13 : Secrets And Lies

1.9K 302 24
                                        

flashback

Gadis kecil berdiri di depan beranda kamar yang sudah beberapa hari ia biasakan diri untuk merasa nyaman. Bukan rumahnya, sama sekali tidak berada dalam kawasan yang ia kenal. Takdir yang membawanya kesitu.

Tangan-tangan kecilnya memegang tepian tembok pagar putih yang mempunyai ukiran setinggi dada kembang kempis yang berhasil ia tenangkan. Amy kecil habis menangis. Matanya berat. Punggungnya masih perih. Mungkin gara-gara luka itu.

Perasaan sedihnya sedikit demi sedikit terbang, menghilang, sudah di tiup angin seperti keliman baju tidur putih yang ia pakai, kainnya berkibar pelan di sebelah dua mata kaki Amy. Bukan hanya sekitarannya yang asing, Amy merasa dirinya sendiri adalah orang asing.

Ia bergelut dengan fatamorgana ayahnya yang memakaikan pita biru dan mengajak jalan-jalan ke taman hiburan, itu baru kemarin.

Kemarinkah?

Kini yang ia tahu, tak satupun dari orangtuanya hidup untuk memeluknya lagi.

Entah sudah berapa lama ia berdiri seperti itu sampai-sampai ia tidak sadar ada anak lelaki-yang terus-terusan menghawatirkan keadaannya semenjak Amy pindah kerumah itu-sedang berdiri di samping Amy. Sejak hari itu, hari dimana ada keputusasaan, kepedihan yang dalam di hatinya, dimana sang hitam tertawa dengan bibir merah menyala dan langit menangis abu.

"Mau kuceritakan sesuatu yang mungkin bisa menenangkanmu sedikit?" kata anak lelaki disebelah Amy.

Dia bersandar pada pagar tembok putih dengan punggungnya yang hanya dengan melihat itu saja rasa perih di punggung Amy dirasa semakin terbakar. Sudah lama Amy tidak bisa tidur terlentang.

Amy tidak menjawab. Ia takut jika ia mengeluarkan suara, ia akan mulai menangis lagi. Dadanya sudah cukup sesak.

"Aku berjanji pada seseorang untuk pulang cepat hari itu. Karna aku mempunyai sepeda baru, dan aku ingin sekali memamerkannya pada teman-temanku makanya aku pergi pada hari spesial itu. Ayahku membelikan sepeda baru, tepat pada hari ulangtahunku, dua hari yang lalu. Dan aku tahu aku terlalu bersemangat sehingga aku lupa akan janjiku."

Amy menoleh, anak lelaki itu tersenyum pada Amy. Namanya Mark.

"Sudah hampir gelap, aku baru teringat akan janjiku. Lalu aku mengayuh sepadaku seperti orang gila. Kau tahu, aku senang sekali ketika angin menerpa wajahku. Udaranya mengisi paru-paru, wah...benar-benar asik. Aku masih ingat. Nanti sesampainya dirumah, aku akan minta maaf pada seseorang itu. Aku benar-benar keasyikan melihat teman-temanku iri dan ingin meminjam sepedaku. Belum terlalu gelap hari itu, jadi ketika aku menuntun sepada memasuki halaman rumah, aku masih melihat seseorang itu berdiri di sana. Di dalam rumah. Dia menungguku pulang.-Aku mempercepat langkahku hingga tangga beranda, lalu melepaskan sepedaku begitu saja. Karena aku melihat sesuatu. Sesuatu yang aneh, sesuatu yang lebih penting daripada sepeda baruku. Makanya aku masuk dan memastikannya dengan mata kepalaku sendiri."

Mark sudah mendapatkan seluruh perhatian Amy. Tapi jika semua ini tentang menceritakan lagi lukanya, luka Mark, hal itu akan selalu menjadi senjata makan tuan yang sebisa mungkin Mark sembunyikan.

"Belum sempat aku memanggil seseorang itu, bahwa aku ingin bilang, aku sudah dirumah, aku sudah pulang, maaf karena aku bermain terlalu lama. Dan yang terjadi setelahnya, aku melihat seseorang itu jatuh kebawah, ke lantai. Yang bisa aku ingat setelahnya yaitu lantainya basah, disana, ditempat dia terjatuh." Mark mengambil nafas dalam-dalam. "Aku melihat lelaki itu berdiri terpaku dengan wajah seram, ada pistol yang mengeluarkan asap di genggamannya. Dia itu lelaki yang memberiku sepeda baru-aku melihat-ayahku membunuh ibuku, pada hari ulangtahun ibuku." Mark mengambil nafas panjang. "Lalu setelahnya, dia pergi dengan beberapa orang lagi. Dia pergi meninggalkan ku. Pergi bersama komplotannya, orang-orang teroris."

Mr. Midas | NCT Jaehyun [BAHASA]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang