34 : Nightmare

567 93 25
                                        

"Kau boleh mengutuk kami, tapi kau juga harus makan. Kau mengunci kamarmu seharian kemarin."

Ada dua ikan dikelilingi kacang polong di meja riasku. Matanya terbelalak mengerikan, bola matanya seperti berusaha melompat dan memukul siapapun yang sudah memasak tanpa menutup kelopak itu.

"Mereka tidak seburuk yang kelihatannya, Amy." Shotaro membuatnya terdengar menjadi lebih tidak meyakinkan.

Tidak.
Iya, ikan ikan ini memang tidak buruk. Hanya menakutkan.

"Menakutkan." sanggahku.

"Uhm, " Shotaro terdengar seperti sedang berpikir, "Sebetulnya jika kau melihat dari sudut pandang yang sama denganku mungkin itu sedikit berlebihan. Tuan Yuta sangat peduli dan Jaehyun sangat baik."

Aku mendongak sebal pada pemuda yang berdiri di sebelahku. "Aku sedang membicarakan ikannya."

Nama itu lagi.
Sudah beratus-ratus kali aku meyakinkan diriku semalam suntuk agar tetap tenang mendengarnya hari ini. Agar tidak mengulang lagi kemungkinan 'bagaimana jika Jaehyun sebenarnya' yang aku kira dengan memikirkan itu bisa membuatku terlelap dan keesokan harinya secara magis terbangun di kamar apartemen monotonku di Ibu Kota alih-alih mataku malah terasa pedih.

"Oh! Aku- tidak tahu, aku seharusnya tidak ikut campur. Apa kau mau aku mengganti makanannya?" Shotaro menyarankan.

"Tolong." Kataku dan menambahkan, "Jika kau punya roti dan selai itu sudah cukup."

Shotaro mengangguk sambil tersenyum. Ingin rasanya aku bertanya apa dia mempunyai kebiasaan tersenyum ketika tidak perlu dan bermuka masam ketika aku bersikap sopan. Semua orang disini menyebalkan.

Setelah makan, aku membuka tirai dan melihat melalui jendela mati dengan kaca anti peluru berukuran panjang satu meter setiap sisinya. Melihat keluar, kebun luas yang mungkin tadinya indah sudah dipangkas gundul menjadikan itu sebuah lapangan hijau kosong.

Ada ketukan di pintu.
Ini waktunya sesi pengembalian ingatan, yang sangat aku tunggu-tunggu serta yang paling aku benci.

Benci bertemu dengan 'dia'.

Seperti tau jalan didepan, walaupun musim panas itu masih disana tapi seseorang sudah menghancurkan kebun bunga daisy-nya. Dan aku hanya gadis kecil berpita biru yang kehilangan tempat bermain diantara kelopak-kelopak yang terinjak di tanah.

"Aku harap kau siap sekarang." kata Jaehyun memecah lamunanku, tanganku di kenop dan pintunya sudah aku buka tanpa aku sendiri menyadari.

"Ya-" ucapku menggantung dan segera memotongnya. Entah apa yang aku harapkan dengan melanjutkan basa-basi untuk menarik perhatian pemuda itu.

Putar otakmu Amy, Jaehyun hanya bersandiwara selama ini! Tidakkah kau malu?

Aku mundur ketika Jaehyun melangkah masuk untuk menutup pintu. Dia memegang HT dengan alat komunikasi earpiece terpasang di telinga kanan,  lebih terlihat seperti kelompoknya. Dia memang selalu menjadi seorang Pemberontak, aku lah yang terlalu berharap.

"Dimana Yuta?"

"Sibuk." Jaehyun menjawab terlalu cepat seperti berbicara sembarangan sembari memutari, mengamati kamarku. "Kau ingin bicara padanya?"

Mr. Midas | NCT Jaehyun [BAHASA]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang