12

625 129 3
                                        

***

Suga tiba di Michigan dua minggu setelah ia bertemu dengan Lisa. Ia butuh waktu untuk mencari alamat Stephanie, sampai mengatur jadwalnya sendiri agar bisa menemui Stephanie. Begitu tiba di Michigan bersama seorang managernya, Suga terdiam di tengah-tengah bandara. Tidak ada yang mengenalinya di sana, terlebih karena kacamata juga topinya. Namun seolah ia tidak bisa melangkah, pria itu mematung di dekat pintu keluar.

"Hyung, bagaimana kalau Stephanie yang ku temui sekarang bukan Stephanie yang dulu?" tanya Suga, begitu tiba-tiba padahal dua minggu terakhir ini ia begitu bersikeras ingin bertemu lagi dengan Stephanie. "Bagaimana kalau Lisa ternyata salah? Bagaimana kalau Stephanie yang ia bicarakan, bukan Stephanie yang ku kenal?" ragu Suga, padahal sebelumnya ia bersikeras kalau Lisa tidak berbohong. Padahal sebelumnya ia yang memaksa agar diizinkan pergi ke Michigan. Meski semua orang telah melarangnya, Suga tetap bersikeras untuk pergi. Untuk melihat langsung dengan matanya sendiri apakah Lisa berbohong atau tidak.

"Kita sudah sampai di sini sekarang," balas jengah sang manager, yang tentu saja menolak keras perjalanan ke Michigan itu. "Datangi saja rumahnya, lihat dia, buktikan siapa yang benar Lisa atau CEO Bang, kemudian pulang. Meskipun dibohongi Lisa, setidaknya kau tahu kalau Lisa berbohong dan Stephanie sudah meninggal."

Setelah banyak perdebatan, juga keraguan, Suga akhirnya pergi ke alamat yang di dapatkannya dari Bang Sihyuk. Setelah berkendara selama hampir tujuh puluh menit, mereka akhirnya berhenti di depan sebuah rumah dua lantai. Rumah itu besar, dengan sebuah pohon ek di halamannya yang luas. Tidak ada pagar di sana, hanya ada tiga anak tangga di tengah-tengah berandanya.

Di sebelah rumahnya ada sebuah bangunan lain, mirip garasi atau justru gudang. Suga tidak bisa melihat ke dalam bangunan itu dari tempatnya duduk sekarang. Managernya sudah menawarkan diri untuk turun dan mengetuk pintu, namun Suga melarangnya. Suga ingin menunggu saja. Ia hanya ingin melihat dan memastikan dari jauh. Ia khawatir, ia akan tertipu ekspetasinya sendiri. Bagaimana kalau ternyata itu Stephanie yang salah? Suga benar-benar khawatir.

Sementara Suga ada di Michigan, Jiyong justru kedatangan tamu yang tidak ia undang. Nana datang ke apartemennya pagi ini, membuat Jiyong yang sebelumnya punya janji meeting dengan Lisa, Jisoo dan Rose harus menunda sebentar janji itu. "Aku tidak tahu harus pergi kemana," ucap Nana, membuat Jiyong terpaksa menerima Nana masuk ke dalam rumahnya.

Jiyong mempersilahkan Nana untuk duduk di ruang tengahnya, sedangkan ia berjalan ke dapur sembari mengusap layar handphonenya, hendak menelepon Lisa. "Halo? Lisa? Aku rasa aku akan terlambat hari ini," ucap Jiyong, sembari mengambil sebotol air mineral dari lemari es kemudian kembali ke ruang tengah dan memberikan air dingin itu pada Nana.

"Jisoo dan Rose sudah ada di sini sejak tadi," jawab Lisa, terdengar profesional. Ia enggan menunda pekerjaannya hanya karena pria yang membuatnya berdebar datang sedikit terlambat. "Kalau kau terlambat, aku akan memulai meetingnya lebih dulu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama, setelah ini aku harus mulai merekam dengan Jennie," ucap gadis itu, tanpa keinginan membuat Jiyong merasa bersalah.

"Hmm... Aku akan menyetujui semua keputusanmu," balas Jiyong yang setelahnya mengakhiri panggilan itu. "Ada apa? Kenapa kau ke sini?" tanya Jiyong, kali ini pada Nana yang datang berkunjung dengan pergelangan tangan terbalut perban.

"Oppa tidak pernah meneleponku kalau akan terlambat, oppa sudah berubah," komentar Nana membuat Jiyong menghela nafasnya. Lagi-lagi lingkaran setan itu di mulai lagi. "Aku sering melihat oppa berkunjung ke rumah depan. Oppa menjemputnya sampai ke depan pintu? Padahal dulu, oppa tidak seperti itu," susul Nana membuat Jiyong mengingat kata-kata Lisa saat terakhir kali mereka mabuk bersama.

Pagi itu, di rumah Lisa, di hari mereka mabuk bersama untuk pertama dan terakhir kalinya, Lisa berkata– it's okay to miss people, but don't forget why they aren't in your life anymore. Malam itu Jiyong tidak memahami ucapan Lisa, tapi tanpa pernah ia duga, hari ini ia memahaminya. Pagi ini, Jiyong mengingat alasan ia dan Nana mengakhiri hubungan mereka. Bukan karena Jennie, juga bukan karena Suga. Tapi karena Nana, juga karena Jiyong sendiri.

"Ku pikir, sekarang aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan padamu alasanku ke sana. Karena apapun alasannya, itu tidak ada hubungannya denganmu. Tapi, karena pagi ini kau datang ke rumahku, bukankah aku harus tahu alasanmu datang?" balas Jiyong, masih berdiri, sebab ia enggan untuk duduk di sebelah Nana.

Nana mengulurkan tangannya, menunjukan perban yang melingkar berantakan di tangannya. Bukan dokter yang sudah membalut perban itu, Jiyong bisa menyimpulkan begitu. "Kau harusnya pergi ke rumah sakit," ucap Jiyong, masih enggan menyentuh perban itu. Jiyong tahu kalau Nana datang agar Jiyong mau mengobati lukanya, tapi Jiyong tidak ingin terjebak lagi, Jiyong tidak ingin tenggelam dalam lingkaran setan yang sama sekali lagi.

"Kau butuh bantuan dokter," ulang Jiyong, terdengar begitu dingin.

"Tidak, aku hanya butuh teman, aku hanya butuh oppa," bujuk Nana. "Aku tidak akan berbohong lagi. Temani aku, hm? Aku takut... Sungguh."

"Kau ingin aku mengantarmu ke rumah sakit?" tanya Jiyong, namun alih-alih menyetujuinya, Nana justru berteriak, mengatakan kalau ia tidak cukup gila untuk layak di bawa ke rumah sakit.

Kini Jiyong ingat dengan jelas alasannya hubungan mereka berakhir. Sudah satu tahun sejak mereka putus dan sepanjang tahun itu juga Jiyong merasa kalau ia merindukan Nana. Mereka tidak seharusnya berpisah– pikir Jiyong selama beberapa bulan terakhir ini. Tapi pagi ini Jiyong yakin kalau keputusannya waktu itu sudahlah tepat. Jiyong tidak bisa mengatasi Nana, Jiyong tidak mampu untuk itu.

Mungkin bukan rindu yang selama satu tahun terakhir ini Jiyong rasakan. Mungkin itu rasa bersalah. Sebab Jiyong meninggalkan Nana disaat wanita itu membutuhkan seseorang yang bisa menolongnya. Nana terus mengancamnya, ia ancam Jiyong dengan nyawanya sendiri, hingga lama-kelamaan Jiyong menyerah. Ia tidak bisa terus hidup tekanan seperti itu.

Pagi ini, entah apa yang terjadi sebelumnya, Nana mengancam akan menyayat tangannya sendiri kalau Jiyong tidak duduk dan menemaninya di sana. Tentu saja pada awalnya Jiyong sempat panik. Namun ancaman itu bukan yang pertama kalinya. Jiyong sudah pernah menerima ancaman yang sama hingga ia mengingat ucapan Nana kala itu. "Aku tahu dimana aku harus melukai diriku sendiri agar tidak mati dan hanya terluka. Aku sangat mengetahuinya, karena aku sering melakukannya. Karena sesekali aku perlu melakukannya," ucap Nana waktu itu. Kata-kata yang amat mengejutkan Jiyong hingga kini ia ingat dengan jelas setiap katanya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dan meninggalkan Nana.

"Ada apa denganmu? Apa yang terjadi? Kenapa kau harus melakukan ini?" tanya Jiyong, yang jadi lebih tenang setelah ia ingat kalau Nana hanya menggeraknya. Nana tidak benar-benar berencana untuk mati.

"Oppa mencampakkanku karena wanita itu? Karena wanita angkuh itu?" desak Nana, mencoba menumbuhkan rasa bersalah dalam dada mantan kekasihnya. "Iya atau tidak, bukankah oppa seharusnya tidak membuatnya tinggal di depan mataku? Iya atau tidak, bukankah seharusnya oppa tidak menunjukannya padaku? Oppa sengaja berkunjung ke rumahnya agar aku cemburu? Agar aku sedih? Hanya karena aku pernah membohongimu satu kali, oppa ingin menyiksaku? Kenapa? Kenapa oppa tidak langsung membunuhku saja?" cerca Nana, membuat Jiyong akhirnya tidak bisa menahan emosinya lagi.

***

Sparkling SocietyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang