Orang-orang di jalan sedang memandangi dirinya, tatapan mereka mampu meruntuhkan sikap acuh tak acuh dalam diri Amy. Gadis itu merasa pipinya menghangat lebih dikarenakan pandangan intens mereka.
Sesaat lalu, dia berada di tengah kerumunan orang yang ia yakini telah mengguyur tubuh mereka dengan berbagai macam merk parfum, bau nya menyayat hidung, mengganggu sekali. Disini mereka semua memakai kain lusuh hingga berwarna kecoklatan, padahal beberapa mil ke arah ibukota ada pakaian bersih dan bagus. Ironis sekali. Pantas saja dirinya menjadi pusat perhatian.
Gadis itu setengah berlari menggengam ponsel ditangannya, mencari tempat tenang dimana ia bisa, setidaknya, merasa tidak terlalu menonjol. Bau asap, tembakau bercampur dengan debu dapat dihirup disepanjang penjuru reruntuhan kota meskipun masih ada sisa-sisa salju di atas tanah yang kering. Amy sudah jauh meninggalkan gelapnya stasiun bawah tanah di belakangnya. Di tempat ini matahari bersinar lebih terik dari ibukota, seharusnya beginilah gambaran akan musim semi, hangat. Ia berjalan mengikuti bayang-bayang tembok gosong rumah-rumah penduduk yang sudah tidak beratap. Mengurangi intensitas tereksposnya pakaian hitam legam yang dikenakannya. Sesekali ada anak kecil yang sedang berlarian berhenti untuk menatapnya dalam-dalam sebelum menunjuk-nunjuk dirinya menggunakan jari-jari kecil mereka. Amy hanya melihat pancaran mata keanehan, ke tidak nyamanan, kemarahan, entah apa itu. Tudingan anak-anak kecil tadi tajam mengenai seluruh tubuhnya, Amy merasa harus segera menemukan tempat bersembunyi.
Tidak lama Amy melihat tanda bar di tembok persimpangan beberapa meter jauhnya dari tempat ia berdiri.
Oh Tuhan, terimakasih.
Ia sudah benar-benar ingin menggeledah isi ponsel Lucas, ingin bertemu Mark, terlalu ingin beranjak dari area ini. Tapi memeriksa alat komunikasi hasil rampasan di pinggir jalan terlalu beresiko, tidak dengan semua pasang mata yang memindainya dari ujung rambut ke ujung kaki. Dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang area ini. Banyak kemungkinan buruk bisa terjadi, terlebih lagi dia seorang diri.
Amy masuk ke area depan bar, tidak ada seorangpun atau penjaga di depan pintunya, lagi-lagi ia merasa beruntung. Sebelum melangkah lebih dalam lagi, ia memutuskan untuk menutupi dirinya dengan mantel lusuh oranye pudar yang ia temukan di sandaran kursi kayu yang terletak di sudut ruangan sementara mantel hitamnya ia sembunyikan di salah satu rak kosong di meja sebelahnya. Well, belum terlalu terlambat untuk merubah kode pakaian di pesta dansa.
Di dalam sudah ada beberapa laki-laki berumur memegang bermacam-macam minuman, rokok maupun gadis-gadis muda di tangan yang lain. Musiknya belum dinyalakan tetapi suasana cukup riuh. Terlepas dari perabotan-perabotan mahal produksi perusahaan ternama serta bentuk ruangan yang dibanggakan oleh arsitektur muda sampai menjadi bahan berita di koran ibukota, semuanya nampak sama seperti layaknya bar disana. Amy mencari spot aman untuk memeriksa ponsel Lucas, gadis itu berjalan ke sudut ruangan, mantel kumuh ini benar-benar menyamarkannya.
Amy menelan ludah. Dia tahu tidak seharusnya dia berbuat begini, tidak dengan perintah Mark. Tapi ada yang aneh satu tahun ini dan ia ingin tahu apa. Jika Mark tidak mau melibatkan dia, maka dia harus mencari tahu sendiri.
Dimulai dari pesan, kotak masuk, kotak keluar, draft, email.
Nihil.
Amy memeriksa panggilan keluar dan masuk.
Nihil.
Kontak juga kosong, tidak ada satu id-pun didaftarnya. Panggilan cepat, tidak tersambung. Jari jemarinya menggeledah setiap kemungkinan adanya informasi tersimpan yang bisa menghubungkan dirinya dengan Mark. Kalender, kosong. Amy tidak menghiraukan kaki-kakinya yang mulai kelelahan berdiri. Oh! Mungkin, GPS. Gadis itu meretas daftar riwayat GPS baru-baru ini, tapi tidak ada tampilan apa-apa. Tidak ada informasi tentang sesuatu sekalipun.
"Sialan!" Amy mengumpat kesal. Ingin sekali rasanya membanting ponsel dalam genggamannya itu. Gadis itu sudah kehabisan akal. Kerongkongannya kering persis seperti akal di kepalanya. Ia menyerah. Amy sedang berpikir bagaimana caranya ia kembali ke ibukota. Kereta ke luar area perbatasan hanya sekali seperti hal nya masuk ke kawasan ibukota. Itupun kereta yang sama yang mengantarkan penduduk luar yang sedang berurusan dengan para petinggi pemerintahan, setelah mereka selesai maka kereta itu juga yang mengantar mereka keluar, ke area zona perang. Jika ia ingin kembali, maka ia harus menunggu kereta besok pagi-pagi sekali. Amy mulai menyesali tindakan cerobohnya tadi, melarikan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Midas | NCT Jaehyun [BAHASA]
Fanfiction[ HIGHEST RANK] #1 PROMOTEYOURSTORYINA ;Oct 2018 #1 DYSTOPIAN ;Oct 2018 #2 NCTFANFIC ;July 2018 #3 CRIMINAL ;May 2018 #31 JUNGJAEHYUN ;May 2018 Midas (bahasa Yunani: Μίδας) adalah salah seorang raja dalam mitologi Yunani. Dia adalah figur yang terke...
![Mr. Midas | NCT Jaehyun [BAHASA]](https://img.wattpad.com/cover/140844717-64-k867281.jpg)