4 : INQUISITOR

3.1K 536 18
                                        

"Oh iya, di stasiun. Kau tampak begitu-hmm bagaimana ya mengatakannya," Jaehyun kini menopang dagunya menggunakan satu tangan. Tangan yang lain perlahan menyentuh helaian rambut Amy disisi kepalanya. Lambat laun menyapu beberapa helaian yang kusut sampai Amy yakin Jaehyun sedang membelainya."Istimewa." Jaehyun melengkapi.

Dentuman itu datang lagi sampai-sampai ia kira belasan speaker tak kasat mata di situ mengeluarkan bunyi detak jantungnya. Gadis itu menolak menatap intimidasi di mata Jaehyun, menolak melawan cengkraman kendur di kedua tangan yang terlipat di belakang punggungnya, tenaganya payah nafasnya pun berat di atas meja.

Tenang Amy, tenang.

"Bagaimana?" sahut si pemuda kota.

"Ikuti saja rencananya." Jaehyun mengangkat diri, mengelap sisa gelas bersih yang tadi belum sempat dia sentuh. "Lagi pula, kita harus saling memahami dulu, betul tidak?" ia tersenyum pada gelas di depan matanya yang kemudian ditaruh berjejer dengan berbagai macam gelas lain pada rak desain.

"Itu bagian mu. Semoga cewek ini keberuntungan kita."

"Kau tahu, aku punya feeling yang bagus." timpal Jaehyun.

"Hmm, mungkin." jawab si pemuda kota sembari menilai Amy, bola matanya juga hitam sehitam rambutnya, bentuk mukanya yang lonjong membuat karisma pemuda itu semakin kuat. Ia mempunyai suara yang jauh lebih ringan daripada Jaehyun tapi nada nya ketus sekali.

Ada banyak rencana untuk melarikan diri yang Amy pikirkan di kepalanya, rencana itu pasti menguras seluruh tenaga maka dari itu ia harus tenang dan perlu memutuskan waktu yang tepat dalam situasi yang kurang menguntungkan seperti sekarang. Amy melihat Jaehyun melepas celemek coklat yang lalu digantungkan di belakang lemari pendingin disudut konter, searah dengan pandangannya, gadis itu bisa melihat tangan Jaehyun menghilang dibelakangnya lalu muncul lagi dengan jaket jeans coklat terang corduroy senada dengan kilau keemasan pada warna cinnamon rambutnya. Dia kira semua orang-orang di kawasan ini berpenampilan kotor, tapi tidak dengan beberapa diantaranya. Jaehyun dan pemuda dibelakangnya adalah sebagian kecil contoh. Amy tanpa sengaja memandangi laki-laki itu memakai jaketnya yang kemudian bertemu tatap sebentar sebelum Amy mengalihkannya.

"Kalian mau apa?" tegas Amy tiba-tiba pada keduanya.

"Mengantar mu." ujar si pemuda kota yang dengan serentak itu juga mengangkat bahu Amy membuat gadis didepannya berdiri lalu berjalan ke arah lorong di samping konter bartender dengan Jaehyun mengikuti di belakang.

Niatan Amy untuk berteriak minta tolong lalu bermain tuduh menuduh bak dirinya diculik lenyap seketika waktu beberapa pengunjung pria dan wanita menyapa kedua pemuda sepanjang lorong, entah mereka lebih mengenal siapa diantara Jaehyun dan pemuda berambut hitam tetapi yang jelas dirinya bagaikan ikan tuna besar hasil tangkapan yang membuat kedua pemuda itu dipuji.

"Kerja yang bagus!"

"Lumayan juga."

"Cewek ini punya uang tidak?"

"Hubungi aku jika kau tidak memerlukannya, dia benar-benar cantik!" Amy melemparkan tatapan pedas pada si pengomentar yang satu ini. "Dia galak ya, aku suka." tambah pria berjenggot tebal di sepanjang lingkaran dagunya.

"Maaf, cewek ini bersama kita." kata Jaehyun membela dengan nada hambar.

Yah, begitulah kira-kira.

Mereka bertiga hampir sampai di pintu merah yang melengkung pada sudut atasnya, di ujung lorong.

"Demi Tuhan aku tidak tahu apa-apa, aku hanya ingin pulang ke ibukota. Kalian salah tangkap!" Amy bersikeras, jalannya diberatkan ketika pemuda berambut hitam disebelah Amy terus mendorong bahunya maju menuju pintu itu.

Mr. Midas | NCT Jaehyun [BAHASA]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang