendengar ucapan Antaris barusan. "Ini anak kamu lho yang minta, Ris. Masa gak mau kamu turutin?"

Antaris menghela nafasnya berat. "Tapi aku takut kamu kenapa-napa, Bel."

Bella menggeleng, meyakinkan Antaris kalau dirinya tidak akan kenapa-napa. "Enggak bakal, Ris. Aku janji kalau aku gak bakal kenapa-napa, setelah makan itu."

Antaris menatap Bella. "Janji, ya?"

Bella mengangguk semangat sambil tersenyum cerah. "Janji!"

Antaris pun ikut tersenyum, kemudian ia kembali mengacak rambut Bella dengan gemas. "Ya udah, tunggu di sini, aku mau beli dulu baksonya."

"Emangnya gak bakal telat, Ris? Kamu 'kan harus pergi ke kantor," ujar Bella merasa tak enak.

Antaris menggeleng, kemudian ia tersenyum. "Hari ini aku gak mau ke kantor. Hari ini, aku mau ngabisin waktu sama istri aku yang cantik ini." Antaris tertawa pelan, kemudian mencubit hidung Bella.

Bella langsung memeluk kembali tubuh Antaris dengan erat. Ia sedikit terharu setelah mendengar ucapan Antaris barusan. "Makasih, Aris."

Antaris membalas pelukan Bella tak kalah erat juga. Ia mencium pucuk kepala Bella sedikit lama sambil tersenyum. "Iya, sama-sama, sayang."

Jantung Bella langsung berdetak tak karuan saat mendengar Antaris yang mengucapkan kata 'sayang' untuknya. Pasalnya, baru kali ini Antaris memanggilnya dengan sebutan 'sayang', setelah mereka menikah.

Antaris melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap Bella sambil tersenyum menggoda setelah melihat ada rona merah di wajah Bella. "Pipinya kok merah, Bel?"

Bella menutup kedua pipinya menggunakan kedua tangannya, sambil tersenyum malu ke arah Antaris. "Oh emm, anu ... ini tadi aku kasih blush on, makannya jadi merah gini."

Antaris mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia menatap Bella dengan tatapan menggoda. "Hm, sayang?"

Bella langsung mencubit pinggang Antaris, saat Antaris lagi-lagi menggodanya. "Antaris!"

Antaris terbahak, kemudian ia mencekal lengan Bella agar berhenti untuk mencubitnya. Ia mencium punggung tangan Bella sedikit lama. "Sama suami sendiri jangan malu-malu gitu, Bel. Kalau baper mah bilang aja baper."

Bella mencebikan bibirnya kesal. "Iya, aku baper! Puas, kamu?"

Antaris menggeleng dengan tampang polosnya. "Enggak. Aku gak puas, soalnya belum kamu cium."

Setelahnya, pukulan bertubi-tubi ia dapatkan dari Bella. Antaris kembali terbahak sambil berusaha menghindar dari pukulan Bella.

"Aduh, Bel. Iya-iya, maaf aku cuman bercanda, Bel."

Bella menghentikan pukulannya, kemudian ia menatap kesal ke arah Antaris. "Ya udah, sana beliin aku bakso!"

Sebelum pergi, Antaris terlebih dahulu mencium sekilas bibir Bella. Kemudian, ia langsung melarikan diri dari hadapan Bella sambil berteriak. "MAAF BEL, KELEPASAN."

Bella tersenyum, kemudian ia menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Antaris. Bella mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar, sambil terus tersenyum. "Lihat, kelakuan Ayah kamu, Nak."

Setelah menunggu beberapa menit lamanya, akhirnya Antaris datang sambil membawa satu kresek bakso di tangannya. Antaris menghampiri Bella yang sedang duduk sambil tersenyum ke arahnya.

Bella langsung merebut bakso itu dari tangan Antaris, kemudian ia langsung berlari ke arah dapur untuk mengambil mangkuk. Setelah baksonya dituangkan ke dalam mangkuk, Bella langsung memakan bakso itu dengan lahap. Antaris hanya tersenyum geli saat melihat Bella yang memakan bakso tersebut dengan lahap.

"Baksonya enak banget, Ris." Bella mengusap bibirnya yang belepotan menggunakan tisu yang ada di hadapannya. Kemudian, ia menggeser mangkuk ke hadapan Antaris yang masih tersisa setengahnya.

Antaris menatap bingung mangkuk di hadapannya, yang masih tersisa bakso setengahnya lagi. "Kenapa, Bel?"

"Aku mau liat kamu makan bakso itu, Ris," jawab Bella santai sambil tersenyum manis.

Antaris membulatkan matanya terkejut. Gak salah? Ia harus memakan bakso yang pedasnya nauzubillah ini? Antaris menampilkan wajah memelasnya dihadapan Bella. "Aku 'kan gak suka pedes, Bel."

Bella menunjuk perutnya. "Ini anak kamu yang minta, Ris."

Shit! Ia tidak bisa menolak, kalau Bella sudah mengatakan kata tersebut. Dengan terpaksa, ia mulai memasukkan satu potongan bakso ke dalam mulutnya. Antaris memejamkan kedua matanya, saat rasa panas dan pedas mulai terasa di dalam mulutnya.

"Sialan! Auto bulak-balik ke kamar mandi ini mah!" Antaris membatin.

* * *

"Aris, bangun." Bella menggoyang-goyangkan tubuh Antaris dengan pelan, berharap Antaris mau bangun.

Antaris membuka matanya sedikit. "Kenapa, Bel? Ini masih pagi, bobo lagi," suruh Antaris dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Bella menggeleng pelan, sambil melihat jam yang ada dikamar nya yang masih menunjukkan pukul 01:00 pagi. "Aku gak bisa bobo, Ris."

"Kenapa, hm?"

"Aku mau rujak buah Mang Udin," balas Bella pelan.

Antaris membelalakkan matanya terkejut. "Ini masih pagi, lho Bel. Mana buka Mang Udin jam segini."

"Tapi, aku mau rujak Mang Udin sekarang, Ris. Titik!" Bella menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil mengerucutkan bibirnya.

Antaris menghembuskan nafasnya lelah. Kemudian, ia bangkit dari tempat tidurnya. "Ya udah ayo kita pergi ke rumah Mang Udinnya langsung."

Bella tersenyum cerah. "Ayo!"

"Repot amat kalau punya istri yang lagi ngidam," batin Antaris menggerutu.

* * *

-To Be Continued-

ANTARIS [LENGKAP]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang