"Mampus, putus. Makanya kalo pacaran tuh jangan bucin!" ledek Ariel.
"Oke, mulai hari ini lo jadi pacar gue." -Zeva
"Hah? Ngaco lo!"
"Pacar boongan, woy! Jangan kegeeran."
Ini adalah kisah tentang sang Scorpio dan Virgo yang sifat dan kehidupann...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesampainya di depan pintu apartemen milik Ariel, segera Zeva mengetikkan passwordnya yang ternyata masih sama seperti beberapa minggu yang lalu. Ya pokoknya sebelum hubungan pura-puranya sama Ariel kandas.
Pintu pun terbuka otomatis. Anehnya, kenapa suasananya gelap sekali? Zeva tidak melihat gorden yang terbuka, belum lagi lampu yang tidak menyala membuatnya terheran-heran.
Sembari mencari saklar lampu, Zeva bergumam, "Ini tumben banget gelap-gelapan. Si Ariel yang notabenya cowok boros ya masa sih lagi ngirit listrik? Apa jangan-jangan dia belum bayar tagihan listrik? Alah ngaco banget sih gue, masa anak dari pemilik yayasan Adhitama gak mampu bayar listrik. Emangnya gue huh, harus serba hemat demi kelangsungan hidup di dunia yang kejam ini." Cewek itu malah curhat.
Setelah lampu ruang tengah menyala, dia masih tidak menemukan sosok yang dicarinya di sana.
"Emang si Ariel beneran lagi sakit ya? Kok perasaan gue gak enak?" Ia masih terus melangkah menyusuri apartemen itu dengan dahi yang berkerut, penuh tanda tanya. "Apa jangan-jangan si Bar-Bar cuma mau ngeprank gue?!" Tiba-tiba saja Zeva membukatkan kedua matanya kala memikirkan hal itu.
"Bego banget gue. Si Bara dipercaya. Udah tau tu cowo suka banget ngibulin orang."
Gadis itu menghentikan langkahnya di depan kamar Ariel. Ia terlihat sedang merenungkan sesuatu. "Lah kenapa juga gue peduli? Si Ariel kan bukan siapa-siapa gue?" Ujarnya seraya memukul kepalanya pelan.
"Iya sih gue emang dari dulu juga gak ada hubungan apapun sama dia. Tapi kenapa hati gue berkata lain? Gue gak bisa nyangkal kalo gue... Ah apa ya namanya? Tau ah. Pokoknya gue kangen sama lo, Pio."
"Kalo mau bilang kangen masuk aja kali. Ngapain bilang kangen di pintu kamar gue? Ga guna."
Sontak Zeva terkejut saat mendengar sahutan seseorang dari dalam kamar. Lebih tepatnya itu suara Ariel. Bukan. Zeva bukan ingin mengode apa pun. Ia tadi hanya berkata asal saja, karena mungkin Ariel sedang tidak ada di sana.
Mampus. Mau dikemanain muka gue di depan si Pio?
Daripada menanggapi dengan rasa malu. Zeva malah berniat untuk pergi saja, perlahan dia berjalan dengan mengendap pelan agar tidak ketahuan.
"Gue tau lo pasti mau pergi 'kan? Kalo dipikir-pikir sayang ongkos gak tuh?"
Zeva tertohok dengan perkataan Ariel barusan. Memang sih, sayang ongkos kalau ia langsung pergi begitu saja. Tapi rasa gengsinya ituloh selangit.
Ariel kembali menyahut dari dalam kamar. "Kalo mau minta ganti buat ongkos masuk aja. Gak gue kunci pintunya."
Cewek itu pun berputar arah seraya menutup matanya sebentar. "Oke, meskipun gue emang orang gak punya. Gue gak akan minta ganti ongkos ke dia. Ya kembali ke tujuan awal gue, gue cuma mau mastiin keadaan dia doang."